12/31/2005 - MEMBACA DIRI
Posted in Catatan Kembara




Membaca diri sendiri, mengevaluasinya kemudian berusaha memperbaiki keadaan diri, sebenarnya tidak hanya dilakukan pada moment-moment tertentu saja seperti misalnya pergantian tahun. Tetapi alangkah baiknya kalau itu dilakukan setiap hari, atau bahkan setiap hitungan waktu. Dan untuk "fana" sebagai sebuah situs, evaluasi juga seharusnya dilakukan paling tidak saat setiap kali "on-line".


Yang terlintas begitu saja dalam pikiran saya dalam hubungannya dengan membaca diri adalah sebuah pertanyaan, jangan-jangan situs fana ini, diposisikan atau dianggap sebagai salah satu dari sekian banyak media, sarana atau apalah namanya yang membawa misi dakwah (Islam) atau penyampaian pesan ayat-ayat Allah. Memikirkan ini lebih jauh, membuat hati saya jadi kecut, kalau boleh dibilang malah "ngeri". Sebab, jujur saja dan sadar akan keadaan diri, saya dan rekan-rekan di fana, bukanlah orang-orang yang memiliki kapasitas untuk itu. (Untuk hal ini, titik dan tidak ada komanya).

Dalam pemahaman kami, dakwah atau menyampaikan ayat-ayat Allah (kata menyampaikan di sini berdimensi sangat luas) sangatlah jauh berbeda dengan sekedar membaca dan membacakan kalimat-kalimat yang terdapat di dalam kitab suci kepada orang lain atau pihak lain. Ayat Allah dengan bacaan ayat Allah jelas berbeda. Ketika kita berbicara ayat Allah, maka itu berarti tidak saja apa yang dimaksud secara tersurat atau diartikan menurut bahasa, tetapi lebih jauh dari itu, juga memahami kandungan ruhani, kedalaman dan kesucian makna spiritual sebagaimana yang dimaksud Allah sendiri, hikmah serta rahasia Ilahi yang begitu dahsyat yang terdapat di dalam bacaan ayat tersebut. Dan orang-orang yang bisa sampai kepada pemahaman dan penghayatan seperti itu, bukanlah orang biasa atau katakanlah setiap pribadi muslim, seperti saya dan teman-teman yang keadaannya adalah "dikehendaki dimasukkan" ke dalam Islam. Bukan saya masuk ke dalam Islam. Menurut saya, dua keadaan itu jelas berbeda. Dengan demikian setiap orang siapapun dia, apakah dia orang yang hafal al Qur´an, yang tidak mempercayai agama, bahkan orang yang menentang Tuhan sekalipun dapat saja membaca dan membacakan ayat ayat di dalam kitab suci al Qur´an kepada orang lain, tetapi mereka tidak masuk ke dalam kategori mereka yang "menyampaikan ayat Allah".

Bisa dibayangkan apa jadinya, jika setiap muslim merasa menganggap dan mewakili seruan, "sampaikanlah olehmu walau satu ayat" ... Maka Islam dan Allah akan diterima, dimengerti, dipahami dan dikenali serta diaplikasikan sekecil dan serendah mereka yang menyampaikannya.

Jadi sebenarnya, apa yang fana lakukan hanyalah menyediakan ruang bagi siapa saja yang memiliki keinginan, untuk "berbagi ilmu dan pengetahuan". Tujuannya jelas, membuka jalan kepada siapa saja untuk memperoleh kebenaran, mengikuti kebenaran tersebut dimana sasaran akhir kebenaran itu adalah Yang Maha Benar. Dan saya beserta teman-teman sadar sepenuhnya, bahwa untuk mencapai itu, tidak bisa tidak harus melewati proses, selapis demi selapis, tahap demi tahap. Menapaki tangga kebenaran yang satu naik ke tangga kebenaran selanjutnya.

Setiap orang adalah unik, memiliki ukuran wadah atau kadarnya masing-masing. Dalam perjalanan jiwanya akan diiringi pula dengan perkembangan atau pertumbuhan ukuran wadah dan kadar jiwanya. Karena itu wajar-wajar saja dan sah-sah saja setiap orang memperoleh, memahami, dan mentaati kebenaran berdasarkan kadar dirinya. Disinilah terjadi perbedaan pemahaman dan penghayatan masing-masing orang terhadap kebenaran. Terjadinya perbedaan tersebut justru membuka ruang adanya keinginan untuk berbagi ilmu dan pengetahuan mengenai kebenaran, bukan pertentangan. Pertentangan adalah ketika aku mengatakan, aku benar dan kamu salah, aku lebih tahu dan kamu tidak tahu apa-apa, aku ada dan kamu hilang. Sedangkan kesadaran akan perbedaan adalah ketika setiap orang menyadari kekurangan dirinya masing-masing, dan ia membuka diri, pikiran dan hatinya untuk terus mencari dari luar dirinya, ilmu, pengetahuan dan hikmah untuk melengkapi kekurangannya, merevisi pemahaman sebelumnya mengenai kebenaran untuk selanjutnya menuju kesempurnaan.


Yang harus diperhatikan oleh setiap orang adalah, teruslah dalam ketaatan tehadap kebenaran yang sekarang diperoleh, kemudian berjalanlah dan berusaha serta bersungguh-sungguh untuk mencapai tangga kebenaran demi tangga kebenaran selanjutnya hingga akhirnya fana, terserap ke dalam Yang Maha Benar, Sang Sumber Ilmu, Sang Sumber Pengetahuan.

Setiap orang juga harus menyadari bahwa sesungguhnya Allah maha mengetahui segalanya, Allah menghendaki keseimbangan, kebenaran, kebaikan dan kesucian. Menurut saya, ini artinya, Allah mengetahui keadaan perkembangan kadar jiwa dan hati setiap orang, perkembangan kesiapan dan kesanggupan setiap jiwa untuk memperoleh ilmu dan hikmah, dan semuanya itu dimaksudkan bagi kebaikan dan kesucian hambaNya.

Tetapi dibalik itu, manusia diberi kehendak bebas, manusia diberi kemerdekaan untuk memilih, mana yang ingin ia ambil dan mana yang ingin ia tinggalkan, mana yang ingin ia teliti dan uji, untuk seterusnya terserah apakah ingin diikuti atau dicampakkan. Dengan adanya kemerdekaan itulah manusia dimintai pertanggungjawabannya. Tanpa kemerdekaan maka tidak ada yang harus dipertanggungjawabkan. ®    
tulis komentar! :: kirim ke teman!

Share and enjoy
  • Digg
  • del.icio.us
  • DZone
  • Netvouz
  • NewsVine
  • Reddit
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • YahooMyWeb

akses : www.fana-insight.tk (ada pop-up) www.fana-insight.tux.nu (tanpa pop-up)

Bacaan Lainnya
Menu
Ingatlah Allah!


Links
  • My Wall

  • sufinews.com
  • mataharitimoer
  • akmaliah.com
  • nimatullahi
  • islam.com
  • sahifa sajadiyah
  • mukmin script
  • FORUM DISKUSI
  • Fana' Community
  • Free Blog


Tinggalkan Pesan
Name :
Web URL :
Message :



Entry 1 of 31
Last Page | Next Page
portfolio