|
F A
N A ( Bagian
Pertama dari Tiga Tulisan ) Dalam komentarnya, sdr. Naufal menanggapi keadaan fana dalam pandangan yang berbeda. Untuk jelasnya saya kutipkan
pernyataan beliau sebagai berikut : "Sesungguhnya manusia tidaklah dapat bersatu dengan Tuhan,
tetapi ia terus dalam keadaan menuju ..." , berbeda dengan pandangan ahli makrifat yang
menyatakan, "Tidak ada keterpisahan antara yang menyaksikan dengan Yang Disaksikan, ketika yang
menyaksikan telah "meniadakan" dirinya, melampaui kedudukannya pada maqam musyahadah. Mudah-mudahan yang sdr.
Naufal maksud adalah, "Sesungguhnya -apa yang saya
ketahui dan saya yakini sekarang ini- manusia tidaklah dapat bersatu
dengan Tuhan, tetapi ia terus dalam keadaan menuju kepada Tuhannya". Lebih lanjut, memanglah
benar apa yang dinyatakan sdr. Naufal, bahwa pemahaman seseorang terhadap
ayat-ayat Allah dapat saja berbeda, bergantung kepada sudut pandang, kapasitas
akal, dan kemampuan setiap orang dalam mempersepsi sesuatu. Dan untuk hal ini,
dalam kesempatan lain akan dibicarakan lebih lanjut. Sedangkan dalam tulisan
kali ini lebih difokuskan pada pembahasan lebih jauh mengenai fana dalam pandangan ahli makrifat. **** Dalam sebuah hadisnya, Nabi bersabda, "Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu". Artinya, "Barangsiapa yang mengenal dirinya (nafs-nya), maka dia akan mengenal
Tuhan-nya". Pernyataan Nabi saw. ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa jalan
untuk sampai kepada pengenalan hakiki terhadap Allah, adalah dengan memahami
hakikat penciptaan manusia dan tujuan penciptaan manusia. Di antara ayat-ayat yang menjelaskan tentang Hakikat penciptaan
manusia dapat dilihat dalam surat As Sajdah [32] ayat 7-9, dimana Allah
berfirman, "Yang
membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya, dan Dia memulai penciptaan
manusia dari tanah. Kemudian dia menjadikan keturunan manusia dari air yang
hina. Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya dari ruh-Nya, dan
Dia menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan dan hati. Sedikit sekali
kamu bersyukur". Kita perhatikan pula firman Alah di dalam surat Al
A´rf ayat 172, "Dan
(ingatlah) ketika Tuhanmu menjadikan keturunan Bani Adam dari tulang punggung
mereka dan Allah mengambil kesaksian atas diri (nafs) mereka, "Bukankah Aku ini
Tuhan-mu?". Mereka menjawab, "Betul, kami
menjadi saksi". Yang demikian
supaya kamu tidak mengatakan di hari kiamat, "Sesungguhnya kami lalai tentang
hal ini". Keberadaan manusia atau
eksistensi manusia di alam lahiriah (dari non-eksistensi menjadi eksistensi)
disebut "baru diciptakan" atau "baru diwujudkan". Dan Allah menciptakan manusia atau segala sesuatu di alam lahiriah,
sesuai dengan apa yang ada di dalam ilmu-Nya yang azali (yang tentunya mendahului eksistensi sesuatu itu di
alam lahiriah). Sesuai dengan ilmu-Nya yang azali itu pula, kita perhatikan
bagian ayat di atas yang berbunyi, " ... kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya
dari ruh-Nya ...". Ibn ´Arabi
dalam kitab Al Fushsh mengatakan : Di antara ketetapan Hukum
Ilahi adalah, bahwa sesungguhnya tidak ada "sesuatu" pun kecuali menerima ruh
Ilahi. Al Qur´an mengungkapkannya dengan istilah peniupan ruh oleh Allah, "... wa nafakhtu fihi
min rhi ... " ; dan telah kutiupkan ruh-Ku ke dalamnya, ... (QS Al
Hijr [15] : 29). Ini tidak lain adalah penerimaan hakikat-hakikat atau
esensi-esensi, kapasitas dan kesiapan-kesiapan asalnya secara konstan yang
tercakup dalam ilmu-Nya. Semua wujud, yang tak lain adalah sang penerima tiupan
ruh-Nya, memperoleh pancaran-Nya atau pelimpahan manifestasi Ilahiah yang tanpa
henti. Pancaran-Nya memunculkan berbagai manifestasi fenomenal dari
hakikat-hakikat atau esensi-esensi itu, berikut berbagai kualitas dan
karakternya. Hakikat-hakikat atau
esensi-esensi pancaran-Nya, yang dalam ayat di atas dikatakan, "... dan telah kutiupkan
ruh-Ku ..." merupakan bagian dari ilmu-Nya sejak azali, pancaran
dari zat-Nya, karena itu bukanlah suatu ciptaan atau yang diciptakan. Kemudian kita perhatikan, kedudukan nafs (jiwa) dalam surat Al A´rf di atas. Berbeda dengan tanah atau
jasad yang merupakan "tubuh kasar" ciptaan Allah yang membentuk manusia, nafs adalah "tubuh halus" ciptaan Allah
yang memperoleh limpahan manifestasi Ilahiah, apakah itu ilmu atau pengetahuan,
kesiapan-kesiapan asal maupun kualitas-kualitas dan karakter sesuai hakikatnya
di dalam ilmu Allah. Dalam ayat tersebut, limpahan manifestasi Ilahiah yang
diterima adalah pengetahuan atau ilmunya mengenai Allah. Di kalangan ahli
makrifat, ada yang menyebutnya dengan istilah "makrifat nyata", yaitu makrifat
yang diperoleh secara "inheren", yang sudah ada secara alamiah. Dan dalam hal
ini nafs adalah si penerima limpahan
tersebut. Ada unsur ciptaan lain yang ada dalam manusia, yaitu akal.
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. : "Mahluk pertama yang diciptakan Allah adalah
akal. Allah selanjutnya berkata kepada akal, "Mendekatlah!", dan akal pun
mendekat. Selanjutnya Allah berkata, "Kembalilah!", dan akalpun kembali.
Akhirnya Allah berkata, "Demi kekuasaan dan kemuliaan-Ku, Aku tidak menciptakan
satu ciptaan pun yang lebih aku cintai daripada engkau. Dengan engkaulah Aku
mengambil, dan dengan engkaulah Aku memberi, dan dengan engkaulah Aku
memberikan pahala, dan dengan engkaulah aku menghukum". Hadis ini menunjukkan hubungan antara akal dengan hukum-hukum
Ilahi atau syariat. Hubungan keduanya serupa dengan jiwa dan tubuh serta
kesalingtergantungannya. Maksudnya adalah bahwa aktivitas-aktivitas jiwa,
perwujudan sifat-sifat, dan kesempurnaannya tidaklah mungkin kecuali dengan
menggunakan kekuatan dan anggota-angota tubuh sebagai sarana. Oleh karena itu,
berbagai aktivitas syariat dan perwujudannya dalam berbagai taraf tidaklah
mungkin kecuali dengan mengunakan kemampuan akal sebagai sarana. Keadaan ini
menunjukkan bahwa akal bergantung pada syariat, sebaliknya syariat pun
bergantung kepada akal. Akal bagai sebuah lampu, sedangkan syariat
adalah minyak yang membuatnya menyala; jika tidak ada minyak, tentu lampu tidak
akan menyala; jika tidak ada lampu, tak akan ada cahaya. Kemudian yang perlu disadari adalah bahwa semua kehidupan
manusia pada dasarnya adalah sebuah kegiatan yang didasarkan pada akal dan
pemahaman. Di dalam ukuran-ukuran ini kesadaran manusia mewujud. Manusia harus
menyadari bahwa sebagai mahluk yang berbicara dan berpikir, ia memiliki dua
kekuatan : ilmu pengetahuan dan perbuatan. Setiap kekuatan ini memiliki
taraf-taraf kesempurnaan dan ketidaksempurnaannya masing-masing. Taraf yang
paling sempurna adalah apa yang disebut sebagai akal yang mampu mempersepsi
sesuatu dan akal ini berkenaan dengan pencapaian ilmu pengetahuan yang mungkin
dipelajari -ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan abstraksi teoritis maupun
kegunaan praktis-. Akal ini juga berkenaan dengan ilmu pengetahuan tentang
jalan yang benar, jalan yang mengantarkan manusia untuk mencapai ilmu-ilmu ini
tanpa sedikitpun keraguan atau kebingungan sehubungan dengan kepastiannya dan
ketidakpastiannya, terhindar dari kekeliruan dan kesesatan nalar. Akal ini juga
berkenaan dengan rahmat Allah, meskipun ketakterbatasan rahmat pada dasarnya tidak
dapat dipahami seutuhnya oleh akal ini. Keadaan yang terakhir -dan ini perlu kita sadari- adalah sebagaimana yang disinggung dalam
sebuah ayat, " ...
sesungguhnya Dia tidak dapat dijangkau oleh pemahaman". Meskipun kemampuan akal dapat mencapai
kesempurnaan, tetapi tetap saja ia tak dapat dijadikan sebagai sarana untuk
sampai kepada pengenalan sejati Wujudnya yang Mutlak. Lalu dengan apa sesungguhnya
manusia dapat sampai kepada keadaan, bersatunya antara "yang menyembah" dan "Yang
Disembah"? (Bersambung ... sabar aja yach!
Kira-kira seminggu lagi deh!) |
| tulis
komentar! :: kirim ke teman!
|










Permanent Link