|
Awan kelabu memagari langit gelap sepanjang perjalanan. Di dalam charter
bus menuju Senayan, aku duduk di bangku paling belakang, samping pintu keluar. Aku
termasuk dalam rombongan komunitas keagamaan dari sebuah pedalaman Negeri Atas
Angin. Orang-orang dalam bis ini berencana mengunjungi pameran buku di istana
olah raga, Senayan, Buktinya aku ikut dalam rombongan di Bis kedua ini. Bis yang membawa rombonganku berjalan di atas 110 KM/Jam. Sepanjang
jalan disetel kaset ceramah bernapaskan agama. Sebelumnya telah disetel kaset
musik oleh salah seorang penumpang anggota rombongan, namun sang pemimpin
perjalanan menganggapnya sebagai kaset yang kurang pantas didengar, karena itu
diganti dengan ceramah saja. Jadilah perjalanan ini merupakan perjalanan
spiritual yang dipaksakan. Mengapa dipaksakan? Belum juga kaset ceramah itu
selesai satu sisi, aku perhatikan sebagian besar penumpang anggota rombongan
sudah tertidur pulas dan pulazzz... termasuk salah satu pengrajin agama itu,
pulazzz... termasuk bini salah satu pengrajin itu, pulazzz... termasuk supir, ....!!!
Lho bagaimana kalau supir ikut pulas juga? Pikiran aneh ini muncul seketika itu
juga. Lalu aku tertarik untuk memperhatikan sang supir dari kaca spion di
atasnya. Aku sangat terkejut ketika dalam satu hisapan napas, kulihat supir itu
dua kali menguap lebar. Ini bahaya, pikirku. Mengapa sebagian besar penumpang
tertidur pulas dan mengancam sang supir yang nyaris pulas juga? Inilah yang namanya Sindrom Jum´atan. Hampir setiap Jum´atan aku sering
menyaksikan jamaah banyak yang tertidur ketika sang khatib menyampaikan khutbah.
Salah seorang khatib senior pernah bilang, kalau khutbah Jum´at itu lebih ampuh
ketimbang obat tidur. Orang-orang yang punya penyakit sulit tidur, disarankan
untuk ikut Jum´atan. Bisa dipastikan mereka akan mudah tertidur. Aku yakin
khatib senior itu setengah bercanda mengkritik sikap keberagamaan umatnya. Sepanjang
perjalanan ini, setelah disetel kaset ceramah, begitu pula yang terjadi,
kuperhatikan dari kursi depan hingga ke belakang, kebanyakan kepala yang ada
sedang dalam posisi terlelap. Kecuali aku, lima orang di kanan dan belakangku,
dan dua orang pada kursi paling depan, kondektur dan ... ah sang supir itu sekali
lagi kulihat menguap menahan kantuk. Aku berinisiatif menyampaikan kekhawatiran akan keselamatan perjalanan
rombongan bis ini. Aku sarankan kepada pemimpin rombongan agar mengganti kaset
dengan apa saja yang tidak membuat sang supir mengantuk. Tapi dasar sial, aku
bukanlah siapa-siapa dalam rombongan ini. Maka sarankupun tak digubris. Aku
baru ingat kalau sebagian besar pengrajin agama menganggapku orang di luar
garis keagamaan mereka. Karena itu wajar kalau mereka tak mendengarkan saranku.
Aku hanya bisa meminta belas kasihan Tuhan, agar sudi menyelamatkan perjalanan
ini dengan memberikan kekuatan agar sang supir tak tertidur. Tuhan memang Maha
Mengerti. Perjalanan inipun selamat sampai tujuan: Islamic Book Fair di
Senayan. Para penumpang turun dan berkeliling di semua stand yang ada di
pameran buku ini. Sebelum pulang, aku berkumpul dengan orang-orang miskin yang juga
mengunjungi pameran buku ini. Aku lihat mereka menenteng plastik hasil
belanjaan. Buku apa saja yang dibeli? Beragam. Ada yang beli kaos oblong Islami,
yaitu kaos yang bertuliskan kata-kata religius, ada juga yang memborong kaset
dan VCD, dan ada juga yang tidak membeli apa-apa. Mereka yang tidak belanja
apa-apa bilang kalau harga bukunya terlalu mahal. Jadi mereka tak sanggup
membeli buku. Daripada membeli sebuah buku seharga 25 ribu perak, lebih baik
membeli selembar kaos oblong seharga 27 ribu perak. Salah seorang dari mereka bertanya, buku apa saja yang aku beli. Aku
perlihatkan pada mereka buku-buku yang kubeli. Sebuah novel karya Seno Gumira
Ajidarma, berjudul Kitab Omong Kosong, Buku karangan Murtadha Muthahhari, dan
buku karya Imam Khomeini. Kontan saja yang penanya berkomentar, kalau aku ini
orang syiah. Aku bilang, kalau aku tak pernah peduli dengan anggapan orang,
apakah aku ini syiah karena telah membeli buku dari intelektual dari khazanah Islam
syi´ah? Lalu bagaimana dengan novel Seno yang juga kubeli? Mereka bilang itu
novel tentang wayang. Bisa jadi aku ini juga kejawen. Dan dia bilang kalau
orang-orang di lingkungannya, yaitu para pengrajin agama paling anti dengan
syi´ah dan kejawen. Aku jelaskan mengapa aku membeli buku-buku itu. Aku membeli
novel Seno karena aku butuh sebuah novel yang memiliki kualitas dalam
mendeskripsikan suasana dan memiliki kalimat reflektif yang jernih dari
penulisnya. Sedangkan buku-buku dari Muthahhari dan Khomeini kubeli karena aku
merasa pemikiran mereka sangat jernih dalam membahas tema-tema keagamaan, tidak
hitam putih, tidak semena-mena dalam memvonis pihak lain sebagai orang kafir
atau sesat. Sang penanya itu bisa menerima alasanku. Tapi dia tetap berpesan
agar jangan sampai para pengrajin agama mengetahui buku-buku yang kubeli, karena
khawatir akan bertambah lagi gossip tentang diriku di lingkungan mereka.
Ternyata sang penanya ini sangat bosan mendengar gossip yang mendiskreditkan
profilku di kalangan mereka. Aku bilang kepada penanya itu, terserah mereka mau
anggap aku apa saja. Hal itu tak membuatku lebih buruk ataupun lebih baik. Aku
hanya jelaskan kepada penanya itu, siapa yang doyan gossip, aku, kamu, atau
mereka. Nah, dengan begitu saja kita sudah bisa menebak bagaimana kualitas
hidup seseorang. Selamanya aku pasti dianggap rusak dan merusak di lingkungan ini.
Temanku satu-satunya yang kupercaya pun disarankan untuk tidak bergaul
denganku. Ia dinasehati begitu agar tidak ketularan rusak sepertiku. Entah
rusak yang seperti apa yang mereka maksudkan. Tapi, aku beruntung, dia benar-benar
teman. Aku yakin dia tak aku rusak seperti aku dianggap rusak oleh mereka. Dia
teman yang punya integritas pribadi yang stabil. Aku percaya itu. Dan temanku
itupun bilang kalau dia sebenarnya merasa tak enak dengan menceritakan
pengalaman dinasehati seperti itu. Aku bilang padanya, tak usah gusar, sebab
aku tak akan merusak kamu! Rusak atau tidaknya seseorang itu bukan karena
pengaruh orang lain, tapi lebih dikarenakan oleh kebodohan dalam menilai orang
lain. Biarlah mereka puas mencemooh aku. Biarlah mereka kekenyangan
menggosipkan aku. Biarlah mereka muntah menyuarakan kebenciannya tentangku.
Selama mereka tak menyatakannya di depanku, maka aku tak akan memberikan
respon. Dari gossip pertama hingga entah gossip keberapapuluh, tak satupun ada
yang berani menyatakannya langsung di depanku. Itulah mental orang-orang
pengrajin agama yang sesungguhnya kuhadapi. Aku lebih suka berhadapan dengan
anjing liar yang setiap hari menggonggongku meminta makanan. Aku lebih
menghormati anjing itu karena berani memprotesku langsung dengan menghadapiku.
Jadi, wajar saja kalau aku lebih suka memberi makan anjing ketimbang
menyampaikan kata-kata kepada para pengrajin agama itu. Aku tidak bermaksud
menyatakan kalau mereka tidak lebih baik dari anjing liar. Tapi aku menyatakan
lebih suka dengan anjing liar ketimbang mereka. Cihideung, 31 Maret 2005 |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy






































