|
F A N A ( Tulisan terakhir ) Adanya "langkah pelampauan" sampai pada satu titik dimana
tauhid (penyatuan) bisa dicapai, terungkap dalam pernyataan Nabi Ibrahim as. di
dalam surat Al An´am yang secara metaforis diungkapkan dalam bentuk bintang,
bulan, dan matahari. "Dan
demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi, dan
supaya ia termasuk orang-orang yang yakin. Maka
tatkala malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) ia berkata,
"Inilah Tuhanku". Maka tatkala bintang itu hilang dia berkata, "Aku tidak suka
kepada yang hilang". Kemudian
tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, "Inilah Tuhanku". Maka tatkala
bulan itu terbenam dia berkata, "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberikan
petunjuk kepadaku niscaya aku termasuk kaum yang sesat". Kemudian
tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, "Inilah Tuhanku, ini yang
lebih besar!" Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata, "Hai kaumku,
sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan". ( Surah
Al-An´am [6] : 75-78 ) Bintang -metafora pertama- melambangkan petunjuk
atau cahaya indera seseorang yang mencari ilmu atau pengetahuan tentang
kebenaran melalui sarana indera. Dahulu para pelaut menjadikan bintang-bintang
di langit sebagai petunjuk arah ketika mereka berlayar. Bintang tak ubahnya
seperti cahaya panca indera dalam diri manusia. Namun dengan cahaya indera ini
seseorang takkan bisa mencapai kepada hakikat Ilahiah. Metafora kedua -bulan- adalah simbol cahaya akal. Dengan akal
yang dibimbing oleh petunjuk atau cahaya syariat seseorang dapat dekat pada
kebenaran dan kebajikan. Dengan cahaya akal ini seseorang dapat mengungkap
rahasia-rahasia Ilmu Allah, yang dapat ia buktikan dan saksikan lewat fenomena
alam. Dan keadaan ini akan membawanya kepada keyakinan yang lebih jauh terhadap
kebenaran, meskipun dengan cahaya ini seseorang belum juga sanggup mencapai
makrifat hakiki akan Tuhan. Matahari -metafora ketiga- melambangkan cahaya
Suci atau cahaya Al Haqq yang
menerangi hati manusia, sehingga seseorang yang mengalami keadaan ini
memperoleh limpahan atau pelekatan sifat-sifat Allah ke dalam dirinya. Lewat
cahaya Suci ini seseorang mengalami penyingkapan hati dan mata batinnya
menyaksikan supremasi Tuhan dalam kekuasaan dan ilmu-Nya. Akan tetapi pada
gilirannya keadaan ini menunjukkan keberagaman (katsrah). Dalam cara yang sama,
keberagaman dapat dilihat pada gagasan mengenai "tempat bersandar" dan "yang
bersandar", atau pada "yang Ridha" dan "yang diridhai". Dan ini menunjukkan
adanya jarak antara keberagaman dan tauhid (kesatuan). Keadaan ini sebagaimana dinyatakan Nabi Ibrahim as.
sendiri, Inikah Tuhanku? Pernyataan dalam bentuk pertanyaan ini muncul pada
tiga waktu yang berbeda, suatu pertanyaan yang sebenarnya bertujuan untuk
menyatakan pengingkaran. Maksudnya, seolah-olah Nabi Ibrahim as. berkata, "Ini
adalah sesuatu yang diciptakan, suka terbenam dan hilang, lalu pantaskah ia
menjadi Tuhanku dan Tuhan sekalian alam? Tidak, demi Allah, ini tidaklah
mungkin. Ini bukanlah Tuhanku dan Tuhan sekalian alam, tetapi ini semua
perwujudan dari hakikat Tuhanku. Atau ia bisa juga mengatakan, "Apakah dengan
cahaya panca indera, cahaya akal, dan cahaya Suci (cahaya Al Haqq). aku akan jadi tahu Tuhanku? Tidak, demi Allah, ini
tidaklah mungkin Bahkan kita takkan pernah bisa mengenal-Nya kecuali dengan
melintasi dan melampaui tiga cahaya itu. Sebab tak mungkin mencapai makrifat
hakiki akan dzat-Nya, kecuali dengan dzat-Nya. Disebutkan Nabi saw. bersabda, "Aku telah mengenal Tuhanku melalui Tuhanku".
Perumpamaan seseorang yang berusaha mencapai makrifat Tuhan dengan menggunakan
cahaya Suci adalah seperti orang menyaksikan matahari dengan cahaya matahari.
Jelas bahwa yang disaksikannya benar-benar matahari dan cahayanya yang tersebar
ke seluruh penjuru arah, sekalipun penyaksiannya masih membedakan antara
penyaksi (cahaya matahari) dengan yang disaksikan (matahari itu sendiri) -bukan
penyaksian ke-esa-an murni akan Tuhan. Makna mendalam yang ingin diungkapkan di sini adalah bahwa
seperti halnya orang baru bisa melihat matahari dan cahayanya setelah ia
menghubungkan diri dengan matahari -berdasarkan kesucian dan cahaya- begitu
pula, orang baru bisa menyaksikan Yang Maha Nyata setelah berupaya menjalin
hubungan antara dirinya dengan Dia, dengan cara membebaskan diri dari selain-Nya
dan membenarkan keagungan-Nya secara mutlak di atas semua ciptaannya. Ketika Allah mengungkapkan diri-Nya (tajalli) atau dzat-Nya ke dalam
hati seorang hamba, maka yang diungkapkan adalah esensi-Nya, yaitu berupa
nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya -bukan wujud-Nya yang mutlak. Sebab wujud-Nya
yang mutlak sesungguhnya tidak bersifat atau tidak terlukiskan sama sekali.
Dzat-Nya adalah Wujud Mutlak, yang ke-esa-an-Nya tak lain adalah dzat-Nya
sendiri, sedangkan apapun selain wujud-Nya adalah ketiadaan mutlak. Tajalli dalam bentuk nama-nama-Nya dan
sifat-sifat-Nya harus dipahami sebagai keadaan dimana wujud-Nya memberi
identitas atau memberi sifat kepada esensi-Nya. Sehingga lewat nama-nama-Nya
dan sifat-sifat-Nya itu Dia dapat disaksikan. Jadi Esensi menjadi tumpuan atau
pijakan Wujud. Dengan kata lain, pengungkapan ke-esa-an Allah ke dalam hati
seorang hamba, adalah pengungkapan diri Yang Maha Nyata dari kehadiran
ke-esa-an dzat-Nya yang mutlak -tanpa ada sifat atau lukisan apapun yang dapat
melukiskannya- ke kehadiran ke-esa-an-Nya yang terlukiskan oleh sifat-sifat dan
nama-nama-Nya sebagaimana Dia informasikan di dalam Al Qur´an dan Sunnah. Coba
perhatikan dengan baik kalimat terakhir ini, karena dengan memahami ini akan
memudahkan pemahaman kita selanjutnya. Pengungkapan
diri-Nya ini juga menandai munculnya sifat-sifat mengetahui dan menerima
dari-Nya, sebab berbagai hakikat (di dalam ilmu-Nya) yang tersembunyi di balik
ke-esa-an dzat-Nya yang mutlak, merupakan obyek pengetahuan-Nya, dan yang
menerima pelimpahan wujud ke alam nyata (fenomenal) -dimana hati seorang hamba
mengalami penyingkapan (kasyf). Gambaran keadaan ini dapat kita lihat dalam surat Al A´rf [7] ayat 172, "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menjadikan keturunan Bani
Adam dari tulang sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian atas diri (nafs)
mereka, "Bukankah Aku ini Rabb (Tuhan)-mu?". Mereka menjawab, "Betul, kami menjadi
saksi". Yang demikian supaya kamu tidak mengatakan di hari kiamat,
"Sesungguhnya kami lalai tentang hal ini". Inilah keadaan dimana jiwa
(nafs) menyaksikan kehadiran-Nya (Rabb),
yang adalah bentuk-bentuk rasional dari nama-nama-Nya atau kehadiran
ke-esa-an-Nya yang tersifati oleh nama-nama-Nya. Sebagaimana kita tahu kata rabb mengacu pada pengertian; pencipta,
pengatur, pemelihara dan pendidik. Dengan demikian, hakikat-hakikat di dalam
ilmu-Nya yang tadinya tersembunyi di balik ke-esa-an dzat-Nya yang mutlak (di
alam non-eksistensi) kemudian aktual dan mewujud dalam alam fenomenal. Namun demikian, sekali lagi, keadaan ini menunjukkan jiwa (nafs)
yang menyaksikan lewat mata hati yang mengalami penyingkapan (kasyf),
dan bukan kemusnahan (fana) di dalam-Nya. Begitu pula apa yang
disaksikan adalah, kehadiran ke-esa-an-Nya dalam perwujudan-perwujudan yang
beragam (sifat-sifat dan nama-nama-Nya), dan bukan kemanunggalan dan
kemandirian dzat-Nya yang mutlak (hilangnya selubung-selubung kemegahan Ilahi
dan kekuasan-Nya, atau yang dalam istilah Mulla
Shadra disebut, "Perbedaan Wujud kembali kepada persamaannya"). "Semua yang ada di bumi ini akan binasa. Dan tetap
kekal wajah Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan". (Surat 55 : 26-27) Kemusnahan (fana) di
dalam-Nya, diisyaratkan di dalam surat Al A´rf [7] ayat 143, yang secara
metaforis diungkapkan dengan pecahnya bukit dan pingsannya Nabi Musa as. "Dan tatkala Musa datang untuk (munajat kepada Kami)
pada waktu yang telah Kami tentukan, dan Tuhan berkata-kata dengannya, Musa
berkata, "Ya Tuhanku, perlihatkanlah (diri-Mu). "Tuhan berfirman, "Kamu tidak
sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap
ditempatnya, maka nanti kamu akan dapat melihat-Ku. "Maka setelah Tuhan
memperlihatkan (kebesaran) diri-Nya di bukit itu, Allah menjadikannya pecah dan
Musa jatuh pingsan. Setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Mahasuci Engkau,
aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama-tama beriman". Ketika Allah memperlihatkan kebesaran-Nya di bukit
itu, ini mengungkapkan kehadiran ke-esa-an-Nya dalam sifat-sifat dan nama-nama-Nya
(perwujudan yang beragam) yang dapat disaksikan oleh hati yang mengalami
penyingkapan. Dan saat bukit itu pecah (Allah yang menjadikannya pecah), itu
menunjukkan musnahnya selubung kebesaran-Nya, kembalinya keragaman kepada
ketunggalan dan kemandirian dzat-Nya yang tak bersifat atau tak terlukiskan.
Dzat-Nya adalah Wujud Mutlak, dan ke-esa-an-Nya tak lain adalah dzat-Nya itu
sendiri, sedang selain wujud-Nya hanyalah ketiadaan. Bersamaan dengan itu
pingsanlah Nabi Musa as. Pingsannya Nabi Musa adalah simbol dari kemusnahan
jiwa, bukan kemusnahan aktual melainkan kemusnahan dalam makrifat. Sirna di
dalam dzat-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis Nabi saw. : "Matilah kamu
sebelum datang kematian-mu".
Dan inilah yang dimaksud dengan fana
di dalam diri-Nya. Dan
ketika Musa as. kembali terjaga, setelah mengalami keadaan di atas, sadarlah ia
bahwa apa yang selama ini ia pahami tentang hakikat Allah, apa yang sebelum ini
ada dalam pikirannya tentang wujud-Nya yang mutlak, bukanlah hakikat dzat-Nya
yang sesungguhnya. Mahasuci Dia dari segala apa yang disifatkan dan dilukiskan,
karena dzat-Nya tidak dapat dilukiskan, Dia bukan ini, bukan itu, bukan apa pun
yang bisa dibayangkan. Fana
di dalam dzat-Nya yang Maha Mutlak, adalah maqam
penyingkapan Esensi Hakiki, penyingkapan seseorang dari selubung-selubung
kemegahan dan kekuasaan-Nya, dan hilangnya segala selubung selain Tuhan. Mereka
yang berada pada maqam ini adalah
mereka yang melampaui penyaksikan kehadiran Allah dalam perwujudan-perwujudan
beragam. Tidak ada sesuatupun kecuali Dia. Semua adalah Dia, karena Dia, dari
Dia, dan kepada-Nya. Tanda kemusnahan di dalam diri-Nya, adalah kukuhnya
seseorang di dalam maqam istiqomah (keteguhan) dan maqam tamkn
(keajegan), sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya, "Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar,
sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang-orang yang telah taubat
bersama kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan". (Surat Huud [11] : 112) Ada perbedaan antara manusia yang terus mengada
dengan dirinya sendiri dengan manusia yang telah luluh di dalam diri
Tuhannya. Akhirnya,
sampailah bagi saya untuk menghentikan pembahasan mengenai "keadaan fana" ini,
dan saya berharap semoga Allah membukakan hati dan pikiran kita semua untuk
dapat menerima limpahan ilmu-Nya yang bermanfaat. Allah Maha Mengetahui dan
Mahabijaksana. Dialah yang mengatakan kebenaran dan menuntun ke jalan yang
benar. (Laut itu
tetaplah laut yang sebelumnya; kejadian hari ini hanyalah ombak dan gelombang
air) |
| tulis
komentar! :: kirim ke teman!
|
Share and enjoy









