|
Sekumpulan orang mencipta keriuhan.
Lingkaran nasib menyatukan mereka. Mereka sedang pesta, bukan dialog, bukan demontrasi, apalagi sidang istimewa. Bukan! Mereka bukan orang-orang yang suka ikut-ikutan acara "begituan". Mereka tak punya ambisi politik, tak pernah sok aspiratif, tak mau jadi pahlawan bangsa, tak sudi jadi pembela rakyat. Sebab mereka rakyat yang sesungguhnya. Tapi mereka tak pernah mengemis untuk dibela. Karena pernah ada sekelompok makhluk hidup berwujud manusia juga yang bilangnya mau membela mereka tapi pada kenyataannya malah ngibul, hanya memanfaatkan mereka untuk kepentingan partainya dan kepentingannya sendiri. Mereka tap lagi percaya siapa-siapa. Mereka cuma percaya Tuhan itu ada dan kemunafikan lebih ada. Mereka yakin ada yang Maha Kuasa dan lebih ada lagi monopoli kekuasaan. Mereka lebih percaya kepada hidup yang serba riil, serba keras, serba menyakitkan, dan serba menyudutkan derajat kemanusiaan mereka. Saat orang-orang yang mengaku wakil rakyat sibuk bercengkrama di gedung DPR/MPR, dan istirahat di hotel berbintang, saat para calon presiden dan wakil presiden berkampanye, saat mahasiswa berpesta demontrasi dan meluapkan emosi, mereka juga pesta pora di bawah jembatan layang. Semua adalah peserta dan sekaligus panitia bagi dirinya sendiri. Tidak ada tempat istirahat mewah seperti dewa-dewa kecil di DPR/DPRD, tidak ada yang menyediakan konsumsi, tidak ada basa-basi! Mereka bernyanyi, menari, teriak, riang gembira. Sepertinya di pesta inilah mereka berekspresi, menyalurkan bakat. Karena untuk ikut AFI atau Indonesian Idol tak punya gengsi. Di sinilah mereka menyuarakan aspirasinya sendiri. Meluapkan segala rasa yang membuat mereka bingung dan selalu bermimpi. Syair yang mereka nyanyikan kira-kira seperti ini : Reformasi,
kami nggak ngerti! Demokrasi,
kami butuh nasi! Demontrasi,
kami tetap tersisih! Apa
yang kalian lihat dari kami Apa
yang kalian minta pada kami Bilang
saja, jangan sok peduli Bukan
kami tak percaya, Bukan
kami curiga, Kami
sudah sering dimaki Kami
sudah sering dikhianati Reformasi,
kami nggak ngerti! Demokrasi,
kami butuh nasi! Demontrasi,
kami masih begini! Jangan
bilang kami malas! Perut
kami selalu mules Jangan
bilang kami bodoh! Kantong
kami tak pernah bisa dirogoh Jangan
bilang kami miskin! Keringat
kami paling asin Sudah,
sudahlah jangan banyak bicara! Sudah,
sudahlah jangan banyak berkhotbah! Sudah,
sudahlah apa kalian nggak lelah?! Terus
saja cari mimpi kalian Kamipun
terus bermimpi Terus
saja kejar ambisi kalian Tapi
jangan bilang demi kami! Kami
di sini tetap begini Reformasi,
kami nggak ngerti! Demokrasi,
bukan mimpi kami! Biar
kami di sini tetap begini! Mencoba temui Tuhan untuk bernegosiasi Itulah syair mereka. Semua bernyanyi, menari, berlari-lari kesana-kemari. Tetap dalam lingkaran di bawah jembatan layang. Sepertinya mereka senang, karena kelihatan riang. Sementara si bocah asyik tidur sambil menggenggam kerop-kerop yang digunakan untuk mengamen. Dia tak terganggu oleh pesta di sekitarnya. Ilernya menunjukkan ia tidur nyenyak sekali. Sementara si Pus, kucing piaraannya asyik menjilat-jilat tangannya yang masih bau amis bekas memegang ikan asin di warung nasi. Sementara yang lain sibuk kampanye, sibuk berjanji, sibuk menghambur-hamburkan uang miliaran rupiah, yang sebenarnya dapat mengubah nasib mereka. Waduh! Sayang sekali! |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy






































