|
Orang
yang beriman pasti mendambakan cinta kasih Allah. Namun untuk
memperoleh cinta-Nya, seorang hamba harus menyerahkan sepenuh hidupnya
dengan mengabdi kepada Allah, lewat berbagai cara. Setiap pengabdian
yang dilakukan harus dilandasi rasa cinta yang tulus, agar mendapat
balasan cinta-Nya. Cinta
memang menempati posisi tertinggi dalam pencapaian spiritual
seseorang. Bagaimanakah cara untuk mendapatkan cinta-Nya? Beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa
cinta yang tulus dan abadi. قُل إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ "Katakanlah
(ya Muhammad): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (Ali Imran: 31).
Cinta yang diawali dengan beriman kepada Allah merupakan langkah yang
tepat bagi orang-orang yang sedang mencari cinta sejati. Seseorang
tidak akan mendapatkan cinta sejati dari manapun, kecuali hanya dari
Allah.
Orang yang mencintai Allah, secara otomatis akan muncul kecintaannya
kepada para utusan Allah. Sebagaimana umat Islam mencintai dan
merindukan perjumpaan dengan Nabi Besar Muhammad Saw. yang digambarkan
bagai bulan purnama.
Kecintaannya kepada Rasulullah Saw. jangan seperti orang-orang yang
mensejajarkan Nabi dengan Tuhan, karena dapat menimbulkan kultus dan
penyembahan. Cinta kepada Nabi dan Rasul itu bukan untuk di sembah,
tapi kecintaan itu harus kembali kepada keimanan, bahwa Nabi dan Rasul
itu sebagai penerima wahyu dan penyampai risalah yang benar kepada umat.
Meraih Cinta-Nya
Tidak ada jalan lain untuk meraih cinta Allah, kecuali mengikuti
Rasulullah Saw. Dan untuk mengikuti Rasul-Nya, harus mematuhi dan
menaati segala perintah dan larangan yang telah dicontohkan, sehingga
akhirnya Allah akan mencintainya.
Kepatuhan dan ketaatan akan timbul pada diri orang yang beriman,
melalui proses bimbingan dari seorang Syekh Mursyid atau yang disebut
Ulama waratsatul anbiya' (pewaris nabi). وَتَرَى
الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ اليَمِينِ
وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ
مِّنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ المُهْتَدِ
وَمَن يُضْلِل فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيّاً مُّرْشِداً "Barangsiapa
yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk;
dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan
seorang pemimpin pun (wali mursyid) yang dapat memberi petunjuk
kepadanya." (Al Kahfi: 17).
Karena hanya orang-orang yang beriman yang merasakan cinta kepada Allah
dan Rasul-Nya. Cintanya dapat menenggelamkan dirinya dalam lautan
pengabdian abadi, nyaris tak tersisa perintah yang dikerjakan menjadi
amal saleh. إِنَّ
الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ
بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ
النَّعِيمِ "Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi
petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya." (Yunus: 9).
Banyak amalan yang bisa dikerjakan oleh orang-orang yang sedang
berusaha menggapai cinta-Nya, misalnya mengerjakan shalat wajib, shalat
sunah dan teristimewa shalatullail (shalat malam) secara istikamah, sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah Saw. "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat." (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud).
Tercatat
dalam tarikh Nabi Saw. sepanjang hidupnya tidak pernah meninggalkan
shalat malam. Bahkan ada beberapa hadis yang menjelaskan, beliau
mengerjakan shalat sepanjang malam hingga kakinya bengkak. Kendatipun
beliau sudah mendapatkan kepastian cinta-Nya, namun tetap melakukan apa
saja yang dicintai Allah dengan rasa cinta. Karena di dalam shalat
terkandung kemesraan memandang ke-Elok-an wujud-Nya. إِنَّ
الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ
بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ
النَّعِيمِ "Sesungguhnya
Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka
sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (Thaahaa: 14).
Shalat merupakan puncak kemesraan bercinta dengan Allah. Kemesraan itu
sama dengan khusyuk, orang yang khusyuk shalatnya adalah orang yang
benar-benar sedang menikmati kemesraan-Nya. Kenikmatan dan kelezatannya
tak dapat dilukiskan dengan apa pun. Dengan kata lain, tidak akan
merasakan kenikmatan shalat, kecuali orang-orang yang sedang bermesraan
dengan Allah. Karena itu, suatu keberuntungan dan hidayah dari Allah
bagi orang yang mencapai kemesraan dalam shalatnya (khusyuk). قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُون الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ َ "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya." (Al Mu'minuun: 1 & 2).
Shalat adalah media hubungan antara hamba dengan Tuhan, sekaligus
sarana untuk menjalin hubungan cinta seorang hamba. Dengan shalat,
seorang hamba dapat menebarkan rayuan-rayuan untuk-Nya seperti; tahmid,
tasbih dan takbir yang merupakan rangkaian keagungan dan kemuliaan
diri-Nya yang Maha Tinggi. Kendatipun Ia
tidak butuh rayuan dalam bentuk apapun dari seorang hamba, tapi hamba
harus tetap memuji-Nya. Sebab, Dialah Wujud Zat yang berhak dipuji
sebagai Tuhan semesta alam. Yang memiliki sifat Rahman Rahim dan
memiliki Kerajaan langit dan bumi. Dia pula yang menjadi Raja di hari
peradilan kelak, karena semua urusan akan dikembalikan kepada-Nya. لَهُ مُلكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ "Kepunyaan Allah Kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan." (Al Hadiid: 5)
|