"Sudah
berapa lama dia sakit?", suara mang Odon menambah keheningan malam. Caf sudah
tutup. Tinggal mang Papay dan mang Odon berdua. Keduanya menciptakan
keheningan, bicara sekenanya. Setiap mahluk memang pantas punya masalah. Mang
Papay, misalnya, ada saja masalah-masalah yang mendatanginya setelah ia membuka
caf, yang ujung-ujungnya selalu ke uang. Tapi, itu memang resikonya sebagai
pengusaha. Ada
masalah lain yang lebih mempengaruhi suasana malam ini di caf.
"Kamu dapat kabar dari mana?", bukannya mang Odon tak percaya dengan bertanya
seperti itu.
"Dari temannya, yang tadi mampir ke sini." mang Papay menyenderkan badannya ke
tembok. Ia duduk di atas meja.
"Lalu,...."
Ya, mereka kelihatan sedih. Satu-satunya sahabat mereka, Parikesit, jatuh
sakit. Tipes! Dia kelelahan. Parikesit sempat dibilang workoholic oleh
teman-temannya di kantor. Kalau sudah hanyut dalam sebuah pekerjaan, ia tak
ingat apa-apa lagi selain apa yang ia kerjakan. Paling banter, yang sempat ia
ingat hanya orang-orang terdekatnya, seperti mang Papay, mang Odon, dan teman
betinanya. Buat yang terakhir ini paling sering mengganggu konsentrasinya.
Menurut kabar yang diterima mang Papay, sudah beberapa hari ini Parikesit di rawat
di balai kesehatan masyarakat.
"Pantas, sudah lewat satu bulan purnama dia belum muncul ke sini." mang Odon
manggut-manggut. "Dia susah diberi nasehat untuk jaga diri..."
"Bukannya susah, tapi keadaan yang membuat dia selalu tidak bisa menjalankan pesan-pesan
kesehatan. Dia itu hidup sebatang kara. Tidak ada yang memperhatikan hidupnya
selain kita. Sedangkan kita sendiri hidup pas-pasan." Agak bijak juga mang
Papay.
"Ibarat mesin, jika antara energi yang keluar dan yang masuk, tidak seimbang,
maka tinggal menunggu waktu saja mesin itu akan jebol."
"Tapi manusia itu lebih dari mesin. Yang dibutuhkan bukan cuma suplai bahan
bakar dan perawatan. Manusia bukan cuma membutuhkan hal-hal yang bersifat
material. Kebutuhan psikis juga penting, seperti pengakuan akan aktualisasi
dirinya. Itu penting sekali."
"Tapi dalam kasus Parikesit, bukan itu yang ia butuhkan. Ia butuh perbaikan
gizi dan perawatan!"
"Ah, bukan cuma itu. Bukan cuma gizi dan perawatan. Sebenarnya Parikesit itu
butuh seorang perawat, he he he..""masih sempat saja mang Papay bercanda
di saat teman baiknya sedang sekarat di Ruang Gawat Sekali.
"Ya, benar juga katamu, Pay. Sebenarnya dia memang sudah harus punya perawat."
Mang Odon tersenyum kecut. Asem sekali rasanya kalau anda bisa melihat raut
wajah mang Odon saat tersenyum. Pernah melihat kucing yang tertangkap basah
waktu mencuri ikan majikannya? Nah, kira-kira seperti itulah raut wajah mang
Odon kalau sedang tersenyum.
"Kembali ke masalah keseimbangan antara input dan output,..." wah ko´ mereka
malah asyik diskusi. Bukannya siap-siap membesuk temannya... "Saya pernah ikut
sarasehan di balai desa. Saat itu sang narasumber sangat gugup sekali
kelihatannya. Sepertinya ia tak siap membahas masalah yang diberikan oleh
panitia kepadanya. Saya pikir itu terjadi karena nara sumber itu merasa pengetahuan yang
dimilikinya selama ini sudah cukup kaya, sehingga ia tak pernah berupaya untuk
memperkaya pengetahuannya. Padahal zaman selalu bergerak, selalu terjadi
perkembangan atau perubahan. Kalau seorang narasumber, apakah dia itu seorang
penulis, dalang, guru, atau aktivis mimbar, atau apa kek, tidak mengikuti
perkembangan zaman, maka jebollah ia pada saatnya."
"hm.. masuk akal juga." Mang Odon manggut-manggut saja.
"Jadi, setiap orang yang hidupnya berhubungan dengan masyarakat tidak boleh
absen untuk membaca perkembangan zaman. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana
teknologi informasi semakin maju, jangan sampai dilewatkan.", sebatang rokok
yang terjepit dua jari mang Papay nyaris habis.
"Benar sih, tapi itu sih tergantung juga dengan kemampuan finansial dong.
Seorang volunteer macam Parikesit, misalnya, ia butuh sekali segala macam
informasi berkembang. Ia butuh bahan-bahan pustaka. Kalau dia tak kuat secara
finansial, mana mungkin bisa memenuhi kebutuhannya itu."
"Eh, mang, ..." tiba-tiba intonasi suara mang Papay merendah "aku pernah tidak
sengaja membaca catatan hariannya Parikesit...."
"Bagaimana tuh isinya? Tentang teman betinanya ya?" mang Odon paling antusias
kalau mendengar gosip.
"Ya... bukannya sedang ngomongin orang sih,...." duduk mang Papay kembali
tegap. Mang Odon sedikit maju untuk mendengar kelanjutan ocehan temannya itu.
"Parikesit pernah nulis, begini ´... I have to make some writings every month,
but I don´t have enough money for buy the books, .. How can I do it better. The
money that I have just for eating... (siapa tahan)´ begitu tulisannya. Wah,
kasihan sekali dia itu." Posisi duduk mang Papay kembali seperti semula.
"Lalu apa lagi tulisan lainnya?" mang Odon semakin mendekati kedudukan mang
Papay.
"Tidak ada lagi. Cuma itu saja. Lha, sebenarnya aku sih tidak mau membuka
catatan pribadi orang, tapi saat itu aku tidak sengaja membacanya. Habis dia
sendiri yang lupa menutup bukunya di atas meja. Sedangkan pagi itu aku harus
membersihkan perabotan dari debu." Ada
saja alasan mang Papay.
"Sebenarnya tidak boleh membaca catatan pribadi orang lain. Itu sangat pribadi
sekali. Mestinya kamu tutup saja buku itu sebelum membaca." Mang Odon
menasehati temannya.
"Itu kan tak
disengaja!"
"Lain kali jangan begitu, ya!"
"Iya deh. Tapi dengan begitu kan,
aku jadi tahu apa yang menjadi masalah bagi dia. Habis, selama ini dia tidak
pernah mengemukakan masalahnya dengan kita. Saya melihat sepertinya dia
asyik-asyik saja dengan dunianya, tidak ada masalah. Ternyata..."
"Kan setiap
mahluk punya masalah masing-masing... itu kata MT yang bikin dunia dongeng kita
ini."
"Benar. Tapi baru saat itulah saya tahu kalau Parikesit juga termasuk manusia
bermasalah. Habis selama ini aku melihat dia sebagai orang yang selalu tidak
kehabisan akal untuk memecahkan masalah-masalah kita.... ternyata dia juga
punya masalah pribadi yang tidak bisa ia selesaikan sendiri."
"Maka
dari itu, jangan terlalu cepat menilai orang. Itu bukan perbuatan terpuji. Yang
jelas, setiap orang itu pasti punya masalah. Tapi ada orang yang bisa menyimpan
masalah di lemarinya sendiri dan ada yang tidak kuat untuk tidak
dikonsultasikan dengan orang lain."
"Ada juga yang
sengaja mencari perhatian orang lain dengan melakukan kesibukan-kesibukan yang
tidak biasa ia lakukan.."
"Ya, seperti itulah manusia. Beragam sekali" mang Odon selalu manggut-manggut,
itu kebiasaannya.
"Kalau sudah begitu, mestinya setiap orang harus memiliki kepekaan terhadap
suasana yang melingkarinya. Dengan begitu, akan ada tenggang rasa antar
sesamanya."
"Tapi banyak juga lho, orang yang tidak peka akan suasana hati orang lain.....
bukannya ngomongin orang, sih.... aku pernah punya pengalaman, saat itu aku
sedang kalut dengan masalah-masalah pribadiku. Tapi tiba-tiba saja salah
seorang teman datang kepadaku untuk mengungkapkan permasalahannya. Padahal saat
itu aku sangat kalut sekali. Tapi dia tidak peka akan apa yang aku rasakan...
yah, akhirnya, terpaksalah aku melayaninya tidak sepenuh hati." Tutur mang Odon.
"Mestinya jangan begitu, Don. Bagaimanapun kita harus bisa kelihatan tegar di
depan teman-teman. Tidak masalah kalau mereka tidak tahu apa yang sedang
berkecamuk di kepala kita. Tapi kalau mereka butuh bantuan, minta advis, bantu
saja.."
"Mungkin kamu bisa begitu. Buat saya sulit sekali untuk berpura-pura sehat,
sabar, dan tegar."
"Belajar saja. Toh kalau kamu bisa begitu, teman-teman kamu juga bisa
nantinya."
"Jangan terlalu berharap kalau aku bisa seperti kamu, Pay."
"Bukannya memaksa. Aku cuma menyarankan, nanti, suatu saat kamu juga akan
dipaksa keadaan untuk bisa bersikap seperti itu."
"Bicara soal nanti, nanti sajalah... jangan sekarang!"
Mereka asyik ngelantur. Padahal semestinya mereka bersiap-siap untuk membesuk
Parikesit yang sedang terbujur lemas di Ruang Gawat Sekali, Balai Kesehatan
Masyarakat. Akhirnya...
"Lho, Sudah hampir shubuh! Ayo kita besuk Parikesit!" mang Papay panik ketika
ingatannya tentang Parikesit kembali muncul. Ia langsung bertolak dari
kedudukannya di atas meja ke luar.
"Kamu sih.. kalau sudah diskusi, ngelantur kemana-mana, sampai lupa waktu..."
mang Odon terbutu-buru menyusul mang Papay. Mereka menunggu kendaraan yang
lewat di halte depan caf. Ada
yang lupa.... mang Papay tidak bawa dompet..... bayangkan sendiri kisah
selanjutnya.
|