|
(Sebuah esai yang tak selesai) Teknologi informasi adalah
perangkat pendukung dalam akselerasi belajar. Dengan memanfaatkan teknologi
informasi guru dan siswa dapat melakukan berbagai kegiatan menjelajah ilmu
pengetahuan maupun mengasah kreatifitas. Teknologi informasi yang diangkat
dalam tulisan ini adalah Internet dan Radio. Sudah menjadi standar umum
bahwa teknologi internet dapat meningkatkan daya jelajah setiap orang dalam
mengembangkan pengetahuannya. Selain itu, internet juga dapat dimanfaatkan
sebagai sarana komunikasi yang cukup murah bila dibandingkan dengan mobile
phone. Bahkan dengan internet, komunikasi bisa dilakukan bukan hanya dalam
bentuk suara, tapi juga visual. Hal ini sangat bermanfaat dalam melakukan
teleconference. Seorang siswa bisa
bercengkrama dengan orang tua atau anggota keluarganya dengan memanfaatkan
fitur audio video messenger. Memang diperlukan sebuah PC atau Laptop di kedua
belah pihak. Tapi mengingat manfaatnya, seperangkat PC ataupun laptop kini
sudah menjadi barang biasa dalam sebuah rumah tangga. Selain untuk berkomunikasi,
internet memungkinkan penggunanya membuka berbagai macam informasi yang
dibutuhkan. Untuk menyusun sebuah karya ilmiah, seorang siswa dapat dengan
mudah mencari bahan-bahan yang relevan, yang beredar di dunia maya. Untuk guru,
internet sangat penting keberadaannya sebagai media update pengetahuan dan
informasi. Guru yang rajin mengupdate otak dan jiwanya, senantiasa menjadi
sumber mata air bagi siswa-siswanya. Masih banyak manfaat internet
yang dapat kita rasakan jika kita langsung mencobanya. Tetapi, bagaimanapun
manfaat yang ada pada sebuah benda, tetap saja ada orang-orang yang
menyalahgunakannya. Inilah yang perlu diwaspadai oleh setiap diri yang selalu
berupaya menjaga integritas nilai spiritual dan intelektual. Bagaikan berjalan di tengah
belantara informasi, ada banyak lubang-lubang jebakan yang jika kita teledor,
maka akan terjerembab dalam lubang jahiliyah. Lubang-lubang destruktif itu di
antaranya adalah situs-situs deislamisasi pemikiran, demoralisasi budaya, dan
yang paling merajalela adalah situs pornografi/pornoaksi. Bagaimana menyikapi
lubang-lubang tersebut? Saatnya filterisasi dan supervisi dilakukan. Radio adalah media sederhana
yang dapat membentuk sebuah komunitas. Radio lebih mudah dinikmati ketimbang
teknologi informasi lainnya. Selain lebih murah, radio juga dapat menjadi ruang
alternatif bagi pencintanya dalam melakukan curhat dan berekspresi. Perlukah
sebuah sekolah membangun stasiun radio? Jika kita membutuhkan media murah
meriah maka jawabannya adalah perlu. Bagaimana dengan dampak negatifnya? Pahami
ilustrasi saya tentang internet di atas, maka kitapun perlu melakukan kontrol
terhadap radio yang ada di sekitar kita. Namun bukan berarti kita harus
memangkas kreativitas penyiar radio yang bisa berasal dari kalangan guru maupun
siswa itu sendiri. Esai ini saya selesaikan
sampai di sini saja karena keterbatasan saya dalam melanjutkannya dalam bentuk
tulisan. Lagi pula, sepertinya kita tinggal merancang aksi saja ketimbang
terlalu sering corat-coret. 30 Mei 2005 |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy






































