|
Dalam al-Qur´an dijelaskan, "Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah ) yang mendekatkan diri kepadaNya". ( QS 5 : 35 ) "Dan sebagian dari mereka Kami jadikan pemimpin-pemimpin (imam-imam) yang memberi petunjuk kepada manusia dengan perintah kami karena mereka bersabar dan yakin terhadap ayat-ayat Kami". (QS 32 : 24 ) Diriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah mengumpulkan sekelompok sahabat tertentu secara diam-diam di sebuah rumah. Dia kemudian berbicara tentang zikir utama Islam, Laa ilaaha illallaah, seraya memerintahkan mereka untuk mengulanginya dengan suara yang keras. Ketika ini selesai dilakukan sebanyak tiga kali, beliau mengangkat tangannya, seraya berkata, "Ya Allah, apakah Engkau meridhoi?" Tak lama kemudian beliau berkata kepada para sahabat, "Berbahagialah karena Allah memberikan rahmatNya kepada kamu sekalian". Suatu ketika Ali memohon kepada Nabi untuk ditunjuki jalan terdekat dan paling mudah kepada Allah. Nabi memerintahkannya untuk berzikir kepada Allah dalam kesendirian. Ali bertanya, "Bagaimana caranya berzikir?" Nabi bersabda, "Pejamkan matamu dan dengarkan ucapanku Laa ilaaha illallaah. Ali mendengar Nabi yang mengulangi zikir itu sebanyak tiga kali; kemudian Nabi yang mendengarkan Ali mengucapkannya sebanyak tiga kali". Nabi, para Imam dan para Wali, tidak sekedar menjadi wasilah
yang memberi petunjuk dan bimbingan kepada manusia agar mampu sampai
kepada Allah lewat pendekatan diri kepadaNya, lebih dari itu mereka
mampu melihat keadaan jiwa dan kadar spiritual seseorang dan dari situ
memberikan resp yang tepat atau sesuai dengan keadaan
masing-masing orang. Sebab setiap orang akan berbuat atau akan
mengerahkan kemampuannya secara maksimal berdasarkan keadaannya atau
kadar kemampuannya masing-masing. "Katakanlah, "Setiap orang berbuat menurut keadaannya (syaakilatihii ), maka Tuhan kamu lebih mengetahui siap-siapa yang lebih benar jalannya". ( QS 17 : 84 ) " "Diriwayatkan dari ´Utsman bin ´Affan, ia berkata, "Aku pernah sakit, lalu Rasulullah saw. melawat aku dan mendo´akan aku, yang dalam do´anya itu ia berkata, "Bismillaahirrahmaanirrahiim, u´iidzuka billaahil ahadish shamad alladzii lam yalid walam yuulad walam yakun lahuu kufuan ahad min syarri tajid". Kata ´Utsman, "Ketika Rasulullah sudah berdiri akan meninggalkan aku, ia bersabda, "Hai ´Utsman! Berta´awudlah dengan do´a tersebut, karena kamu tidak berta´awud seperti itu". ( R. Ibnu Sunni/Adzkar Nawawi, hal : 125 ) Dalam beberapa riwayat di atas dapat diambil suatu petunjuk bahwa apa yang diberikan Rasulullah untuk diamalkan, disesuaikan dengan keadaan seseorang dan manfaatnya, meskipun sebelumnya para sahabat telah mengamalkan zikir atau do´a berdasarkan cara dan pilihannya sendiri. Kunci dari petunjuk ini adalah bahwa di dalam seseorang mengamalkan sesuatu atau berbuat sesuatu ( thariqat ), tidaklah hanya berpijak kepada syari´at saja, tetapi harus sampai kepada haqiqat. Rasulullah mengatakan, "Syari´at adalah ucapanku, thariqat adalah perbuatanku, dan haqiqat adalah keadaanku". Seseorang yang belum mampu sampai kepada haqiqat dapat dikatakan sebagai orang-orang yang masih dalam keadaan "lalai" (QS 16 : 108). Yaitu orang-orang yang masih tertutup hati, pendengaran dan pandangan mereka. Meskipun segala sesuatu atau segala informasi telah sampai kepada mereka; didengar, dilihat dan dirasakan atau dibenarkan oleh hati mereka, tetapi belum cukup untuk menghantarkan mereka untuk memahami haqiqatnya, dengan demikian keadaan merekapun belum sampai sebagaimana yang dikatakan Rasulullah, "haqiqat adalah keadaanku". Seseorang yang menenggelamkan dirinya dalam upaya ketaatan dan berzikir kepada Allah atas keimanannya kepada Allah, tidak akan sampai pada derajat "ridho dan diridhoi Allah" selama dihatinya masih menyimpan "kesombongan" sekecil apapun. Iblis adalah contoh paling jelas dalam hal ini.
Nabi mengatakan, "Aku adalah " |
| tulis
komentar! :: kirim ke teman!
|
Share and enjoy









