|
Tuginem baru saja mau berubah dari orang kampung yang ngomongnya medhok, jadi orang metropolis yang kadang-kadang english speaking. Beberapa kali suaminya bingung mendengarkan dia cerita melalui telepon. Logatnya sudah seperti orang-orang melayu campur bule. Suaminya, Tugino, hanya mengangguk-angguk saja ketika Tuginem menanyakan kabar anak-anaknya yang ditinggalkan bersama suaminya. Tugino sesekali menyela, "kamu ngomong apa sih? Aku ndak ngerti maksute!" Tuginem juga tak mengerti lagi bahasa Tugino, hingga ia menutup telepon karena takut pulsanya bengkak. Tugino kembali ke kontrakan satu kamar, melanjutkan masak dan cuci pakaian
anak-anaknya yang super aktif. Sehari, tiga orang anaknya, yang bungsu berumur
2 tahun kurang, yang tengah 6 tahun, sedangkan yang sulung baru 8 tahun, bisa
gonta-ganti pakaian lebih dari tiga kali. Mereka senang sekali main di sawah,
di pinggir kali, atau di TPA. TPA bukannya Taman Pengajian Al-Qur´an, tapi
Tempat Pembuangan Akhir sampah dari Ibukota Negara, Sebenarnya sejak sebelum berangkat, Tugino tak menyetujui rencana Tuginem
untuk mengadu nasib di Negeri Kini Tuginem sudah berkumpul kembali bersama keluarganya. Ia kembali ke rumah kontrakan satu kamar. Tugino senang karena istrinya kembali. Ia punya harapan kalau kini anak-anaknya ada yang mengasuh lagi dan dia bisa kembali bekerja keras mencari selembar uang atau paling sial sekerat roti. Anak-anaknyapun kembali ceria. Si sulung tak mau lepas dari pelukan ibunya. Si tengah menggelendoti punggung ibunya, sedangkan si kecil berdiri di samping bapaknya melongo melihat tingkah kakak-kakaknya. Tuginem duduk melonjor di tikar, menyandarkan punggungnya ke tas koper
bawaannya, melepas lelah. Tugino duduk di depannya, mendengarkan istrinya
bercerita tentang segala hal tentang kehidupan di Negeri Tugino sebenarnya kesal melihat istrinya bicara dengan bahasa campur aduk yang ia tak mengerti. Sepertinya yang dihadapannya bukan istrinya yang dulu. Padahal kurang dari 6 bulan ia tak melihat istrinya, tapi sudah banyak berubah. Yang bikin Tugino rada kesal, adalah kata terakhirnya itu, "Sumpek!". Padahal sebelum pergi ke luar negeri, keadaan di kamar ini lebih sumpek dari sekarang. Maklum, Tugino lebih rajin berbenah ketimbang istrinya. Tapi, tak apalah, siapapun istrinya sekarang ini, yang penting Tugino sudah tak lagi "Puasa" berbulan-bulan. Tugino khawatir kalau terlalu lama "puasa", produksinya berubah jadi odol kering... he.. he.. |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy






































