|
"Perusahaan apa yang paling hebat di negeri ini?" Tanya mang Papay mengisi waktu sela saat cafnya mulai sepi hampir tengah malam ini. Mang Odon yang baru selesai mengepel lantai
menjawab, "Perusahaan yang paling hebat di negeri ini adalah perusahaan air.
Sebab mereka sangat dibutuhkan manakala air tanah negeri ini makin tercemar
polusi." "Salah! Memang perusahaan air itu hebat, tapi masih
ada yang lebih hebat dari itu." Mang Papay menghirup accident coffee
(kopi tubruk) spesial buatannya sendiri. "Apa ya...ng... mungkin perusahaan BBM, Tanpa BBM mana
mungkin kita bisa menjalani kehidupan. Jadi semua orang pasti butuh BBM kecuali
ojeg sepeda dan becak." Mang Odon menjawab setelah menyimpan peralatan mengepel
di belakang caf. "Perusahaan BBM memang hebat, sama seperti vitalnya
air, tapi tetap ada yang lebih hebat dari mereka." Mang Papay tersenyum menanti
jawaban sahabatnya yang salah terus. "Kalau begitu perusahaan apa yang paling hebat... oh
ya... tunggu aku ingat, adalagi perusahaan yang hebat.... Pasti listrik! Tanpa
listrik, mana mungkin kita bisa beraktifitas?" "he he ... betul sih, tapi kamu tahu nggak mengapa
perusahaan listrik itu paling hebat di negeri ini?" "Wah, mana aku tahu, "Perusahaan listrik itu menurut saya paling hebat
karena dalam kondisi rugi besar saja, mereka tetap memberikan bonus kepada
komisaris dan direksinya... hebat "Iya ya... hebat sekali perusahaan seperti itu, rugi
tapi ngasih bonus...! Wah, boleh juga tuh kalau kita melamar di "Ngapain kita kerja di "Wajar dong kalo kita berpikir mencari penghasilan
lebih, daripada kita kerja seperti ini, kalau caf punya untung, kita tak dapat
bonus, apalagi rugi, pasti jatah kita kena sunat!" Mang Odon bicara apa adanya
tentang suasana kerjanya. Itulah mang Odon, dia begitu jujur dan berani,
walaupun bicara di depan bosnya sendiri, mang Papay. "Kamu jangan membandingkan usaha kecil ini dengan
perusahaan sebesar itu dong. Caf kita ini "Berarti termasuk menutupi potongan gaji saat usaha
kita rugi dong?" mang Odon tersungging. "Kalau prioritas utama sudah terpenuhi, jangankan
mengganti gaji yang terpotong, bahkan saya akan bayar sepuluh kali lipat. Tapi
kalau usaha kita ini punya untung besar!" Mang Papay berjanji. "Tapi aku pikir-pikir, hebat juga perusahaan
listrik itu ya? Padahal kerugian mereka hampir 5,9 triliun, tapi mereka bisa
ngasih bonus hingga 4,3 miliar... bahkan menurut tukang periksa keuangan,
perusahaan itu bakalan memberikan bonus kepada semua karyawannya hingga
mencapai 186,25 miliar.... Weleh-weleh.... Hebat sekali!!"[1]
mulut mang Odon menganga membaca Koran MediaPurbadewa yang terbit tadi pagi.
"Hari gini baru baca Koran pagi!" celetuk saya, MT. "Yang aku pikirkan, dari mana asal uang bonus itu.
Katanya rugi. Kalau rugi, berarti "Buat usaha besar seperti itu, rugi bukan berarti
ga punya uang. Itulah bedanya orang kaya dengan orang miskin seperti kita ini."
"Beda bagaimana, Don?" "Kalau orang kaya bilang tak punya uang, berarti
mereka masih punya uang beberapa ratus ribu atau juta di dompet atau di bank.
Nah, kalo orang miskin, kalo bilang bokek, berarti sama sekali tak punya uang
yang nyelip di dompet apalagi celengan. Buktinya, tamu-tamu kita sendiri,
mereka sering ngobrol sama teman-temannya kalau mereka bokek, tapi mereka tetap
makan di sini, gonta-ganti HP, mobil, dan traktir cewek-ceweknya." Mang Odon
menguraikan fakta. "Betul juga kata kamu. Tapi, bagaimanapun aku sama
sekali bingung, mereka rugi terus walaupun tarif listrik selalu dinaikkan. Tapi
para pengusahanya makin hidup mewah ya? Apakah ini yang dinamakan korupsi?"
mang Papay ngelantur. "Wah, jangan nuduh sembarangan, mang! Apalagi
sampai menjurus ke korupsi. Kalau mamang tak punya bukti, nanti dianggap
mencemarkan nama baik. Bahaya! Mamang bisa dipenjara." Parikesit tiba-tiba
muncul di belakang mang Papay. "Dari mana kamu? Datang tak mengucap salam, main
komentar saja. Seperti penampakan saja kamu..." mang Papay benar-benar terkejut
dengan kehadiran sahabat mudanya itu. Ia lantas menceritakan cengkramanya
bersama mang Odon barusan. "Bagaimana menurut kamu, Par?" Tanya mang Odon
setelah mang Papay selesai menceritakan cengkramanya. "Aku lagi malas mikirin yang begituan, mang. Otakku
lelah sekali!" "Lha, tumben kamu hang? Biasanya kamu paling
senang mencengkramakan dinamika negeri ini?" mang Papay bingung melihat
Parikesit yang lunglai membaringkan badannya di sofa panjang. "Kenapa kamu,
Par? Sakit?" tanyanya lagi sambil beranjak dari duduknya menghampiri Parikesit. "Aku di PHK. Alasannya, karena perusahaan rugi,
maka diputuskan untuk mengurangi jumlah karyawan. Nah, aku adalah salah satu
dari karyawan yang mendapat kartu merah." "Merana sekali nasibmu, Par" hibur man Odon yang
sudah duduk di sebelah Parikesit. "Nah, ini bukti!" mang Papay semangat menanggapi
keluhan Parikesit. "Bukti apa mang?" Parikesit bingung beneran. "Kalau perusahaan tempatmu kerja rugi, wajar kalau
kamu dipecat, tak mungkin kamu bakal diberikan bonus. Benar "Kalau begitu, kamu melamar di perusahaan listrik
saja! Saya yakin kamu tak bakal dipecat. Bahkan bisa jadi kamu malah dapat
bonus, walaupun perusahaannya rugi." Mang Odon memberikan saran kepada
Parikesit. "Betul juga, Par. Kalo kamu kerja di pabrik Listrik
itu, pasti kamu ga bakalan dapat kartu merah, malah bisa jadi kamu dapat kartu cheque!"
sambung mang Papay. "Kalo tidak terbentur usia, aku pasti kerja di
perusahaan listrik itu! Nah, mumpung kamu masih muda, masih enerjik, masih
berotak, kamu harus punya pengalaman kerja yang banyak, Par!" mang Odon makin
semangat saja. "Betul juga, Par. Kalo kamu banyak pengalaman, kamu
gampang jadi orang penting di negeri purbadewa ini. Lha, dalam beberapa
pemilihan pimpinan, entah itu pilpres, pilkada, pilpartai, sampai pilkoplo,
yang sering dimenangkan adalah yang punya banyak pengalaman. Kamu harus ambil
kesempatan ini! Besok bikin "Tak usah pakai "Hush! Nulis apa kamu!" mang Odon menoleh ke
belakang, matanya menatap saya tajam sekali. Rupanya dia merasa kalau saya
mulai sedikit mencemarkan nama baiknya. Saya minta maaf sama mang Odon. Sebagai
penulis cerita, memang saya sering khilaf dan terlalu jauh dalam menceritakan
para pelakon di serial Dongeng Sebelum Bangun Tidur ini. Repotnya lagi, tidak
seperti pada cerita-cerita saya yang lain. Orang-orang yang memerankan lakon
DSBT ini semuanya kritis dan tak ada takutnya memprotes, bahkan ngomongin saya.
Jadi, saya harus pandai-pandai menjaga emosi dalam menulis cerita yang mereka
lakonkan. Kembali pada jalur cerita ini. Mang Odon dan mang Papay
masih duduk dan berdiri di sebelah sahabat mudanya, Parikesit. Tapi anak muda
itu pura-pura tertidur di sofa empuk yang biasa dipakai tamu kelas VIP caf
mang Papay. Dalam hatinya Parikesit ngedumel, "orang lagi malas mikirin
begituan, eh, malah dikomporin terus... dasar orang tua!" Elok, 12 Juni 2005 |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy






































