Lailatul qadr katanya malam yang ganjil pada bulan
Ramadhan. Tak jelas makna ganjilnya, apakah ganjil dalam hitungan hari atau
ganjil dalam suasana. "keganjilan" itu adalah sebuah suasana yang berbeda yang
dialami oleh seseorang. Apakah orang-orang yang mendapatkan moment lailatul
qadr itu hanyalah orang yang sudah sering dan terbiasa beribadah? Apakah
orang-orang yang baru kali ini beribadah Ramadhan, baru kali ini mencoba
menyapa Tuhannya, bisa mendapatkan moment lailatul qadr? Aku rasa siapa saja
bisa. Tak mesti mereka yang sudah senior dalam agama. Karena senioritas itu
tidak dikenal dalam agama. Yang penting dalam agama itu adalah pengalaman
keberagamaan itu sendiri, yaitu bagaimana seseorang mampu memaknai dan
menginsyafi setiap sikap keberagamaannya, baik buruk maupun baik. Sebab iman
itu naik turun. Seperti sinyal handphone, kadang full kadang melorot.
"As-Sinyalu (eh Al-Imaanu) yazid wa yankus" kalau kata Nabi Muhammad SAW. Jadi
lailatul qadr itu pengalaman spiritual yang sangat bersifat individual dan
misterius. Bahkan orang yang konon mendapatkan "keganjilan malam" itu juga tak
dapat mendeskripsikan pengalaman pribadinya.
Ada beberapa
anak muda di kampung saya yang mengajak begadang, karena menunggu datangnya
lailatul qadr. Wah, ini aneh sekali. Aku menolak ikut karena memang tak bisa
mengerti kenapa lailatul qadr itu mesti dibegadangin. Toh yang namanya hidayah
itu datangnya tak terduga. Beda kalau kita nunggu Laila anaknya Haji Kodar, itu
sih gampang, tinggal tungguin aja di pintu mushola setelah tarawih, dijamin
pasti ketemu (kalu dia lagi tidak kedatangan tamu, sih). Lailatul qadr tidak
perlu ditunggu-tunggu. Yang penting jalanin saja hidup ini dengan khusyu,
dengan I´tidal, yaitu dengan tingkat konsentrasi untuk memaknai apa yang kita
lakukan.
Namun yang penting dari semua itu adalah efek yang terwujud dalam kehidupan
nyata sang pemeluk agama. Apakah dimensi spiritual Ramadhan itu memberikannya
peningkatan akan kualitas empati, emosional, intelektual, dan moral. Ramadhan
itu bukan hanya puasa dalam arti menahan lapar dan haus. Juga bukan terapi
kejut, yang hanya berlaku selama 30 hari saja. Ramadhan adalah ruang-waktu
untuk mengasah kualitas manusia dengan berbagai dimensinya. Kecerdasan
emosional, sikap empati, rendah hati, ketajaman analisis, kecerdasan nalar, dan
yang lebih penting dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara adalah,
kemampuan untuk mengeliminir syahwat politik dan kekuasaan, gairah korupsi dan
manipulasi.
04/11/04 2:46 AM
|