|
La qad kunta fii ghaflatim min
haadzaa fa kasyafnaa ‘anka ghithaa-aka fa basharukal yauma
hadid. ( Sungguh engkau berada dalam
kelalaian tentang ini. Maka Kami bukakan/hilangkan darimu apa yang menutupimu,
maka penglihatanmu hari ini sangat tajam ) QS. Qaaf (50) : 22 Perintah Allah yang
dibawa Nabi saw. bagi kaum muslimin sekembalinya dari isra’ dan mi’raj adalah
shalat. Dalam mi’raj, Nabi saw. berjumpa dengan Allah swt. tanpa perantara. Jibril
pun hanya sanggup mengantarkan Nabi sampai di sidratul muntaha. Sidratul
muntaha adalah “batas” sejauh yang dapat dicapai oleh mahluk selain manusia
dalam pencapaian makrifat kepada-Nya. Itulah mengapa dahulu malaikat
diperintahkan sujud kepada Adam, karena memang manusia memiliki kesanggupan
yang lebih tinggi untuk mencapai dan memperoleh ilmu dari-Nya dan untuk
mencapai kedudukan makrifat hakiki.
Di saat itu Allah menyampaikan wahyu secara langsung kepada Nabi, yang
di antaranya adalah perintah shalat.
Dari sinilah kaum muslimin memperoleh jalan untuk dapat sampai kepada
Allah, yaitu dengan cara “mendirikan” shalat, sebagai sarana yang diberikan
Allah kepada hamba-Nya untuk dapat berhubungan dan mendekat kepada-Nya. Kaum muslimin memang
diperintahkan untuk shalat. Kata yang digunakan Al Qur’an mendahului kata
shalat dalam rangkaian kalimat perintah shalat adalah “tegakkanlah” atau
“dirikanlah”. Bukan sekedar laksanakan atau kerjakan. Sebab, memang ada
perbedaan antara menegakkan dengan sekedar melaksanakan. Di dalam kata
“tegakkan” ada semacam “tuntutan” untuk mewujudkan makna dan hakikat shalat ke
dalam jiwa dan memantulkannya ke segala arah. Apa yang dikehendaki Allah dari
penegakkan shalat tidak saja memberi pengaruh bagi perkembangan jiwa seorang
hamba tetapi juga memberikan pengaruhnya secara nyata kepada segala sesuatu
yang ada di sekelilingnya. Itulah mengapa rangkaian gerakan dalam shalat
diakhiri degan mengucapkan “salam sejahtera” ke arah kanan dan kiri. Dengan
kata lain, penegakkan shalat adalah sebuah jalan pelatihan dan pembentukkan jiwa
seorang hamba ke arah puncak kesempurnaan karena ia berusaha melekatkan
sifat-sifat keagungan dan kemurahan Tuhan ke dalam jiwanya atas dasar kesucian
dengan selalu menghubungkan hatinya kepada Allah, dan juga memancarkan
sifat-sifat keagungan dan kemurahan Tuhan dalam dirinya tersebut agar dapat
dirasakan oleh seluruh alam semesta. Apa yang ingin saya
sampaikan dalam tulisan ini adalah sebatas ingin mengungkapkan hakikat shalat dalam
perspektif yang berbeda dengan merujuk kepada pendapat para ahli makrifat,
dengan harapan agar penghayatan kita selanjutnya dalam penegakkan shalat dapat
masuk ke dalam “alam mi’raj ruhani”. Ada tujuh tingkatan jiwa, tujuh posisi
dalam shalat, tujuh ayat dalam Surah Al-Fatihah, dan tujuh tingkatan
pengetahuan, yang semuanya berjalin berkelindan dengan sangat indah. Lewat shalat,
manusia menyempurnakan jiwanya selapis demi selapis, sebagaimana diisyaratkan
di bawah ini. al-nafs
al-ammãrah : Jiwa yang memerintah. Al-Quran menyebut
jiwa ini, “... Sungguh, jiwa (manusia) menyuruh berbuat kejahatan ...” (QS
Yusuf [12] : 53). Nafs ini ada dalam
alam indera dan dikuasai oleh berbagai hasrat dan keinginan dunia rendah.
Perjuangan dalam tahap-tahap awal Perjalanan Spiritual adalah melawan al-nafs
al-ammãrah. Al-nafs al-ammãrah adalah islam tahap pertama,
serupa dengan posisi berdiri (qiyam) dalam shalat. al-nafs al-ammãrah berarti tahapan jiwa melakukan perjalanan
menuju Allah. al-nafs
al-lawwãmah : Jiwa yang mencela. Al-Qur’an menyebut
jiwa ini, “Dan Aku bersumpah demi jiwa yang mencela” (QS Al-Qiyamah [75] : 2).
Jiwa ini menyadari dan mengetahui berbagai kekurangannya. Perjalanan yang
ditempuhnya adalah demi Allah. al-nafs al-lawwãmah adalah anak tangga
kedua (iman) dalam tangga pengetahuan, serupa dengan posisi rukuk dalam shalat.
al-nafs al-lawwãmah telah dipasang atas diri kaum sufi agung, untuk
menjaga mereka dari sikap membangga-banggakan diri. al-nafs
al-mulhammah : Jiwa yang terilhami. Al-Qur’an menyebut
jiwa ini, “Demi jiwa dan penyempurnaan-nya. Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa
itu ...” (QS Al-Syams [91] : 7-8). Jiwa ini menjauhkan manusia dari kejahatan
dan mampu melihat sarana yang akan mengantarkannya menuju Kebahagiaan. Ia
melakukan perjalanan di bawah pengawasan Allah. al-nafs al-mulhammah adalah anak tangga ketiga (ihsan)
dalam tangga pengetahuan, serupa dengan posisi berdiri kedua (i’tidal)
dalam shalat. al-nafs
al-muthma’innah : Jiwa yang tenang. Al-Qur’an menyebut jiwa
ini, “Wahai jiwa yang tenang” (QS Al-Fajr [89] : 27). Jiwa ini tenang karena
beristirahat dalam keyakinan terhadap Allah. Ia telah dipadukan kembali dengan
Ruh. al-nafs al-muthma’innah melakukan perjalanan bersama Allah. Ia
adalah anak tangga ke-empat (‘ilm al-yaqin) dalam tangga pengetahuan,
serupa dengan sujud (sajdah) pertama dalam shalat. al-nafs
al-rãdhiyyah : Jiwa yang ridha. Al-Qur’an menyebut jiwa
ini, “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha ...” (QS Al-Fajr [89] :
28). Jiwa ini ridha dengan dirinya sendiri karena keseimbangan harmonis dari
berbagai karakter mulianya. Jiwa ini hilang dalam Allah dan melakukan
perjalanannya di dalam Allah. al-nafs al-rãdhiyyah adalah anak tangga
ke-lima (‘ayn al-yaqin) dalam tangga pengetahuan, serupa dengan posisi
duduk (jalsah) pertama dalam shalat. al-nafs
al-mardhiyyah : Jiwa yang diridhai Allah. Al-Qur’an
menyebut jiwa ini, “ ... dan diridhai-Nya” (QS Al-Fajr [89] : 28). Jiwa ini
mengalami kebingungan dalam melakukan perjalanan dari Allah. Kebingungan disini
adalah keadaan jiwa yang mengalami keadaan yang tidak pernah dialami sebelumnya,
yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. al-nafs al-mardhiyyah adalah
anak tangga ke-enam (haqq al-yaqin) dalam tangga pengetahuan, serupa
dengan posisi sujud (sajdah) kedua dalam shalat. al-nafs
al-kãmilah : Jiwa paripurna. Al-Qur’an menyebut jiwa ini,
“Masuklah dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah dalam surgaKu”. (QS Al-Fajr
[89] : 29-30). Inilah tahap terakhir (ke-tujuh) dalam perkembangan jiwa menuju
sang Jiwa (isbath al-yaqin), Inilah tahap Islam hakiki ketika sang hamba
terus menerus melakukan perjalanan bersama Allah. al-nafs al-kãmilah
serupa dengan posisi duduk (jalsah) kedua dalam shalat. al-nafs
al-kãmilah dicapai dengan Rahmat Allah. (lihat
al-islam, jalsah, shalah) Uraian mengenai tujuh gerakan dalam
shalat di atas menunjukkan tujuh tahap perjalanan jiwa manusia dalam mencapai
kesempurnaannya. Agar manusia dapat menghambakan dirinya secara benar dan mampu
secara sempurna menjalankan perannya sebagai penabur rahmat bagi semesta alam,
maka Allah memberikan “kunci” bagi setiap jiwa agar dapat berhubungan
dengan-Nya secara benar, sehingga dapat menghantarkannya kepada keselamatan dan
ridha Allah. Jika setiap muslim berupaya mengerahkan segala daya dan
kemampuannya dalam menghadapkan dan membawa jiwa dan hatinya kepada Allah,
sebagaimana dalam makna-makna gerakan shalat di atas, maka ia akan selalu
melahirkan perilaku, sikap dan tutur kata yang memancarkan sifat-sifat
Kesucian, Keagungan dan Kasih Sayang Allah. Dengan demikian dia termasuk
orang-orang yang benar-benar menegakkan shalat dan bukan termasuk ke dalam
kategori orang-orang yang “lalai dalam shalatnya”
atau mereka yang dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Shalat
mereka di sekitar Baitullah hanyalah siulan dan tepuk tangan belaka ... “.
|
| tulis
komentar! :: kirim ke teman!
|
Share and enjoy









