Walau
sempat teredam beberapa minggu, ternyata kasus "Pencemaran Nama Baik Tuhan"
kembali diungkap di media. Ini terjadi setelah complaint FUUI dilanjutkan ke
kepolisian. Wajar saja kalau orang-orang Muslim itu protes karena mereka tak
mau panggilan Tuhan yang biasa didengungkan, "Allahu Akbar" diplesetkan jadi
"Anjing hu Akbar". Siapa saja boleh tersinggung kalau nama Tuhannya
dibegitukan.
Oknum (he he, baru kali ini dengar istilah oknum lagi) Mahasiswa UIN itu tidak
menyanggah kalau dia memang mengatakan kata yang mengundang marah kaum muslimin
itu. Bukan cuma itu, ketika acara orientasi mahasiswa baru itu, ia juga
menyatakan kalau area itu adalah "area bebas Tuhan". Ini bisa diartikan kalau
area saat itu adalah area bebas nilai, bebas aturan, bebas hukuman, bebas
pujian, bebas kasih sayang, bebas rahasia, bebas segala hal yang dapat
menunjukkan citra Tuhan. Karena Tuhan memang memiliki citra nama yang kaya,
sekaya rangkaian huruf dan kata-kata.
"Memang begitulah kelakuan anak-anak Aqidah dan Filsafat!" mang Odon komentar.
"Begitu bagaimana, Don?!" tanya mang Papay.
"Mereka, terbiasa berpikir bebas dan rasional. Tak ada batasan untuk memikirkan
apapun, termasuk memahami Tuhan. Hal itu mereka lazimkan agar tumbuh kecerdasan
di masa depan"
"kalau bicara kebebasan saja, mah gampang! Tak perlu kuliah, aku sudah merasa
bebas berpikir. Justru yang jadi masalah adalah apakah orang-orang yang
memiliki kebebasan berpikir itu mempunyai keteguhan beriman." Sela mang Papay.
"tak mesti begitu! Yang namanya kebebasan berpikir itu juga berarti kebebasan
beriman."
"Kalau begitu ganti saja jurusan Aqidah & Filsafat itu jadi Jurusan Bebas
Nilai!"
"Lho, kok kamu yang minta ganti nama, lha para dosen dan dekannya saja
menganggap itu bukan masalah." Bantah mang Odon.
"Maksudku, kalau memang realitasnya seperti itu, berarti selama ini kampus itu
hanya menekankan kebebasan berpikir ala Filsafat, tapi tidak menekankan sisi
aqidahnya. Itu yang membuat kebebasan mahasiswa menjadi liar, anarki!"
"ho ho, lalu kalau namanya diganti sesuai usulan kamu tadi, berarti kamu setuju
kalau mereka bersikap bebas seperti kemarin?" mang Odon makin memepet mang
Papay.
"Ya... gimana yach...!" Mang Papay belum memberikan jawaban pasti, sebab Parikesit
muncul tiba-tiba di antara mereka,
"Dari mana saja kamu, Par?" sapa mang Papay.
"Lho, jawab dulu pertanyaanku, apakah kamu setuju!" mang Odon mendesak
"Dari stasiun kereta, beli koran murah." Sahut Parikesit kepada mang Papay.
"Pay, jadi bagaimana keputusanmu?" tagih mang Odon.
"Keputusan apa, aku rasa diskusi kita sudah selesai. Aku malas melanjutkannya."
Jawab mang Papay.
"Memang sedang bicarakan apa?" Parikesit belum tahu. Kedua sahabatnya itu
saling bercerita dari awal hingga akhir seperti rekonstruksi.
"Gimana menurut kamu, Par?" tanya mang Odon lebih ngotot dari pada mang Papay.
"Menurutku, kebebasan berpikir itu mesti diimbangi dengan kecerdasan bersikap."
Sahut Parikesit.
"Memang orang yang bebas berpikir itu belum tentu cerdas?" tanya mang Odon.
"Mungkin lebih tepat cerdas dalam menempatkan diri, kapan harus berteriak,
kapan harus diam. Aku memahami sikap mahasiswa itu sebagai kegelisahannya
sendiri, yang dipengaruhi oleh pengalaman dia berhubungan dengan Tuhan. Entah
Tuhan yang mana, aku tak pernah kenal. Sebab setiap orang boleh punya Tuhan
yang berbeda-beda, tapi tak perlu mengajak orang lain untuk mengikuti Tuhan
yang ada dipikirannya sendiri."
"Jadi, kamu setuju dengan kebebasan di kampus itu?" tanya mang Odon
"Masalahnya bukan setuju atau tidak karena itu tetap tak mempengaruhi kasus
yang ada. Kamu atau aku setuju atau tidak, itu tak berpengaruh pada mereka.
Sebab itu urusan pribadi."
"Nah, begitu maksudku, mengapa aku tak mau menjawab pertanyaanmu itu, Don!"
mang Papay baru mendapatkan alasan untuk menjelaskan diamnya.
"Aku memahami kalau setiap orang itu mempunyai pengalaman unik terhadap
Tuhannya. Dan biarlah itu menjadi rahasia vertikal. Sebab kita tidak cuma
berhubungan dengan Tuhan. Kita juga punya interaksi dengan manusia, alam raya,
dan yang lebih penting dari ketiga interaksi itu adalah bagaimana kita
berinteraksi dengan diri sendiri."
"Kok berinteraksi dengan diri sendiri?"
"Itu adalah saat kita merenung, menganalisis segala hal dengan kebebasan yang
sesungguhnya."
"Lha, saat itulah kita bebas berteriak, karena tak akan membuat bingung orang
lain yang jelas-jelas mempunyai pengalaman spiritual berbeda dengan kita."
Tambah mang Papay.
"Saat berinteraksi sendiri itulah kita bebas bercuap-cuap terhadap Tuhan. Mau
bicara apa saja silakan, sebab tak akan ada yang mendengar dan tersinggung."
"Seperti bicara dalam botol, dong?!" jelas mang Odon.
"Hush! Aku bukan Jin!"
|