|
Memaknai Peristiwa Sesungguhnya keberadaan setiap manusia
adalah untuk mencapai sebuah keseimbangan tanpa memandang apakah keadaan itu disenangi atau
tidak, mudah di dapat ataupun sulit.
"(Kami
jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang
luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang
diberikan-Nya kepadamu". (QS Al-Hadid [57] : 23) Ketahuilah, bahwa Allah Mahaadil dalam melimpahkan
eksistensi kepada semua mahluk dan bahwa Dialah Tuhan Yang Mahaadil dalam
menganugerahkan pola perilaku dan sifat-sifat tertentu kepada mahluk-mahluk itu
berdasarkan pengetahuan yang pasti mengenai kemampuan esensial dan daya terima
yang secara inheren ada pada masing-masing mereka. Hal ini terjadi, karena setiap
mahluk bereksistensi -apakah dia ditempatkan di dunia fenomenal ataupun tidak-
telah memiliki kekhususan dan hakikat tersendiri di dalam ilmu Tuhan, sebelum
dia betul-betul muncul dalam bentuk eksistensi lahiriah. Seandainya Tuhan
melimpahkan eksistensi yang bertentangan dengan hakikat mahluk, tentulah Tuhan
salah atau tidak adil. Perbuatan seperti itu tidaklah mungkin berasal dari
Tuhan karena Tuhanlah Yang Mahaadil di dalam perbuatan-perbuatan dan kalam-Nya
serta seimbang dalam hal melimpahkan nikmat-Nya kepada segala sesuatu. "Dan kalau Allah melapangkan rezeki bagi
hamba-hamba-Nya niscaya mereka melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan
apa yang Dia kehendaki dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi
Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya". ( Qs 42 : 27 ) "Tiadalah Kami menciptakan langit dan bumi dan
apa-apa (yang ada) di antara keduanya melainkan dengan benar dan waktu yang
ditentukan". (Qs 46 : 3 ) Imam Ali kw. berkata : Ketahuilah
dengan ilmu yakin (´ilm al-yaqin ), bahwa Allah tidaklah membebankan kepada
hamba melebihi daripada apa yang telah ditentukan baginya di dalam
kebijaksanaan-Nya, terlepas dari intensitas usaha yang dilakukan, perjuangan,
dan kepintarannya. Selanjutnya, Dia tidaklah mencegah seorang hamba meraih apa
yang telah ditentukan baginya dalam kebijaksanaan-Nya, terlepas dari kelemahan
ataupun ketidakpintaran hamba itu. Siapa saja yang menyadari hal ini dan
berbuat sesuai dengan ilmu-Nya, akan termasuk orang-orang yang menikmati
kesenangan dan manfaat yang besar. Sedangkan orang-orang yang mengabaikan jalan
ini, dalam hal perbuatan ataupun ragu-ragu mengenai keabsahannya, maka ia akan
termasuk orang-orang yang senantiasa mendatangkan malapetaka bagi dirinya
sendiri. Seringkali terjadi bahwa seseorang dilimpahi karunia yang terus
menerus, dan sering pula yang lainnya ditimpa cobaan dan beban berat. Oleh
karena itu, wahai orang-orang yang mendapatkan nikmat Allah, tingkatkanlah rasa
terima kasihmu, janganlah tergesa-gesa, dan merasa cukuplah ketika rezekimu mendekati
akhirnya. Oleh karena itu wajib bagi Allah untuk memberi
eksistensi kepada setiap mahluk dalam satu cara yang bersesuaian denga keadaan
diri mahluk itu, tidak menambah ataupun mengurangi ukuran eksistensi khusus
tersebut. Inilah keadilan yang hakiki, karena keadilan adalah penempatan segala
sesuatu pada tempatnya yang benar. "Katakanlah,
tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing" (QS Al-Isra [17] :
84) "Tuhan kamu (Allah) berfirman, "Berdo´alah
kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu". ( QS 40 : 60 ) Firman ini berarti bahwa setiap orang berbuat
sesuai dengan keadaan lahiriah dan bentuk fisiknya, dan pada gilirannya hal ini
bersesuaian dengan keadaan batiniah dan bentuk spiritualnya. Seiring dengan
itu, Nabi Daud as. bertanya kepada Tuhannya : "Wahai Tuhanku, mengapa Engkau menciptakan
mahluk?" Allah menjawab : "Karena hakikat kebenaran yang ditemukan mahluk ada
di dalam dirinya". Hal ini
berarti bahwa terdapat keadaan yang berbeda-beda dalam hal daya terima dan
kesiapan mereka. Setelah memahami hal ini, bisa dilihat mengapa tidak seorang
pun dapat meninggikan suaranya sebagai sikap penolakan terhadap Allah dan tidak
seorang pun dapat menuntut untuk mengetahui mengapa ia diciptakan dalam bentuk
tertentu. Setiap mahluk mengetahui bahwa Allah sanggup menjawab melalui lidah
ilham spiritual sebagai berikut :
Aku
tidak melimpahkan eksistensi kepadamu kecuali dalam satu ukuran yang sesuai
dengan daya penerimaanmu serta kesiapanmu dan sesuai dengan esensi dan
substansimu, dan bukanlah apa yang sesuai dengan diri-Ku. Akulah Pelaku dan
engkaulah penerima, dan daya penerimaan merupakan bagian dari diri orang yang
menerima, tidak pada diri Sang Pelaku. Selanjutnya, eksistensimu sesuai dengan
esensi dan daya penerimaanmu. Oleh karena itu, penolakanmu berarti penolakan
terhadap daya penerimaan dan kesiapanmu sendiri, tidak terhadap-Ku, karena Sang
Pelaku tidak mempengaruhi orang yang menerima, pengaruhnya hanya pada ukuran
daya penerimaannya. Kini
jika kamu menyadari bahwa Aku Maha Mengetahui segala halmu, (harus diingat
bahwa) ilmu tidaklah berlaku pada apa yang diketahui sampai yang diketahui itu
benar-benar terjadi. Di samping itu kesesuaian (konformitas) merupakan sesuatu
yang wajib ada di dalam hubungan antara pengetahuan dan obyek ilmu -karena ilmu
bersifat mengikuti apa yang diketahui. Jadi, sesuatu yang mengikuti tidaklah
mengetahui hal yang mendahuluinya selain kesadarannya tentang hal itu, yakni
dalam hal apa dia diciptakan. Selanjutnya,
Akulah Yang Mahabijaksana, Yang Mahaadil, Yang Maha Mengetahui, dan Yang
Mahasempurna, tidak satu pun yang berasal dariku kecuali dalam satu aspek yang
bersesuaian. Firman-Ku, "Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan
merekalah yang akan ditanyai (QS Al-Anbiya [21] : 23) -memperlihatkan bahwa
Aku-lah Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana dan bahwa perbuatan-perbuatan
Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana tidaklah perlu dipertanyakan.
Sebaliknya, merekalah yang dipertanyakan karena kebodohan-nya tentang kebenaran
dan ketidakmampuan untuk menempatkan segala sesuatu di tempat yang benar.
Seandainya kamu, seperti Aku, mengetahui tentang hakikat segala sesuatu, baik
yang telah lalu maupun yang sekarang, tentulah kamu tidak akan menjadi
orang-orang yang ditanya tentang apa yang mereka lakukan. Adapun Aku, Akulah
Yang Maha Mengetahui, Yang Mahabijaksana, Yang Mahasempurna. Sepenuhnya
tidaklah pantas jika pertanyaan-pertanyaan diajukan sehubungan dengan
perbuatan-perbuatan-Ku, karena Aku tidak melakukan apa pun kecuali bersesuaian
dengan ilmu dan kebijaksanaan-Ku serta dalam cara yang setepat-tepatnya. Oleh
karena itulah Aku berfirman, " ... tidak ada yang tersembunyi daripada-Nya
seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada
(pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan terdapat dalam
Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS Saba
[34] : 3). Itulah titah dari Yang Mahakuasa, Yang Maha Mengetahui. |
| tulis
komentar! :: kirim ke teman!
|
Share and enjoy









