|
Apakah kita merasa sudah menjadi bagian masyarakat
Islam yang diridhai Allah? Apakah selama ini kita mengira akan mudah memasuki
surga tanpa melewati ujian yang konkrit maupun yang simbolik? Apakah kita
merasa paling benar dan bertakwa dibandingkan dengan pemeluk Islam lainnya?
Jika jawaban kita: Ya, berarti kita masih harus istighfar dan berkontemplasi
dalam meniti jalan Ilahi. Kebesaran dan popularitas suatu jamaah adalah fase
dimana jamaah tersebut berada pada masa retrospeksi. Pada masa ini, para principal
jamaah harus senantiasa melakukan evaluasi terhadap perjalanan dan keikhlasan
sebuah pergerakan hingga ancaman-ancaman yang dihadapinya. Bukan hanya ancaman
dari luar, namun yang sering membuat kehancuran sebuah jamaah adalah ketika tak
menyadari penampakan ancaman dari dalam. Dan ancaman internal inilah yang
kadang tak dirasakan kehadirannya bahkan oleh diri kita sendiri. Di antara
ancaman internal tersebut adalah ujub, waham, riya, dan syirik. Keempat terma
tadi merupakan penyakit hati yang sering tidak disadari wabahnya dalam setiap
diri manusia. Ingat, muslim juga manusia, punya rasa punya hati...(nyuplik
syairnya seurieus, rocker juga manusia). Mengapa keempat terma di atas bisa mengancam masa
depan jamaah? Dalam konteks politik, dibutuhkan dua hal selain hal-hal penting
lainnya. Dua hal tersebut adalah loyalitas dan simpati. Dalam skope internal
keempat penyakit hati (padahal ada banyak penyakit hati, tapi cukup 4 saja yang
kita singgung dalam esai ini) bisa menimbulkan konflik internal. Ketika
beberapa orang mudabbir, melihat orang-orang di jajarannya memiliki penyakit
demikian, namun seringkali tak bisa diobati, hal ini akan menimbulkan keresahan
internal. Biasanya keresahan internal itu dimulai dengan ghibah, hasad, hingga
menjurus ke fitnah. Inilah ekses sederhana dalam sebuah interaksi jamaah dimana
akan berkurangnya loyalitas anggota jamaah lainnya saat kita tak benar-benar
bisa mengobati penyakit dan benih konflik internal tersebut. Bisa saja kita menjustifikasi : wajar keempat
penyakit hati itu ada, namanya juga masih belajar menjadi benar, kita Hal kedua yang perlu dijaga keberlangsungannya
adalah simpati. Rasa simpati yang sudah tumbuh di kalangan anggota pra-kader,
ataupun non-anggota dapat saja luruh apabila mereka sering menyaksikan penyakit
hati tersebut terekspresikan dalam diri kader-kader jamaah atau anggota
pergerakan. Dalam konteks kehidupan politik berbangsa dan bernegara, para
simpatisan adalah asset mahal yang harus senantiasa dibina, bukan sekedar
dimanfaatkan seperti para pelaku politik lainnya. Salah satu cara untuk membina
simpatisan adalah dengan perilaku yang santun dan tidak terkontaminasi oleh
keempat penyakit hati di atas. Sebagai
sebuah pergerakan dakwah, hendaknya kita tidak hanya memanfaatkan simpatisan
hanya pada saat musim pemilihan, entah pilpres, pilkada, ataupun pilkadut
(pemilihan kepala badut politik, just kidding). Elemen vital dalam sebuah pergerakan adalah
pembinaan atau kaderisasi. Dengan elemen inilah kita mesti menginternalisasikan
nilai-nilai ilahiyah ke dalam setiap jiwa anggota jamaah hingga terelaborasi
dalam keseharian interaksi jamaah. Jika selama ini kita hanya menitikberatkan
pembinaan pada aspek rububiyah dan mulkiyah, maka sudah saatnya aspek uluhiyah
diprioritaskan. Salah satu contoh begitu kentalnya aspek rububiyah
dan mulkiyah dalam pembinaan adalah ketika seorang anggota jamaah menyatakan
dirinya bercita-cita mati syahid. Ketika ditanya, apa yang kamu ketahui tentang
mati syahid? Dia menjawab, mati di jalan Allah. Ketika ditanya, seperti apa
mati di jalan Allah? Dia menjawab, bisa saja kita mati dalam konteks peperangan
melawan musuh-musuh Allah, atau dalam keadaan lainnya, yang penting kita dalam
sebuah perjalanan dakwah ilallah. Ketika ditanya, apakah kamu siap jika saat
ini mati? Dia menjawab, insya Allah. Ketika ditanya kembali apakah kamu sudah
mengenal Allah, hingga kamu siap mati. Lalu apakah kamu yakin Allah mengenalmu?
Dengan yakin dia menjawab, ana selalu mengenal Allah dan insya Allah, Dia mengenal
ana. Mengapa saya mengakhiri contoh di atas dengan kata
mengenal Allah? Jawabannya adalah karena cita-cita anggota jamaah yang saya
Tanya tadi, yaitu mati syahid. Pertanyaan di atas tadi mengarah pada sejauh
mana seseorang memahami makna syahid. Secara etimologi, syahid bisa berarti
saksi, menyaksikan, dan disaksikan. Penekanan dari kata kesaksian ini bukan
sekedar melihat, bertemu, apalagi berpapasan. Makna lebih dalam adalah
berjumpa, berhadapan, bertatapan, dan berdialog. Tentu saja makna kata syahid
itu dinisbatkan kepada Khaliq, bukan makhluk. Kata syahid adalah sebuah
kesaksian akan eksistensi Allah yang Maha Ghaib dan Maha Wujud. Orang yang mati syahid, berarti mati dalam keadaan
beriman kepada Allah, menyaksikan eksistensi Allah, dan bertemu kepada Allah.
Mungkinkah kita bisa mengalami fase seperti yang pernah dilakukan oleh
Rasulullah SAW di gua hira atau ketika beliau Mi´raj? Tulisan-tulisan seperti
karya Hasan Al-Bana, Al-Ghazali dan Syihabudin Suhrawardi banyak memberikan
jalan dan panduan memahami perjumpaan Rasulullah kepada Allah dan bagaimana
kita menjalankan sunnah rasul tersebut. Ini merupakan sebuah interpretasi
sufistik yang tidak ada salahnya untuk sekali-sekali kita pelajari dengan
khusnudzan. Man arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu. Sebuah kalimat yang
penuh makna untuk dikaji kembali. Perjumpaan Rasulullah SAW kepada Allah dalam mi´raj
yang fenomenal dan faktual itu merupakan sebuah perjalanan spiritual yang
mewariskan sebuah hadiah kepada kita. Satu-satunya hadiah atau warisan itu
adalah shalat. Secara implisit shalat merupakan jalan menuju mi´raj seperti
yang pernah Muhammad SAW lakukan. Shalat dapat mempertemukan antara hamba
dengan Rajanya, pengabdi dengan Yang Diabdinya, kekasih dengan Yang
Dikasihinya, pencinta dengan Cintanya. Shalat adalah jalan menuju mi´raj,
seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Allah berjanji akan
menaikkan derajat hamba-Nya yang mau mengenal-Nya. Dan mi´raj adalah penaikan
derajat tersebut. Orang yang telah mengalami perjumpaan kepada Allah,
tentunya sebelumnya telah bebas dari penjara dunia. Dari penjara hati dimana
penyakit-penyakitnya telah sirna, dari penjara pikiran dimana egoisme telah
punah, dan dari penjara sosial saat kita telah benar-benar mengenakan pakaian
ihram. Sebuah pakaian takwa, dimana segala atribut yang membuat manusia merasa
bangga dan berkuasa telah musnah. Kembali pada kata syahid. Apakah kita sudah
benar-benar menyaksikan Allah? Apakah cukup kita hanya terbuai dengan ayat-ayat
kauniyah? Sudahkah kita mengalami ekstase perjumpaan dengan-Nya? Sebuah
potongan syair karya Iwan Fals tentang syahid Antara
ada, antara tak ada Nyatanya
ada, nyatanya tak ada Antara
ada, antara tak ada Hanya
tak terasa, ada di Hanya
tak terasa, ada di sini Hanya
tak terasa, apa yang dirasa Kita perlu mengkaji kembali apa yang telah kita
berikan dalam pembinaan kader maupun anggota pergerakan. Kita perlu menyatukan
kembali komando yang satu visi, satu misi, satu langkah, satu napas, satu
sikap, seperti saat kita mengalami penyaksian seperti tercatat pada QS. 7:172. Kembali pada awal tulisan ini dimulai,
reinterpretasi terhadap kata syahid merupakan ajakan untuk melakukan
reorientasi atas konsistensi dan loyalitas kepada Al-Wala´. Saya tidak berniat
menggurui apalagi menurunkan derajat sesama. Esai ini sekedar memorized
dan saya tetap yakin kalau kita bukan malaikat. Kita juga manusia! Elok, 13 Juni 2005 |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy






































