Pagi
ini mang Papay bangun tidur lebih awal. Ada
peluang bisnis baru yang mau disambarnya. Di kota
Raja, negeri Purbadewa sedang terjadi pembangunan besar-besaran yang dimulai
dengan penataan kota.
Jalan-jalan direhabilitasi kembali, diperbagus dan diperindah. Gedung-gedung
makin bersaing ketinggian dan kemolekan. Kini kerajaan Purbadewa ingin mengubah
wujudnya dari kerajaan "lugu dan sederhana" menjadi kerajaan "maju". Entah maju
kemana, yang jelas pasti maju ke depan.
Mang Papay memang memiliki naluri bisnis yang kuat. Ia cepat sekali menangkap
peluang dalam setiap kurun kemajuan. Dulu waktu negeri Purbadewa sedang dalam
masa transisi dari kerajaan tertinggal ke kerajaan maju, dari era agraris ke
era industri, mang Papay membangun sebuah pondok di kaki bukit. Tempat itu
sangat diminati banyak orang yang mengalami transisi kultural dan pemikiran,
untuk bercengkrama tentang segala hal yang terjadi dan mungkin terjadi di
seantero negeri. Kini pada masa peralihan dari era industrialisasi ke era informasi,
atau dengan istilah trend-nya "globalisasi", mang papay tidak lagi menunggu
pengunjung datang ke pondoknya. Itu tak mungkin terjadi lagi. Ada dua sebab, pertama karena pondok yang
dimaksud itu sudah tidak berdiri lagi, alias sudah digusur untuk kepentingan
bersama, kepentingan bangsa. Pondok itu sekarang sudah menjadi jalan raya yang
menuju ke Kota Raja. Kedua, karena keinginan mang Papay sendiri yang lebih
mempertimbangkan kelangsungan hidup. Waktu belum terjadi perubahan
kecenderungan zaman ke era globalisasi, ia dan teman-temannya, macam Parikesit
dan mang Odon, tak perlu sibuk memikirkan penghasilan hidup. Sebab sawah yang
memang sudah sangat mengecil areanya masih bisa diandalkan untuk mendukung
kelangsungan hidup, hingga pekerjaan mereka hampir setiap hari hanyalah
ngerumpi saja atau bercengkrama sambil menunggu datangnya kiriman uang dari
pelanggan yang sudah memborong hasil panen sawahnya. Praktis sekali hidup saat
itu.
Kini zaman sudah bergerak. Mang Papay tergusur dari kediamannya. Dengan uang
hasil perhitungan penggusuran, ia harus menentukan sumber hidupnya di zaman
baru ini. Tapi memang ia tak pernah kehabisan akal. Mang Papay, seperti yang
pernah dibilang tadi, pintar membaca gelagat alam, kecenderungan zaman, ia
membangun sebuah rumah mungil di pinggir trotoar jalan menuju Kota Raja. Pas
sekali di mulut gerbang Kota Raja. Mang Papay tidak cuma membangun rumah
mungil. Untuk sumber penghasilannya, ia membuka usaha kecil-kecilan namun bisa
mendapatkan omzet besar-besaran. Ayo tebak, apa yang diperbuat mang Papay?
Mang Odon yang dulu hanya merutinkan hari-harinya di pondok mang Papay, kini
tidak lagi begitu. Ia termasuk orang yang tak memiliki apa-apa untuk mendongkel
beratnya beban kehidupan. Kalau kata tetangga sebelah yang sering menggunjingkan
orang lain, mang Odon ini kelewat santai hidupnya. Ia hampir tak pernah
memikirkan dari mana ia harus memenuhi tanggung jawab terhadap keluarganya. Ia
cukup tenang kalau dirinya sudah mendapatkan makanan dari persediaan makan mang
Papay. Mang Odon digunjingkan juga sebagai "benalu"nya mang Papay. Itu katanya
sebagian besar masyarakat.
Memang selalu saja ada sebagian orang yang kerjanya merilis bahan gunjingan
dalam masyarakat. Mungkin ini alamiah. Kalau tidak ada orang-orang seperti itu,
bisa jadi jalannya masyarakat menjadi pincang, sebab tak ada pemicu untuk
berpikir jernih, mencari jalan keluar atas segala permasalahan. Dan itu adalah
bagian dari dinamika. Padahal apa yang mereka gunjingkan tentang mang Odon
tidak salah juga sih. Memang benar mang Odon tidak punya tanggung jawab
terhadap kelangsungan hidup keluarganya, sebab mang Odon tidak punya keluarga.
Ia hidup sebatang kara di negeri ini. Untung saja ia punya sahabat macam mang
Papay, yang selalu memberikan pengertian buat "Lonely Man" macam mang Odon.
Kini mang Odon tidak tinggal di pondok mang Papay lagi. Sekarang ia tinggal di
rumah yang mungil, di tepi trotoar jalan raya, .... rumah mang Papay...
membantu usaha mang Papay.
Bagaimana kabarnya Parikesit?
Parikesit adalah pemuda yang pernah terdidik. Ia mengabdikan kemampuannya
kepada masyarakat. Padahal, dengan selembar ijazah sekolah terakhirnya, bisa
saja ia seperti kebanyakan pemuda di negeri Purbadewa ini : bersusah payah
mencari kerja atau menahan harapan karena bekerja di sebuah jawatan atau
perusahaan yang tidak sesuai dengan pengetahuan yang dibelinya dari sekolah.
Memang kenyataan seperti begitulah kira-kira. Lebih banyak orang memasuki dunia
kerja yang tak ada korelasinya dengan ilmu pengetahuan yang dikejarnya saat
sekolah. Mereka bekerja bukan lagi karena punya kemampuan dalam salah satu
bidang, tapi lebih karena tak ada jalan lain untuk bisa bertahan hidup.
Parikesit selintas seperti pengangguran. Sama seperti mang Odon,: pandangan
masyarakat yang bilang begitu. Padahal
Ia adalah pekerja keras dalam
bidang pembangunan. Bukan! Parikesit tidak bekerja di Perusahaan Kontraktor
atau Developer. Yang ia bangun bukan gedung tapi masyarakat. Ia membangun
masyarakat dari pinggir kehidupan. Tidak dari tengah atau pusat kehidupan. Ia
hidup dengan bekal kemampuannya membuat tulisan-tulisan yang diterbitkan di
media massa
negeri Purbadewa. Dari situ ia bisa hidup. Dan dari situ ia membangun
masyarakatnya ke masa depan.
Memang setiap orang punya gaya
dan cara sendiri dalam mengisi kehidupan. Kekhasan gaya hidup setiap orang, kalau bisa
bersinergi dengan kekhasan orang lain, akan menciptakan harmoni. Parikesit,
mang Papay, dan mang Odon adalah sekelumit contoh kecil. Ada lagi contoh yang lebih besar. Pada
kenyataan hidup ini ada penguasa dan yang dikuasai, ada penindas dan yang
tertindas, ada penipu dan yang ditipu, ada yang bodoh dan dibodohi, tapi
anehnya, perbedaan yang sangat mencolok mata itu bisa menciptakan harmoni.
"Ah, siapa bilang! Kalau itu sih bukan harmoni. Itu hegemoni!" mang Papay kurang
setuju dengan pandangan MT.
"Benar,
itu namanya penjajahan yang qualified, hingga masyarakatnya tetap merasa hidup
nyaman. Tidak merasa dijajah. Memang tidak semua penjajah meng-eksploatasi
masyarakat yang dijajahnya. Ada
juga negeri yang maju karena penjajahnya ingin membuat mereka maju." Mang Odon
menyambung sambil menyediakan kopi buat Parikesit yang baru saja mampir ke
tempat usahanya mang Papay. Ketahuan deh, kalau mang Papay buka Caf.
"Itu artinya penjajah tersebut punya cara yang tepat dengan keinginan
masyarakatnya, sehingga penjajahannya dapat bertahan lama. Misalnya kerajaan
Inggeris, gaya
dan daya jajahnya beda dengan Kerajaan Belanda. Gitu, khan?" masih mang Papay
yang menimpali.
"Begitulah kira-kira. Tapi, omong-omong soal penjajahan, tetap saja semua orang
tidak ada yang mau dijajah. Setiap orang ingin merdeka. Karena kemerdekaan
adalah fitrah manusia. Setiap orang sebenarnya hidup menuju ke kemerdekaan."
"Setuju, tapi sebenarnya bukan itu masalahnya." Parikesit mulai bernyawa.
"Lho, gimana bukan itu masalahnya! Setiap orang itu mencari kemerdekaan. Apa
kamu rela hidup dijajah orang lain. Atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tak
ingin kamu lakukan. Itukan terjajah namanya." Mang Papay paling semangat kalau
menimpali omongan Parikesit.
"Tapi kemerdekaan bukan yang dicari orang, Mang...."
"Ah gimana juga kamu ini, Par. Setiap orang dilahirkan dalam kemerdekaan.
Sebenarnya waktu setiap bayi yang menangis waktu keluar dari rahim ibunya, bayi
itu berteriak "Merdeka!!" begitu!" mang Odon menyelak omongan Parikesit.
"Tahu dari mana kamu mang, kalau bayi itu ngomong "merdeka"? Parikesit heran
beneran.
"Bukan ngomong, tapi berteriak!" masih saja salah ungkapan Parikesit menurut
mang Odon.
"Ya, berteriak. Tapi kata siapa begitu, apa mamang mengerti bahasa bayi?"
"Ya... bahasa bayi memang tidak pernah bisa dimengerti orang dewasa. Tapi orang
tua mengerti apa maunya bayi itu." Kini nada suara mang Odon melandai.
"Jadi kata orang tua mamang, kalau bayi menangis itu artinya teriak Merdeka?"
"Ya, begitu sih. Kadang-kadang petuah orang tua kan ada baiknya."
"Ah, kamu ini Don, aku pikir omonganmu itu berdasarkan penelitian ahli
kandungan atau siapa gitu, nggak taunya cuma piwulang nenek moyang.." mang
Papay merasa kesal dengan mang Odon.
"Itu berarti mang Odon masih terjajah dengan petuah-petuah nenek moyang.
Katanya setiap orang menuju kemerdekaan, tapi mamang sendiri masih
mempertahankan keterbelengguan dalam bahasa kekuasaan orang tua, he he he.."
Parikesit nyengir.
"Ya, sudahlah" lerai mang Papay, "tadi kamu bilang kemerdekaan bukan yang
penting dan dicari orang. Maksudnya apa, Par?"
"Begini. Memang benar apa kata mang Odon, bahwa setiap orang ingin merdeka.
Tapi tidak sedikit orang yang tidak mengerti untuk apa kemerdekaan itu. Apa yang
mereka cari setelah merdeka."
"hm... terus gimana?"
"Banyak orang-orang yang merdeka secara lahiriah, tapi mereka tak percaya diri
hidup di dunia. Mereka tak bisa mengekspresikan kemerdekaannya sendiri. Padahal
kemerdekaan itu milik setiap orang. Tidak ada orang yang bisa memberikan
kemerdekaan, dan bohong itu. Setiap orang sudah punya kemerdekaan, tapi
sayangnya mereka tidak tahu mesti bagaimana hidup dengan kemerdekaan dirinya."
"Mestinya hidup sesuai dengan bakat dan minatnya!" mang Odon nyeletuk lagi.
"Ya, nyaris seperti itulah. Yang jelas kemerdekaan itu adalah modal utama
manusia menuju keberhasilan pencapaian cita-cita, menuju masa depannya."
"Tapi, kemerdekaan itu sama ga sih dengan reformasi?" kali ini mang Papay buka
topik baru.
"mau orde lama kek, orde baru, orde reformasi, orde transisi, ataupun order
proyek, itu ga penting! Karena kemerdekaan itu ada pada diri sendiri, bukan
pada penguasa orde, gitu kali ya?!" mang Odon menjelaskan dengan keraguan
"Urusan orde jangan dibahas sekarang, nanti kita terlalu merdeka membahasnya!"
kopi Parikesit tinggal sedikit.
|