Kadang
mang Papay merenungkan pernyataan para pemikir, aktivis pergerakan, tokoh partai
politik tentang perubahan. Sejak Negeri Purbadewa dipimpin oleh Raja Cemanibuana
I, kudeta oleh Raja II, estafeta ke Raja III, reformasi ke zaman Raja IV,
rekondisi pada masa Raja V, hingga saat ini, Raja VI, adakah perubahan yang
berarti yang dapat dirasakan oleh rakyat negeri, terutama bagi kawulo wong
cilik? Ia tak pernah mendapatkan jawaban pasti tentang hal ini.
Masih ada dalam memorinya tentang bagaimana bergairahnya gerakan cendikiawan pada
proses penjatuhan Raja Cemanibuana II. Saat itu kata REFORMASI bagaikan azimat
yang dapat menggerakkan semua orang menuju perubahan. Namun hingga saat ini
gerakan reformasi dari segala lapisan organisasi dan masyarakat hanyalah sebuah
igauan. Para aktivis partai yang sebelumnya
paling kencang meneriakkan perubahan - reformasi - pada akhirnya harus
terjerumus ke dalam kubangan hitam peta kekuasaan. Mereka yang dulunya sangat
anti dengan istilah haram "money politik" pada saatnya mau tak mau ikut bermain
dalam politik picik itu. Ini adalah sebuah kenyataan tentang kepribadian elite
kerajaan dan elite politik yang disadari atau tidak merupakan panutan bagi masyarakatnya.
Lalu
akankah perubahan itu terwujud di Negeri Purbadewa? Sahabat mang Papay - biasa
disapa Mang Odon - pernah menyatakan waktu mereka makan siang di warung nasi,
"perubahan tak akan terjadi di negeri ini hingga ada satu tokoh yang
benar-benar dapat bersikap dan bertindak sebagai panutan". Panutan dalam
konsepnya adalah orang yang capable, jujur, mempunyai integritas dan concern
akan nasib bangsa secara keseluruhan, bukan semangat kepartaian, fanatisme
keagamaan yang sektarian, apalagi kelicikan untuk memanfaatkan kesempatan
ketika sedang berada pada posisi strategis.
"Apa
mungkin ada tokoh panutan di negeri ini?" tanya mang Papay sambil menghembuskan
asap rokok dari mulutnya yang masih mengkilap karena minyak rendang.
"Kalau bicara mungkin, jawabannya, mungkin saja. Tapi masalahnya bukan itu.
Masalah kita adalah adakah tokoh panutan bagi bangsa yang tak berkarakter ini!"
sela Parikesit. Parikesit adalah seonggok daging tipis bertulang belakang yang
juga teman ngobrol mang Papay.
"Kenapa
kamu bilang bangsa ini tak berkarakter?"
"Kamu
lihat saja realitas politik di sini. Tokoh-tokoh politik gampang sekali berubah
pendirian, berpindah loyalitas, dan yang paling mencolok adalah mereka lupa
akan agenda perubahan yang pernah dipromosikan ketika masih belum kebagian
jatah kekuasaan. Nih kamu baca koran! Seorang elit politik yang dulunya membela
satu partai kini bikin partai baru dan menjelek-jelekkan partainya yang lama". Parikesit
meletakkan koran harian Media Purbadewa yang sudah lecek di hadapan mang Papay.
"Mungkin dia bersikap seperti itu karena memang pimpinan partainya dianggap tak
layak menjadi panutan, lalu ia merasa tertantang untuk melanjutkan perjuangan
politiknya dan bertindak sebagai panutan bagi para pendukungnya" balas mang
Papay sambil membaca headline koran lecek itu.
"Itu bukti bahwa bangsa ini belum punya tokoh panutan yang bisa diterima semua
lapisan masyarakat. Tapi apa yang dikatakan Parikesit ada benarnya juga, kalau
bangsa ini tidak mempunyai karakter. Tapi menurut kamu, karakter itu seperti
apa, Par?" Mang Odon ikut bicara.
"Bangsa
yang mempunyai karakter adalah bangsa yang mempunyai semangat juang untuk
membela kebenaran!" jawab Parikesit singkat.
"Jawaban
kamu masih abstrak! Karena kebenaran itu sendiri mempunyai makna yang berbeda
bagi setiap partai" sela mang Papay.
"Yang
kumaksud dengan kebenaran adalah seperti cita-cita kaum cendikiawan ketika
pertama kali memperjuangkan reformasi dulu. Dimana tak ada lagi KKN, monopoli,
pemusatan kekuasaan dan kekayaan, dan semua tradisi buruk kekuasaan Raja Cemanibuana"
"Kalau menurutku orang yang berkarakter adalah yang memiliki kekuatan hati
untuk tetap berjalan pada aturan dan prinsip hidup yang benar, tidak
mengkhianati prinsip tersebut dan berani melawan arus ketika aturan dan prinsip
itu diselewengkan." Mang Papay melipat koran lecek dan mengembalikannya ke muka
Parikesit.
"Berarti
apa yang saya katakan itu memang benar, bangsa ini tak punya panutan, jadi tak
akan pernah berubah!" Mang Odon ngomong lagi.
"Dari
tadi yang kamu bicarakan panutan terus! Nggak ada ide lain apa?" Parikesit
bosan dengan pernyataan Mang Odon.
"Ada sih...."
"Apa
coba?!" Parikesit memaksa.
"Bu
Nutan, istrinya Pa´ Nutan............"
08 Oktober 2003
|