|
F A N A ( Bagian Kedua dari Tiga Tulisan ) Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan bagian pertama Buat
saudara Naufal, ternyata Anda harus memperpanjang kesabaran Anda.
Karena Anda memang ahlinya (he..he). Karena itu alihkan permintaan Anda
saat berdo´a, jangan minta kesabaran terus ..., sebab Anda akan
diberi-Nya cobaan terus. Mintalah agar Allah menyelesaikan segala
persoalan Anda dengan sebaik-baiknya dan secepat-cepatnya. Amin. * * * Kapasitas
akal mampu mengantarkan seseorang kepada pemahaman mengenai syariat.
Akal sanggup memahami jalan yang dibukakan Allah, yang membentang di
hadapan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Tetapi bagaimanapun juga akal yang dibimbing oleh cahaya syariat pada akhirnya tunduk dihadapan petunjuk syariat itu sendiri, "Sesungguhnya Dia tak dapat dijangkau oleh pemahaman". Maksud "pemahaman" di sini adalah pemahaman yang diperoleh melalui akal. Pendengaran
dan penglihatan adalah sarana indera yang dimiliki manusia, sebagai
sarana yang memberikan masukan bagi akal untuk memperoleh ilmu atau
pengetahuan. Sedang akal adalah instrumen jiwa (nafs),
dimana lewat pengetahuan yang dicerapnya, akal mampu memberi pengaruh
bagi jiwa mencapai kesadarannya. Jiwa manusia dapat mencapai
kesadarannya, bahwa ia dapat dekat pada kebajikan dan dilindungi dari
penyimpangan dengan cara mematuhi petunjuk yang terdapat dalam syariat. "Sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika
Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka
sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan
jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan
sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan
yang nyata". (Surat Al-Imran [3] : 164) Akal
dapat memahami pengajaran tentang mana yang baik dan yang buruk; mana
yang boleh dan yang tidak; perintah dan larangan; dan dengan melakukan
penelitian, akal dapat mengungkap rahasia ilmu Allah yang berhubungan
dengan kehidupan praktis di dunia ini, dan selanjutnya mengarahkan jiwa
kepada kesadaran bahwa untuk memperoleh "hikmah" dari-Nya, ia harus
melanjutkan perjalanannya dengan mengerahkan kemampuan "instrumen" lain
yang dimilikinya. Dengan instrumen itulah jiwa dapat memperoleh
kekuatan untuk membersihkan dirinya, karena hanya dengan kebersihan
jiwalah ia dapat memperoleh limpahan ilmu atau pengetahuan dari Allah,
yang pada akhirnya akan menghantarkannya kepada pengetahuan mengenai
hakikat Ilahi. Para ahli makrifat menyebutkan, bahwa "ilmu adalah hijab yang paling besar" sehingga seseorang tidak boleh berlama-lama dalam kedudukan (maqam)
ini. Yang dimaksud "ilmu" disini adalah pengetahuan yang diperoleh
melalui akal. Hijab ini adalah hijab yang khas bagi manusia yang mampu
ia ketahui secara rasional, sehingga segala sesuatu yang telah ia
ketahui dengan akalnya, harus segera ia luluhkan, ia torehkan pada
instrumen jiwa yang lain. Instrumen jiwa yang memiliki kapasitas dan
kemampuan untuk mencapai jenis pengetahuan lain yang tak dapat
dijangkau oleh pemahaman akal. Dengan begitu seseorang akan dapat
melepaskan dirinya dari semua ikatan atau hijab ilmu yang diperolehnya. Kalau
pendengaran dan penglihatan adalah sarana bagi akal untuk memperoleh
ilmu dan pengetahuan, maka instrumen jiwa lainnya yang memiliki
kapasitas untuk memperoleh ilmu atau hikmah adalah "hati". Al-Qur´an
menggunakan tiga istilah yang berbeda yang menunjukkan tentang hati,
yaitu al fud, al qalb, dan al shudr.
Ketiganya merupakan istilah yang berbeda tetapi mengacu pada satu
hakikat, yaitu hakikat dasar manusia, hati. Masing-masing menunjukkan
perbedaan "karakter" sesuai dengan perbedaan keadaan hati. Dalam
tulisan ini cukuplah untuk sementara kita menggunakan istilah hati. "Dan
Allah mengeluarkan kalian dari keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan
dia memberi kalian pendengaran, penglihatan dan hati, semoga kalian
bersyukur". (Surat An-Nahl [16] : 78) Ayat
ini menunjukkan kepada kita, bahwa sarana bagi jiwa untuk memperoleh
pengetahuan sebagai bekal kesempurnaannya adalah melalui pendengaran,
penglihatan, dan hati. Dan orang-orang yang bersyukur adalah mereka
yang menggunakan sarana tersebut untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan
mencapai pemahaman mengenai hakikat penciptaannya. Dengan demikian akal
bukanlah satu-satunya cara atau sarana untuk mengetahui sesuatu. Dalam
tasawuf atau di kalangan ahli makrifat, sebagaimana kita maklum,
seseorang bisa mengetahui sesuatu dengan tidak melalui akal, tidak pula
lewat penginderaan, tetapi lewat cara yang disebut "riyadhah",
pendekatan diri kepada Allah, dimana jiwa mengerahkan seluruh kemampuan
dan "potensi positif" hati dengan kedisiplinan dan ke"ajeg"an (istiqomah) untuk memperoleh limpahan karunia sesuai kehendak-Nya. Menurut
ahli makrifat, hati adalah tempat perubahan dan pasang surut yang
konstan. Di dalam hati terjadi pertempuran antara dorongan hawa nafsu (haw) yang menjerembabkan jiwa (nafs) ke dalam kehinaan dengan tarikan ruh
yang membawa jiwa kepada kesucian. Hubungan saling mempengaruhi antara
jiwa dengan hawa nafsu adalah melalui hati, sebagaimana hubungan antara
jiwa dengan limpahan manifestasi Ilahiah (rh)
juga melalui hati. Ini berarti limpahan ruh Ilahi ke dalam hati akan
mempengaruhi aktivitas jiwa dan perwujudan sifat-sifat terpuji dan
kesuciannya, dan sebaliknya kesucian jiwa, tidak akan membiarkan
sedikitpun "ruang" di dalam hati disusupi oleh hawa nafsu. Jiwa akan
selalu memperkuat hati dengan selalu membukanya untuk menerima limpahan
ruh dan pengajaran dari-Nya. "Dan
segala yang Kami sampaikan kepadamu dari cerita Rasul-Rasul yang
dengannya Kami kuatkan hatimu, dan dalam cerita itu telah datang
kepadamu kebenaran, pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang
beriman". (Surat Huud [11] : 120) Demikian
pula dengan jiwa yang menampakkan aktivitas dan perwujudan sifat-sifat
yang rendah adalah cermin dari pengaruh hati yang diisi dan ditundukkan
oleh hawa nafsu, dan sebaliknya hati yang dikuasai hawa nafsu akan
menutup dirinya dari cahaya petunjuk, karena jiwa yang selalu
mengajaknya kepada kegelapan. "Dan mereka berkata, "Hati kami tertutup dari apa yang kamu seru kami kepada-Nya ... " (Surat Fushshilat [41] : 5) Dengan
demikian, bisa kita pahami bahwa hati adalah instrumen jiwa yang
sanggup mencapai pengetahuan dan limpahan ruh Ilahi, sepanjang ia
-hanya selalu- membuka dirinya untuk menerima pancaran cahaya-Nya.
Ketika cahaya ini masuk ke dalam hati, maka ia akan menghilangkan tabir
yang menutupi mata batin, sehingga pengetahuan tentang Allah (makrifat) -Sang Sumber Ilmu- dapat singgah di dalam hati. Para ahli makrifat menyebut keadaan hati seperti ini dengan istilah kasyf (penyingkapan). Dengan rahmat-Nya yang tak terbatas, Allah melimpahkan kepada hamba-Nya pengungkapan diri-Nya (tajalli) ke dalam hati hamba-Nya. Ada sebuah hadis qudsi yang menyatakan, "Meskipun langit dan bumi tidak sanggup memuat-Nya, tapi hati manusia -hamba-Nya- justru sanggup memuat-Nya".
Hati semacam ini adalah hati seorang hamba yang dipenuhi oleh berbagai
hakikat Ilahiah, manifestasi Ilahiah dalam bentuk penyingkapan
Nama-Nama-Nya dan Sifat-Sifat-Nya. Pengungkapan diri-Nya ke dalam hati
hamba-Nya, merupakan anugerah, yang Allah limpahkan kepada manusia agar
Ia dapat disaksikan. Ahli makrifat mengatakan bahwa terjadi berbagai
penyingkapan yang merasuk ke dalam hati. Atas kehendak-Nya, Allah
mengungkapkan diri-Nya lewat satu Nama Keindahan-Nya yang akan
menimbulkan kemanisan dan kesenangan, atau lewat salah satu Nama
Keagungan-Nya yang akan melahirkan ketakziman dan ketakutan.
Singkatnya, karena Dia adalah Yang Maha Takterbatas, maka penyingkapan
ini tidak pernah berulang secara sama dan tidak pula pernah berakhir.
Setiap orang adalah unik, oleh karena itu masing-masing penyingkapan
juga unik. Jadi tidak ada dua orang yang merasakan pengalaman tajalli yang sama. Hanyalah yang "merasakan" yang mengetahuinya, dan mereka yang "tidak merasakan" tidak bakal mengetahui. Tajalli melampaui ungkapan kata-kata. Namun
demikian -bagaimana pun- penyaksian hati ini tetaplah menunjukkan bahwa
"yang melihat", "Yang Dilihat", dan "cahaya yang menghubungkan"
keduanya, merupakan tiga hal yang berbeda dan melahirkan keberagaman.
Padahal "Penyaksian di dalam ke -Esa- an-Nya" tidak mengizinkan
keragaman seperti itu. Jadi mesti ada "langkah pelampauan" sampai pada
satu titik yang dengannya tauhid (penyatuan) bisa dicapai. Karena itu,
titik tauhid (sejati) ini hanya bisa dicapai melalui penghancuran (fana´i) "diri yang mengetahui" di di dalam "Dzat yang diketahui". ( Sampai disini dulu, dan bersambung pada tulisan bagian ketiga atau yang terakhir.) |
| tulis
komentar! :: kirim ke teman!
|
Share and enjoy









