Perbincangan
sering dilakukan setiap orang. Di dalam perbincangan dibahas berbagai
permasalahan, baik yang terjadi pada diri mereka yang terlibat dalam
perbincangan, atau pun lingkungan atau bahkan membahas tentang orang yang tidak
mereka kenal sekalipun. Perbincangan atau bercengkrama -kalau kata mang Papay-
yang sering dilakukan hampir semua orang itu, memiliki kualitasnya
masing-masing. Jadi, Ada
sebuah perbincangan yang berkualitas dan yang tidak berkualitas sama sekali.
Berkualitas atau tidaknya sebuah perbincangan dapat dilihat dengan prasyarat
seperti; jelas atau tidak masalah yang akan diperbincangkan, tepat atau tidak
orang yang terlibat dalam perbincangan, ada atau tidak sasaran atau tujuan dari
perbincangan, ditambah dengan teratur atau berantakankah proses perbincangan
tersebut. Misalnya, terjadi forum perbincangan di antara para anggota
perkumpulan, sebut saja sebuah Paguyuban Warga Dusun, di kerajaan Purbadewa.
Suatu hari, masyarakat dusun tersebut terlibat dalam perbincangan seru tentang
dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak. Salah seorang warga dusun yang
pekerjaan sehari-harinya menjadi calo karcis Bis Antar Kota, mengemukakan
pendapatnya tentang masalah tersebut. Katanya, naiknya harga BBM itu karena kesewenangan
pejabat kerajaan yang dianggap selalu membebankan kepada rakyat segala masalah
yang mereka hadapi. "Lha, kita-kita ini kan
sudah susah hidupnya, kenapa mesti kita-kita juga yang dibebankan untuk
mengejar keuntungan perusahaan mereka?!", begitu racaunya.
Seorang tukang Ojek yang juga ikut nimbrung dalam perbincangan ini tak mau
ketinggalan peran. Ia bilang, "Kalau begitu, mau tak mau saya harus menaikkan
tarif ojek. Kalau tidak, matilah keluarga saya...." Yang lain ada yang
menganggap tukang ojek itu memanfaatkan kesempatan, karena ia merasa tidak
terpengaruh dengan adanya kenaikan BBM, pekerjaannya hanya petugas ronda yang
selalu stand by di posnya. Di pos ronda inilah mereka menggelar perbincangan
tersebut. Yang lain lagi tak mau kalah menimpali. Ada yang lebih semangat dari sang calo
karcis, ada yang masa bodoh, ada yang netral tetapi tak tau sebenarnya apa yang
sedang memperbincang-kan apa, dan ada pula yang pasrah meniti nasibnya.
Bisa dibayangkan bukan, bagaimana kualitas perbincangan Paguyuban Warga Dusun
tersebut? Sebagai catatan, tak satu pun dari peserta perbincangan itu yang
pernah mengikuti informasi media massa.
Mereka semua tidak pernah membaca koran atau majalah dan tidak pernah nonton
televisi atau mendengarkan radio, kecuali sajian hiburannya saja. Itu pun bagi
mereka yang punya teve atau radio. Referensi mereka cuma tutur tinular, dari
mulut ke mulut.
Banyak sebenarnya contoh tentang tidak berkualitasnya sebuah perbincangan.
Misalnya perbincangan yang isinya hanya menggunjing orang lain, menghasut
sana-sini, membahas suatu teori tanpa pernah mem-pelajari teori tersebut,
mengkompilasikan khayalan-khayalan menjadi sebuah mimpi kolektif,
mengkampanyekan platform hanya untuk jadi presiden, dan banyak lagi macamnya.
Perbincangan-perbincangan seperti itu tak pernah bermuara pada suatu tujuan.
Seperti sungai yang tak mengalir ke muara, sungai kering.
Perbincangan tak berkualitas memang hanya akan membuang-buang waktu dan energi.
Bahkan bisa jadi juga hanya menguapkan anggaran untuk meleng-kapi kebutuhan
konsumsi perbincangan tersebut. Ini yang disebut mubazir, kata Parikesit.
Padahal, kalau para pebincang itu mau belajar dan melatih diri untuk mengenal
teori-teori kehidupan, bisa jadi mereka punya nasib lebih baik dari keadaannya
sekarang, jadi sarjana misalnya, yang bisa jadi mendapatkan undangan sebagai
pembicara di seminar-seminar. Atau bisa saja menjadi jurnalis atau wartawan.
Karena dengan tak bosan-bosannya mereka menggelar perbincangan seperti itu,
sudah merupakan bakat terpendam untuk menjejaki dunia pers.
Ada juga
perbincangan sederhana. Bisa disebut sebagai perbincangan yang wajar terjadi.
Perbincangan yang wajar ini biasanya membahas hal-hal yang juga sederhana,
masalah-masalah yang terjadi sehari-hari.
"Perbincangan itu penting sekali bagi setiap orang" Mang Papay memotong alur
tuturan MT. "Kita mesti bisa memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk
bicara, menyatakan apa yang dirasakannya." Sambungnya lagi, menyindir MT.
"Memang, seperti kita sendiri, kalau MT tidak menyediakan ruang buat kita
bercengkrama, kita akan merasa tertekan, bukan?!" mang Odon menyambut.
"Benar! Apa yang semestinya kita cengkramakan jadi kita pendam sendiri. Ini
bisa jadi penyakit. Terus terang saja, aku akan membenci dia, kalau dia tak
memberikan kesempatan buat kita bercengkrama pada kesempatan ini."
"Seandainya dia begitu, kita serobot saja..., kalau tidak, lama-lama dia bisa
jadi orang yang serakah dan menindas kita."
"Jangan terlalu berlebihan kalau menilai orang. Jelek-jelek begitu, dia itukan
dalang kita. Hargailah apa yang dia lakukan" Parikesit mengingatkan.
"Lho, jangan mentang-mentang dia itu lebih tinggi jabatannya dari pada kita,
lantas berbuat seenaknya saja. Aku tidak setuju. Sangat tidak setuju!!" mang
Odon makin serius.
"Aku tidak punya maksud menjelek-jelekkan MT, aku cuma mengingatkan atau
menyarankan agar dia tidak serakah untuk memberikan kesempatan bagi kita untuk
bercengkrama. Itu saja." Mang Papay meluruskan maksudnya.
"Tapi jangan main serobot saja dong, mang." Parikesit pun lebih menjelaskan
maksud peringatannya kepada mang Odon dan mang Papay.
"Maksud saya pun begitu, tapi kalau kita biarkan dia bertutur terus, tidak akan
ada habisnya. Nah, kalau begitu, kapan kesempatan buat kita bicara?!"
"Benar, aku setuju apa kata Odon," lanjut mang Papay, "bukannya kita tidak
menghormati MT sebagai dalang, tapi kita juga terpanggil untuk mengingatkannya,
kalau kita pun ingin ikut bicara juga. Aku rasa apa yang aku dan Odon lakukan
sah-sah saja."
"Kamu jangan terlalu
mengkhawatirkan MT, dia mengerti koq kapan harus bicara dan kapan harus diam."
Parikesit menyulut sebatang rokoknya. Kalau sudah begini, berarti dia serius
mengikuti perbincangan dengan teman-temannya itu. "buktinya sekarang dia tidak
melanjutkan tuturannya. Justru dia mengalah dengan memberikan kesempatan buat
kita bercengkrama."
"Itu kan
karena aku serobot saja. Coba kalau tidak aku serobot, aku rasa dia masih terus
melanjutkan tuturannya itu..." mang Papay merasa berjasa, merasa menjadi
pahlawan.
"Sudahlah, sekarang dia sudah diam, coba kamu lanjutkan apa yang akan kamu
cengkramakan." Parikesit bermaksud agar mang Odon dan mang Papay tidak
keterlaluan ngomongin MT.
"Aku cuma ingin mengatakan, kalau setiap orang itu butuh kesempatan untuk
melakukan perbincangan. Karena kalau tidak, dia akan merasa tertekan oleh apa
yang menjadi permasalahannya. Misalnya saya sendiri, kalau saya tidak
bercengkrama dengan kalian, kepada siapa lagi saya harus mengungkapkan segala
permasalahan yang mengendap di kepala saya." Mang Papay memulai kembali dengan
lebih tenang.
"Benar, aku pun punya maksud yang sama seperti Papay," sambung mang Odon, "Aku
tak punya niat untuk tidak menghargai MT. Aku cuma khawatir kalau dia tidak
memberikan kesempatan untuk kita. Itu berarti aku sayang padanya. Kalau tidak,
mungkin aku sudah kabur dari sini."
"Kabur kemana Don?"
"Yah, gampang aja, aku bisa saja ikut audisi sinetron, AFI, atau Indonesian
Idol! Banyak kok pekerjaan di tempat lain, bukan cuma di DSBT-nya MT
saja!"
"Memang, aku akui tadi kita terlalu emosi mengungkapkan perasaan kita, Don"
mang Papay menyadari, "Aku juga tidak bermaksud jelek koq. Justru kamu, Par,
yang bilang MT itu jelek." Sebuah serangan balik dari mang Papay terhadap
Parikesit.
"Maksud aku tadi cuma mengingatkan mamang, bahwa kita mesti menghargai dan
menghormati dia sebagai dalang dan sahabat kita."
"Tapi kamu tadi bilang dia jelek!"
"Itu kan cuma
kebiasaan saja untuk mengingatkan agar kita menghormatinya." Parikesit selalu
punya alasan kalau diprotes teman-temannya.
"Sudahlah, kalau kita hanya mencari-cari kesalahan orang tidak akan ada
habisnya. Nanti kita sendiri yang rugi. Aku rasa orang yang sedang kita
bicarakan juga mengerti apa maksud sebenarnya dari perbincangan kita." Giliran
mang Papay yang mengingatkan teman-temannya.
Kita bisa menilai bagaimana perbincangan yang digelar oleh mang Papay dan
teman-temannya. Sebuah perbincangan yang sederhana dan wajar terjadi. Benar apa
kata mang Papay tadi. Memang setiap orang membutuhkan ruang untuk berbicara,
menyuarakan kata hatinya, mengutarakan gagasan. Namun nyaris saja perbincangan
yang mereka lakukan menjadi tak berkualitas, saat alur perbincangan sudah
menjelek-jelekkan orang lain. Menjelekkan saya, MT. Untung
saja mereka bisa mengendalikan diri, sehingga tidak terjebak dalam perbincangan
yang tak berkualitas.
Jadi dapat kita simpulkan, bahwa sebuah perbincangan yang pada mulanya
sederhana bisa mengarah pada perbincangan yang tak berkualitas, saat isi
perbincangan itu sudah menjelek-jelekkan pihak lain. Itu salah satu contoh
saja...
"Nah, MT
sudah mulai nyerocos lagi!" komentar mang Odon.
|