|
Kematian Jiwa Dalam
Surat Al-Baqarah ayat 260 Allah berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim
berkata, "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang
yang mati". Allah berfirman, "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku meyakininya;
tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)". Allah berfirman, "(Kalau
demikian) ambillah empat ekor burung dan cincanglah semua olehmu. Lalu letakkan
di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian
panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan
ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". Sebagian
kita memahami ayat tersebut sebagai sebuah tamsil. Orang yang mati dalam ayat
tersebut bukanlah mati dalam pengertian masuknya jiwa ke dalam kubur, tetapi
jiwa yang terperangkap dalam kegelapan. Bagaimana seseorang dapat bangkit dari
kegelapan jiwa menuju kepada cahaya adalah dengan cara menundukkan
penjara-penjara jiwanya. Jalaluddin Rakhmat, dalam bukunya "Meraih Cinta Ilahi"
menggambarkan keadaan di atas dengan "puisi Rumi" sebagai berikut. Ketika
menafsirkan ayat tersebut, Rumi
menjelaskan bahwa kita hanya hidup kembali bila kita membunuh empat ekor unggas
yang mencerminkan diri kita atau ego
kita. Keempat ekor unggas itu adalah bebek yang mencerminkan kerakusan, ayam
jantan yang melambangkan nafsu, merak yang menggambarkan kesombongan, dan gagak
yang melukiskan keinginan. Tentang bebek, Rumi bercerita Bebek itu adalah lambang sifat yang rakus, paruhnya
selalu di tanah. Mengeruk apa saja yang terbenam, basah atau kering.
Tenggorokannya tak pernah santai satu saat pun. Ia tak mendengar firman Tuhan
selain "Makan dan minum". Seperti penjarah yang merangsek rumah dan memenuhi
kantongnya dengan cepat. Ia memasukkan ke dalam kantungnya baik dan buruk.
Permata atau kacang tanah tiada beda. Ia jejalkan ke kantungnya, basah dan
kering. Kuatir pesaingnya akan merebutnya. Waktu mendesak, kesempatan sempit,
ia takut. Dengan segera ia tumpukkan apapun di bawah tangannya. Tentang ayam jantan atau nafsu, Rumi bercerita Ayam jantan penuh nafsu dan ketagihan nafsu. Mabuk
dalam anggur tawar yang beracun. Sekiranya nafsu tidak diperlukan untuk
melanjutkan penciptaan, wahai Sang Penuntut, Adam akan memandulkan dirinya
sebab malu karenanya. Iblis terkutuk berkata kepada Sang Penegak Keadilan,
"Kuingin jebakan perkasa untuk korbanku". Tuhan memperlihatkan kepadanya emas,
perak, dan kawanan kuda seraya berkata, "Gunakan ini untuk merayu manusia".
Iblis berteriak, "Hebat!" Tapi segera bibirnya mengering. Ia menjerit keriput
dan asam seperti jeruk. Lalu Tuhan menawarkan kepada si mahluk terkutuk emas
dan mutiara dari perbendaharaannya yang tidak terhingga seraya berkata,
"Ambillah jebakan ini, hai si terlaknat". Ia menjawab, "Berikan lebih dari ini,
wahai Sang Maha Pembela". Lalu memberinya makanan yang berminyak dan manis,
minuman yang mahal dan jubah sutra yang gemerlap. Iblis berkata, "Tuhanku,
kuperlukan bantuan lebih dari ini, untuk mengikat mereka dengan tali serat
kurma. Supaya hamba-Mu yang mabuk, yang gagah berani, dapat melepaskan seluruh
ikatan ini. Dengan jebakan ini dan ikatan hawa nafsu, orang suci dipisahkan
dari orang durhaka. Aku ingin jebakan lain, duhai Penguasa Arasy. Jebakan
cerdik perkasa yang membuat semua manusia binasa" ... Ketika Tuhan menampakkan kepada iblis keindahan
perempuan yang menumpulkan akal dan melepaskan kendali laki-laki. Iblis
menjentikkan jarinya dan mulai menari, sambil melonjak berkata, "Berikan dia
kepadaku secepat mungkin. Telah digapai keinginanku" Bagi iblis, cumbu rayu
hawa nafsu bagaikan ungkapan kemulian Ilahi yang menembus hijab yang tipis. Tentang burung merak atau kesombongan, Rumi
bercerita Sekarang sampailah kita pada merak berwarna ganda.
Yang memamerkan dirinya demi kemasyhuran dan nama. Cita-citanya hanya merebut
perhatian manusia. Tak peduli baik buruk, hasil dan manfaatnya. Ia menangkap
mangsanya dengan bodoh seperti jebakan. Mana mungkin jebakan mengetahui tujuan
tindakan? ... Duhai saudaraku, kau angkat kawan-kawanmu dengan dua
ratus tanda kasih sayang, lalu kaucampakkan mereka. Inilah keinginanmu sejak
saat kelahiranmu: Menangkap orang dengan jebakan cinta. Dari upayamu
mengejar orang dan memburu kemegahan. Apa manfaat yang kamu peroleh, lihat dan
renungkan! Hari-hari hidupmu telah berlalu dan malammu telah larut. Dan kau
masih juga sibuk mengejar-ngejar manusia. Ayo buru orang dan lepaskan yang lain
dari jebakan. Lalu kau kejar yang lain dan kaucari yang itu.Ini permainan anak
kecil yang tanpa arti. Sebetulnya kamu hanya menangkap dirimu dalam jebakan.
Karena kamu dipenjarakan dan dikecewakan oleh keinginanmu ... Tentang gagak, Rumi
bercerita Suara berkoak burung gagak meneriakkan permintaan
panjang usia di dunia. Seperti iblis, gagak memohon Yang Mahasuci kehidupan
abadi sampai hari kebangkitan. Iblis berkata, "Berikanlah aku tempo sampai hari
kebangkitan". Bukankah sepatutnya ia berkata, "Aku bertaubat, duhai Tuhanku".
Hidup tanpa taubat adalah bencana jiwa. Hilang dari Tuhan adalah kehadiran
kematian, hidup dan mati, keduanya manis di sisi Ilahi. Tanpa Tuhan, air
kehidupan dalam api ... Hidup abadi adalah menumbuhkan ruh di dekat Ilahi,
hidup gagak semata-mata untuk memakan kotoran. Gagak berkata, "Brikan aku hidup
lama supaya terus makan keburukan". Sekiranya mulut kotor itu bukan mulut
pemakan bercak, ia akan berkata, "Selamatkan daku dari watak burung gagak". **** |
| tulis
komentar! :: kirim ke teman!
|
Share and enjoy









