3/25/2006 - Miraj Ruhani

La qad kunta fii ghaflatim min haadzaa fa kasyafnaa ‘anka

ghithaa-aka fa basharukal yauma hadid.

( Sungguh engkau berada dalam kelalaian tentang ini. Maka Kami bukakan/hilangkan darimu apa yang menutupimu, maka penglihatanmu

hari ini sangat tajam ) QS. Qaaf (50) : 22

Perintah Allah yang dibawa Nabi saw. bagi kaum muslimin sekembalinya dari isra’ dan mi’raj adalah shalat. Dalam mi’raj, Nabi saw. berjumpa dengan Allah swt. tanpa perantara. Jibril pun hanya sanggup mengantarkan Nabi sampai di sidratul muntaha. Sidratul muntaha adalah “batas” sejauh yang dapat dicapai oleh mahluk selain manusia dalam pencapaian makrifat kepada-Nya. Itulah mengapa dahulu malaikat diperintahkan sujud kepada Adam, karena memang manusia memiliki kesanggupan yang lebih tinggi untuk mencapai dan memperoleh ilmu dari-Nya dan untuk mencapai kedudukan makrifat hakiki. Di saat itu Allah menyampaikan wahyu secara langsung kepada Nabi, yang di antaranya adalah perintah shalat. Dari sinilah kaum muslimin memperoleh jalan untuk dapat sampai kepada Allah, yaitu dengan cara “mendirikan” shalat, sebagai sarana yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk dapat berhubungan dan mendekat kepada-Nya.

Kaum muslimin memang diperintahkan untuk shalat. Kata yang digunakan Al Qur’an mendahului kata shalat dalam rangkaian kalimat perintah shalat adalah “tegakkanlah” atau “dirikanlah”. Bukan sekedar laksanakan atau kerjakan. Sebab, memang ada perbedaan antara menegakkan dengan sekedar melaksanakan. Di dalam kata “tegakkan” ada semacam “tuntutan” untuk mewujudkan makna dan hakikat shalat ke dalam jiwa dan memantulkannya ke segala arah. Apa yang dikehendaki Allah dari penegakkan shalat tidak saja memberi pengaruh bagi perkembangan jiwa seorang hamba tetapi juga memberikan pengaruhnya secara nyata kepada segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Itulah mengapa rangkaian gerakan dalam shalat diakhiri degan mengucapkan “salam sejahtera” ke arah kanan dan kiri. Dengan kata lain, penegakkan shalat adalah sebuah jalan pelatihan dan pembentukkan jiwa seorang hamba ke arah puncak kesempurnaan karena ia berusaha melekatkan sifat-sifat keagungan dan kemurahan Tuhan ke dalam jiwanya atas dasar kesucian dengan selalu menghubungkan hatinya kepada Allah, dan juga memancarkan sifat-sifat keagungan dan kemurahan Tuhan dalam dirinya tersebut agar dapat dirasakan oleh seluruh alam semesta.

Apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah sebatas ingin mengungkapkan hakikat shalat dalam perspektif yang berbeda dengan merujuk kepada pendapat para ahli makrifat, dengan harapan agar penghayatan kita selanjutnya dalam penegakkan shalat dapat masuk ke dalam “alam mi’raj ruhani”.

Ada tujuh tingkatan jiwa, tujuh posisi dalam shalat, tujuh ayat dalam Surah Al-Fatihah, dan tujuh tingkatan pengetahuan, yang semuanya berjalin berkelindan dengan sangat indah. Lewat shalat, manusia menyempurnakan jiwanya selapis demi selapis, sebagaimana diisyaratkan di bawah ini.

al-nafs al-ammãrah :

Jiwa yang memerintah. Al-Quran menyebut jiwa ini, “... Sungguh, jiwa (manusia) menyuruh berbuat kejahatan ...” (QS Yusuf [12] : 53). Nafs ini ada dalam alam indera dan dikuasai oleh berbagai hasrat dan keinginan dunia rendah. Perjuangan dalam tahap-tahap awal Perjalanan Spiritual adalah melawan al-nafs al-ammãrah. Al-nafs al-ammãrah adalah islam tahap pertama, serupa dengan posisi berdiri (qiyam) dalam shalat. al-nafs al-ammãrah berarti tahapan jiwa melakukan perjalanan menuju Allah.

al-nafs al-lawwãmah :

Jiwa yang mencela. Al-Qur’an menyebut jiwa ini, “Dan Aku bersumpah demi jiwa yang mencela” (QS Al-Qiyamah [75] : 2). Jiwa ini menyadari dan mengetahui berbagai kekurangannya. Perjalanan yang ditempuhnya adalah demi Allah. al-nafs al-lawwãmah adalah anak tangga kedua (iman) dalam tangga pengetahuan, serupa dengan posisi rukuk dalam shalat. al-nafs al-lawwãmah telah dipasang atas diri kaum sufi agung, untuk menjaga mereka dari sikap membangga-banggakan diri.

al-nafs al-mulhammah :

Jiwa yang terilhami. Al-Qur’an menyebut jiwa ini, “Demi jiwa dan penyempurnaan-nya. Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa itu ...” (QS Al-Syams [91] : 7-8). Jiwa ini menjauhkan manusia dari kejahatan dan mampu melihat sarana yang akan mengantarkannya menuju Kebahagiaan. Ia melakukan perjalanan di bawah pengawasan Allah. al-nafs al-mulhammah adalah anak tangga ketiga (ihsan) dalam tangga pengetahuan, serupa dengan posisi berdiri kedua (i’tidal) dalam shalat.

al-nafs al-muthma’innah :

Jiwa yang tenang. Al-Qur’an menyebut jiwa ini, “Wahai jiwa yang tenang” (QS Al-Fajr [89] : 27). Jiwa ini tenang karena beristirahat dalam keyakinan terhadap Allah. Ia telah dipadukan kembali dengan Ruh. al-nafs al-muthma’innah melakukan perjalanan bersama Allah. Ia adalah anak tangga ke-empat (‘ilm al-yaqin) dalam tangga pengetahuan, serupa dengan sujud (sajdah) pertama dalam shalat.

al-nafs al-rãdhiyyah :

Jiwa yang ridha. Al-Qur’an menyebut jiwa ini, “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha ...” (QS Al-Fajr [89] : 28). Jiwa ini ridha dengan dirinya sendiri karena keseimbangan harmonis dari berbagai karakter mulianya. Jiwa ini hilang dalam Allah dan melakukan perjalanannya di dalam Allah. al-nafs al-rãdhiyyah adalah anak tangga ke-lima (‘ayn al-yaqin) dalam tangga pengetahuan, serupa dengan posisi duduk (jalsah) pertama dalam shalat.

al-nafs al-mardhiyyah :

Jiwa yang diridhai Allah. Al-Qur’an menyebut jiwa ini, “ ... dan diridhai-Nya” (QS Al-Fajr [89] : 28). Jiwa ini mengalami kebingungan dalam melakukan perjalanan dari Allah. Kebingungan disini adalah keadaan jiwa yang mengalami keadaan yang tidak pernah dialami sebelumnya, yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. al-nafs al-mardhiyyah adalah anak tangga ke-enam (haqq al-yaqin) dalam tangga pengetahuan, serupa dengan posisi sujud (sajdah) kedua dalam shalat.

al-nafs al-kãmilah :

Jiwa paripurna. Al-Qur’an menyebut jiwa ini, “Masuklah dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah dalam surgaKu”. (QS Al-Fajr [89] : 29-30). Inilah tahap terakhir (ke-tujuh) dalam perkembangan jiwa menuju sang Jiwa (isbath al-yaqin), Inilah tahap Islam hakiki ketika sang hamba terus menerus melakukan perjalanan bersama Allah. al-nafs al-kãmilah serupa dengan posisi duduk (jalsah) kedua dalam shalat. al-nafs al-kãmilah dicapai dengan Rahmat Allah. (lihat al-islam, jalsah, shalah)

Uraian mengenai tujuh gerakan dalam shalat di atas menunjukkan tujuh tahap perjalanan jiwa manusia dalam mencapai kesempurnaannya. Agar manusia dapat menghambakan dirinya secara benar dan mampu secara sempurna menjalankan perannya sebagai penabur rahmat bagi semesta alam, maka Allah memberikan “kunci” bagi setiap jiwa agar dapat berhubungan dengan-Nya secara benar, sehingga dapat menghantarkannya kepada keselamatan dan ridha Allah. Jika setiap muslim berupaya mengerahkan segala daya dan kemampuannya dalam menghadapkan dan membawa jiwa dan hatinya kepada Allah, sebagaimana dalam makna-makna gerakan shalat di atas, maka ia akan selalu melahirkan perilaku, sikap dan tutur kata yang memancarkan sifat-sifat Kesucian, Keagungan dan Kasih Sayang Allah. Dengan demikian dia termasuk orang-orang yang benar-benar menegakkan shalat dan bukan termasuk ke dalam kategori orang-orang yang “lalai dalam shalatnya” atau mereka yang dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Shalat mereka di sekitar Baitullah hanyalah siulan dan tepuk tangan belaka ... “.


tulis komentar! :: kirim ke teman!

Share and enjoy
  • Digg
  • del.icio.us
  • DZone
  • Netvouz
  • NewsVine
  • Reddit
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • YahooMyWeb

akses : www.fana-insight.tk (ada pop-up) www.fana-insight.tux.nu (tanpa pop-up)

Bacaan Lainnya
Menu
Ingatlah Allah!


Links
  • My Wall

  • sufinews.com
  • mataharitimoer
  • akmaliah.com
  • nimatullahi
  • islam.com
  • sahifa sajadiyah
  • mukmin script
  • FORUM DISKUSI
  • Fana' Community
  • Free Blog


Tinggalkan Pesan
Name :
Web URL :
Message :



Entry 1 of 31
Last Page | Next Page