1/23/2006 - Fana-2
Posted in Jejak Spiritual




F A N A

( Bagian Pertama dari Tiga Tulisan )

Dalam komentarnya, sdr. Naufal menanggapi keadaan fana dalam pandangan yang berbeda. Untuk jelasnya saya kutipkan pernyataan beliau sebagai berikut :

"Sesungguhnya manusia tidaklah dapat bersatu dengan Tuhan, tetapi ia terus dalam keadaan menuju ..." , berbeda dengan pandangan ahli makrifat yang menyatakan, "Tidak ada keterpisahan antara yang menyaksikan dengan Yang Disaksikan, ketika yang menyaksikan telah "meniadakan" dirinya, melampaui kedudukannya pada maqam musyahadah.

Mudah-mudahan yang sdr. Naufal maksud adalah, "Sesungguhnya -apa yang saya ketahui dan saya yakini sekarang ini- manusia tidaklah dapat bersatu dengan Tuhan, tetapi ia terus dalam keadaan menuju kepada Tuhannya".

Lebih lanjut, memanglah benar apa yang dinyatakan sdr. Naufal, bahwa pemahaman seseorang terhadap ayat-ayat Allah dapat saja berbeda, bergantung kepada sudut pandang, kapasitas akal, dan kemampuan setiap orang dalam mempersepsi sesuatu. Dan untuk hal ini, dalam kesempatan lain akan dibicarakan lebih lanjut. Sedangkan dalam tulisan kali ini lebih difokuskan pada pembahasan lebih jauh mengenai fana dalam pandangan ahli makrifat.

****

Dalam sebuah hadisnya, Nabi bersabda, "Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu". Artinya, "Barangsiapa yang mengenal dirinya (nafs-nya), maka dia akan mengenal Tuhan-nya". Pernyataan Nabi saw. ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa jalan untuk sampai kepada pengenalan hakiki terhadap Allah, adalah dengan memahami hakikat penciptaan manusia dan tujuan penciptaan manusia.

Di antara ayat-ayat yang menjelaskan tentang Hakikat penciptaan manusia dapat dilihat dalam surat As Sajdah [32] ayat 7-9, dimana Allah berfirman, "Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya, dan Dia memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian dia menjadikan keturunan manusia dari air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya dari ruh-Nya, dan Dia menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan dan hati. Sedikit sekali kamu bersyukur". Kita perhatikan pula firman Alah di dalam surat Al A´rf ayat 172, "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menjadikan keturunan Bani Adam dari tulang punggung mereka dan Allah mengambil kesaksian atas diri (nafs) mereka, "Bukankah Aku ini Tuhan-mu?". Mereka menjawab, "Betul, kami menjadi saksi". Yang demikian supaya kamu tidak mengatakan di hari kiamat, "Sesungguhnya kami lalai tentang hal ini".

Keberadaan manusia atau eksistensi manusia di alam lahiriah (dari non-eksistensi menjadi eksistensi) disebut "baru diciptakan" atau "baru diwujudkan". Dan Allah menciptakan manusia atau segala sesuatu di alam lahiriah, sesuai dengan apa yang ada di dalam ilmu-Nya yang azali (yang tentunya mendahului eksistensi sesuatu itu di alam lahiriah).

Sesuai dengan ilmu-Nya yang azali itu pula, kita perhatikan bagian ayat di atas yang berbunyi, " ... kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya dari ruh-Nya ...". Ibn ´Arabi dalam kitab Al Fushsh mengatakan :

Di antara ketetapan Hukum Ilahi adalah, bahwa sesungguhnya tidak ada "sesuatu" pun kecuali menerima ruh Ilahi. Al Qur´an mengungkapkannya dengan istilah peniupan ruh oleh Allah, "... wa nafakhtu fihi min rhi ... " ; dan telah kutiupkan ruh-Ku ke dalamnya, ... (QS Al Hijr [15] : 29). Ini tidak lain adalah penerimaan hakikat-hakikat atau esensi-esensi, kapasitas dan kesiapan-kesiapan asalnya secara konstan yang tercakup dalam ilmu-Nya. Semua wujud, yang tak lain adalah sang penerima tiupan ruh-Nya, memperoleh pancaran-Nya atau pelimpahan manifestasi Ilahiah yang tanpa henti. Pancaran-Nya memunculkan berbagai manifestasi fenomenal dari hakikat-hakikat atau esensi-esensi itu, berikut berbagai kualitas dan karakternya.

Hakikat-hakikat atau esensi-esensi pancaran-Nya, yang dalam ayat di atas dikatakan, "... dan telah kutiupkan ruh-Ku ..." merupakan bagian dari ilmu-Nya sejak azali, pancaran dari zat-Nya, karena itu bukanlah suatu ciptaan atau yang diciptakan.

Kemudian kita perhatikan, kedudukan nafs (jiwa) dalam surat Al A´rf di atas. Berbeda dengan tanah atau jasad yang merupakan "tubuh kasar" ciptaan Allah yang membentuk manusia, nafs adalah "tubuh halus" ciptaan Allah yang memperoleh limpahan manifestasi Ilahiah, apakah itu ilmu atau pengetahuan, kesiapan-kesiapan asal maupun kualitas-kualitas dan karakter sesuai hakikatnya di dalam ilmu Allah. Dalam ayat tersebut, limpahan manifestasi Ilahiah yang diterima adalah pengetahuan atau ilmunya mengenai Allah. Di kalangan ahli makrifat, ada yang menyebutnya dengan istilah "makrifat nyata", yaitu makrifat yang diperoleh secara "inheren", yang sudah ada secara alamiah. Dan dalam hal ini nafs adalah si penerima limpahan tersebut.

Ada unsur ciptaan lain yang ada dalam manusia, yaitu akal. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. : "Mahluk pertama yang diciptakan Allah adalah akal. Allah selanjutnya berkata kepada akal, "Mendekatlah!", dan akal pun mendekat. Selanjutnya Allah berkata, "Kembalilah!", dan akalpun kembali. Akhirnya Allah berkata, "Demi kekuasaan dan kemuliaan-Ku, Aku tidak menciptakan satu ciptaan pun yang lebih aku cintai daripada engkau. Dengan engkaulah Aku mengambil, dan dengan engkaulah Aku memberi, dan dengan engkaulah Aku memberikan pahala, dan dengan engkaulah aku menghukum".

Hadis ini menunjukkan hubungan antara akal dengan hukum-hukum Ilahi atau syariat. Hubungan keduanya serupa dengan jiwa dan tubuh serta kesalingtergantungannya. Maksudnya adalah bahwa aktivitas-aktivitas jiwa, perwujudan sifat-sifat, dan kesempurnaannya tidaklah mungkin kecuali dengan menggunakan kekuatan dan anggota-angota tubuh sebagai sarana. Oleh karena itu, berbagai aktivitas syariat dan perwujudannya dalam berbagai taraf tidaklah mungkin kecuali dengan mengunakan kemampuan akal sebagai sarana. Keadaan ini menunjukkan bahwa akal bergantung pada syariat, sebaliknya syariat pun bergantung kepada akal. Akal bagai sebuah lampu, sedangkan syariat adalah minyak yang membuatnya menyala; jika tidak ada minyak, tentu lampu tidak akan menyala; jika tidak ada lampu, tak akan ada cahaya.

Kemudian yang perlu disadari adalah bahwa semua kehidupan manusia pada dasarnya adalah sebuah kegiatan yang didasarkan pada akal dan pemahaman. Di dalam ukuran-ukuran ini kesadaran manusia mewujud. Manusia harus menyadari bahwa sebagai mahluk yang berbicara dan berpikir, ia memiliki dua kekuatan : ilmu pengetahuan dan perbuatan. Setiap kekuatan ini memiliki taraf-taraf kesempurnaan dan ketidaksempurnaannya masing-masing. Taraf yang paling sempurna adalah apa yang disebut sebagai akal yang mampu mempersepsi sesuatu dan akal ini berkenaan dengan pencapaian ilmu pengetahuan yang mungkin dipelajari -ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan abstraksi teoritis maupun kegunaan praktis-. Akal ini juga berkenaan dengan ilmu pengetahuan tentang jalan yang benar, jalan yang mengantarkan manusia untuk mencapai ilmu-ilmu ini tanpa sedikitpun keraguan atau kebingungan sehubungan dengan kepastiannya dan ketidakpastiannya, terhindar dari kekeliruan dan kesesatan nalar. Akal ini juga berkenaan dengan rahmat Allah, meskipun ketakterbatasan rahmat pada dasarnya tidak dapat dipahami seutuhnya oleh akal ini. Keadaan yang terakhir -dan ini perlu kita sadari- adalah sebagaimana yang disinggung dalam sebuah ayat, " ... sesungguhnya Dia tidak dapat dijangkau oleh pemahaman". Meskipun kemampuan akal dapat mencapai kesempurnaan, tetapi tetap saja ia tak dapat dijadikan sebagai sarana untuk sampai kepada pengenalan sejati Wujudnya yang Mutlak. Lalu dengan apa sesungguhnya manusia dapat sampai kepada keadaan, bersatunya antara "yang menyembah" dan "Yang Disembah"? (Bersambung ... sabar aja yach! Kira-kira seminggu lagi deh!)


tulis komentar! :: kirim ke teman!

1/25/2006 - Sabar nggak sabar harus sabar....
Posted by Naufal
Buat "Fana", Iye dech saya shabar menanti, mudah-mudahan wujud "makrifat" nyang di bahas udeh keliatan bentuknye. OC dech...

Permanent Link

Share and enjoy
  • Digg
  • del.icio.us
  • DZone
  • Netvouz
  • NewsVine
  • Reddit
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • YahooMyWeb

akses : www.fana-insight.tk (ada pop-up) www.fana-insight.tux.nu (tanpa pop-up)

Bacaan Lainnya
Menu
Ingatlah Allah!


Links
  • My Wall

  • sufinews.com
  • mataharitimoer
  • akmaliah.com
  • nimatullahi
  • islam.com
  • sahifa sajadiyah
  • mukmin script
  • FORUM DISKUSI
  • Fana' Community
  • Free Blog


Tinggalkan Pesan
Name :
Web URL :
Message :



Entry 1 of 31
Last Page | Next Page
portfolio