|
Karakter
adalah ciri yang membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Ia bersifat
unik dan distingue. Tentunya saat ini kita bisa membedakan seorang siswa
yang dididik oleh sekolah beragama dengan sekolah nasional (negeri).
Sekolah-sekolah yang agamis, biasanya mendoktrin siswanya dengan nilai-nilai
agama yang sangat mempengaruhi semangat juang dalam setiap kesempatan, terutama
dalam ajang perlombaan antar sekolah. Pernah saya berdialog dengan tiga orang
siswa sekolah di Jabotabek dalam waktu dan tempat yang berbeda. Yang pertama
adalah siswa Sekolah Negeri. Ketika saya tanyakan tentang keyakinannya untuk
memenangkan perlombaan, dengan menunduk dia menjawab kalau keikutsertaannya
dalam lomba hanya kebetulan saja. Ia sama sekali tak berharap kemenangan,
karena baginya yang penting adalah dapat mewakili sekolahnya berpartisipasi dalam
lomba tersebut. Jika tidak menang, tambahnya, itu merupakan nasib yang kurang
menguntungkan saja. Lagipula, tambahnya, biasanya lomba-lomba seperti ini
memang sudah biasa dimenangkan oleh sekolah orang-orang kaya. Ketika
pertanyaan yang sama saya ajukan kepada dua orang siswa sekolah beragama, siswa
dari Sekolah Nasrani menjawab kalau dia yakin bisa memenangkan lomba tersebut.
Karena secara akademis dia yakin telah menguasai pelajaran yang dilombakan, dan
secara ideologis, dia ingin mengharumkan nama sekolah nasraninya sebagai
sekolah terbaik dan terbiasa menjuarai lomba-lomba antar sekolah. Singkatnya,
siswa tersebut mempunyai mental juara. Bagaimana kalau anda gagal, pertanyaan
saya berikutnya. Jawabannya tegas, saya tak mau gagal, akan saya tunjukkan
kalau sekolah kami selalu lebih baik dari sekolah lainnya. Siswa
ketiga berasal dari Sekolah Islam. Ia mengikuti lomba ini karena kepercayaan
yang diberikan kepada sekolahnya terhadap prestasinya selama ini. Dia berusaha
seoptimal mungkin menjadi juara sehingga mampu membuktikan bahwa sekolah Islam
adalah sekolah terbaik. Kalaupun dia gagal, mungkin itu bagian dari
kelemahannya, dan dia tetap bangga menjadi duta dari sekolahnya. Namun jika dia
juara, Allah telah mengamanatkan untuk senantiasa mempertahankan kemenangan
dengan peningkatan kualitasnya. Jelas dari
jawaban ketiga siswa tadi, kita dapat meraba karakter setiap peserta. Karakter
itu terbentuk karena pendidikan yang setiap hari diterimanya di sekolah. Siswa
yang tidak sekedar mendapatkan pendidikan akademik tapi juga pendidikan
religius, terlihat lebih percaya diri, lebih yakin, dan bertanggungjawab. Bagaimana
dengan siswa sekolah kita? Untuk
membentuk siswa yang berkarakter, kita perlu mengevaluasi dan meng-upgrade beberapa aspek dalam sekolah kita.
Aspek tersebut adalah ; 1. Peserta didik, 2. Kurikulum, 3. Guru, 4. Lingkungan. 1. Peserta didik Dalam sebuah permainan puzzle, seseorang mencoba merangkai satu
demi satu bagian puzzle tersebut. Dia
berusaha keras merangkai kepingan demi kepingan dengan tujuan terbentuknya satu
model atau gambar yang utuh. Berjam-jam ia belum juga dapat menyelesaikan
mainan walau sudah terbayang dalam pikirannya, gambar apa yang akan tercipta
dari kepingan puzzle tersebut. Makin
lama iapun berdiri dan meninggalkan mainannya. Ia bilang, walaupun tak berhasil
membentuk gambar yang semestinya, paling tidak ia telah berusaha dan dia
menikmati usaha yang telah dilakukannya. Ia berpikir, yang penting usahanya,
bukan hasilnya. Wajar saja ia tak mencapai hasil yang
diharapkannya karena sebenarnya ia sendiri tak tahu gambar apa yang akan
terbentuk jika puzzle itu bisa ia
selesaikan. Ia sama sekali tak pernah mau melihat contoh gambar yang menjadi
tujuan puzzle tersebut. Padahal dia
memiliki selembar kecil gambar utuh dari permainan tersebut. Jika dia mau
melihat dan membandingkan antara gambar yang menjadi target dengan
kepingan-kepingan yang dia rakit, saya yakin dia bisa menyelesaikannya dengan
baik. Terhadap peserta didik. Jika diibaratkan
sebagai kepingan puzzle, target
apakah yang akan kita rangkai? Ini pertanyaan sederhana yang sering dilupakan
para pendidik. Beberapa orang guru yang pernah saya ajak bercengkrama bahkan
sama sekali tak bisa menjawab ketika saya bertanya, mau dibentuk seperti apa
anak didik anda? Mau dijadikan apa mereka? Pertanyaan ini saya lontarkan karena
saya tak mau kita hanya menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari,
berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk merangkai puzzle yang tak pernah kita tahu bentuk
finalnya. Setiap guru harus memahami master
plan dari pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. Master plan itulah yang menjadi visi dan
misi sekolah. Dan seperti merangkai puzzle,
guru harus melakukan evaluasi, apakah pekerjaannya telah sesuai dengan
target-target yang merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan utama. Jadi, apakah sekolah anda memiliki master plan? Bagaimana anda menjelaskan master plan tersebut kepada semua tenaga
pendidik di sekolah? Inilah yang harus diuraikan dalam aspek kedua, kurikulum. 2. Kurikulum Apa yang harus dicapai oleh peserta didik
tertuang dalam kurikulum. Pemerintah telah menetapkan kurikulum nasional yang
merupakan upaya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Walaupun masih
bersifat abstrak, setiap sekolah berkewajiban menginterpretasikan dan mengkonkretkan
kurikulum pendidikan nasional sesuai dengan kecerdasannya masing-masing. Kurikulum merupakan perangkat utama dalam
mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum juga didesain sebagai upaya untuk
mencapai visi dan misi sekolah. Karena itu penyusunan kurikulum harus
senantiasa berkiblat kepada visi sekolah. Pemerintah telah berbaik hati untuk
membebaskan setiap sekolah menyempurnakan kurikulumnya dengan terma muatan
lokal. 3. Guru Guru adalah agent of change, orang yang bertanggungjawab dalam menciptakan
perubahan. Setiap siswa yang ditangani oleh guru, mesti mengalami perubahan
dari karakter lama kepada karakter baru sebagai orang yang terdidik. Kita harus insyafi bahwa peserta didik
adalah titipan orang tua yang tidak seperti botol kosong. Mereka diserahkan
kepada guru dengan segala kepribadian dan masalah multidimensional. Kepribadian
dan masalah ini tentunya terbentuk dari lingkungan sebelum peserta didik
tersebut masuk dalam lingkungan sekolah kita. Sebagai agent of change, guru berusaha mengubah realitas kini (siswa dengan
segala kondisi yang dipengaruhi latar belakangnya) menjadi realitas baru,
ketika siswa telah mengenyam pendidikan beberapa tahun. Tantangan bagi agent of change sudah kita maklumi. Selain permasalahan latar
belakang keluarga, dimana anak didik mendapatkan kebiasaan lazim dan persepsi
orang tuanya, mereka juga memiliki latar belakang masalah secara sosial dan
global. Latar belakang sosial sangat mempengaruhi perilaku siswa. Pola
pergaulan, persepsi masyarakat tempatnya berinteraksi merupakan hal penting
yang harus dianalisis. Selain itu efek global dari teknologi informasi juga hal
penting yang harus dikaji oleh guru. Kita telah paham bagaimana kehebatan media
televisi dan internet dalam mengubah budaya anak-anak kita. Inilah tantangan
yang dihadapi oleh guru sebagai agent of
change. 4. Lingkungan Berangkat dari pemahaman akan latar
belakang siswa, sekolah harus mendesain tata sosial baru bagi semua anggota
komunitas pendidikan. Tata sosial ini sangat penting mengingat format yang
telah dibentuk oleh latar belakang siswa sebelum memasuki sekolah ini.
Lingkungan yang harus dibentuk oleh sekolah merupakan sebuah sistem dalam
menerapkan kurikulum pendidikan dan pencapaian visi. Manajemen sekolah adalah pengendali
bahtera sekolah. Kebijakan yang dibuat oleh manajemen sangat menentukan
perjalanan sekolah tersebut. Dalam satu kasus, manajemen sekolah harus menyusun
kebijakan yang mudah dipahami oleh semua anggota komunitas sekolah, mulai dari
guru, karyawan, hingga siswa. Tidak jarang terjadinya misunderstanding, bukan
karena murni pelanggaran, tetapi karena ketidakpahaman dalam mencerna arti
sebenarnya dari sebuah kebijakan. Misal, seorang guru yang diberikan
tanggung jawab menangani beberapa siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler kurang
ekspresif dalam bekerja. Penyebabnya adalah karena guru tersebut tidak memahami
job description yang menggunakan
istilah yang terlalu umum dan multi interpretasi, tidak memakai istilah yang
spesifik dan atau konkret. Begitupun dalam menyusun peraturan. Kesimpulannya,
apapun kebijakan yang diciptakan oleh manajemen, usahakan agar menggunakan
istilah yang spesifik bahkan bila perlu sangat teknis. Seperti ketika kita membuka perangkat
elektronik baru, untuk mengoperasikannya kita butuh manual book. Bayangkan bila
manual book tersebut tidak mudah dipahami. Mungkin saja alat baru tersebut bisa
beroperasi normal, dan bisa jadi justru abnormal. Bahkan kebijakan tersebut harus mencakup
pada urusan anggaran sekolah, sarana dan prasarana, serta yang paling penting
adalah panduan membentuk keluarga dalam lingkungan sekolah. Yang terakhir ini
biasanya diterapkan pada sekolah berasrama. sekolah adalah sebuah sistem dan setiap komponen dari sistem
mesti bekerja sesuai dengan fungsinya hingga dapat dikatakan berjalan. Jika
kita mampu mendesain system sekolah sesuai dengan master plan yang telah dipahami, insya Allah, sekolah kita memiliki
karakter yang khas. Sehingga, ketika lulusan sekolah ini berinteraksi pada
dunia barunya, orang-orang mampu merasakan karakter yang benar-benar jelas dan
pasti. Karena itu, mulailah dengan memahami gambar apa yang akan kita buat dari
rangkaian puzzle di sekitar kita. Elok, 30
Mei 2005 |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy






































