|
Pagi tadi mang Papay
tidak terkejut dengan berita radio sakunya, " Mang Papay mengomentari
komentar mang Odon, "Negara kita itu adalah negara kaya raja, makmur tak
sejahtera, gemah ripah loh koq begitu..." "Loh Koq begitu?
Loh Jinawi!" ralat mang Odon. Mang Papay duduk di
bangku kayu Jati Belanda yang dirakitnya sendiri. Kedua kakinya dinaikkan ke
atas bangku itu juga, yang kiri bersila, yang kanan tegak menekuk. Kedua
tangannya mulai diangkat ke depan. Dahinya sedikit mencitrakan goresan pikiran.
Mulailah mulutnya mengeluarkan suara... Di sekolah pada zaman
dulu, kita pernah diajarkan tentang ideologi yang ada di dunia ini. Kamu pasti
kenal dengan Sosialisme. Pasti kamu juga akrab dengan Kapitalisme. Kita juga
pernah mengenal Marxisme, Leninisme, Nasakom, Islamisme, dan isme-isme yang ada
di bumi lainnya. Nah, untuk kasus Dari jaman Raja
Majapahit belum masih dalam bentuk sperma, nenek moyang kita sudah menjalankan
ideologi Korupsi itu dengan murni dan konsekuen. Hingga zaman melek
pengetahuan, barulah orang-orang yang kritis menganggap kalau ideologi korupsi
itu sebenarnya warisan budaya yang destruktif, jadi harus digantikan dengan
yang lebih baik. Sayangnya kita tak pernah mendapatkan desain ideologi yang
harus menggantikan korupsi itu. Sebab memusnahkan ideologi itu adalah absurd.
tidak mungkin. Lha waktu komunisme jatuh, bukan berarti komunisme tak ada lagi,
tapi hanya tak populer saja. Tetap saja ada orang-orang yang memperjuangkan
ideologi tersebut. Begitu juga dengan korupsi, sangat sulit dipunahkan. Lebih
gampang bikin punah flora, fauna, dan kaum kritis (macam Munir itu) dari
pada korupsi. Lihat saja pemerintah
kita. Waktu kampanye, iklannya memberantas korupsi. Itu mimpi! Lihat saja
buktinya, berapa sih kasus kejahatan korupsi yang berhasil ditangani dengan
menggantarkan pelakunya ke lubang hukuman bila dibandingkan dengan tumpukan
berkas kejahatan korupsi di kejaksaan? Berkasnya saja tak tertangani apalagi
pelakunya. Aku tak melihat ada geliat yang meyakinkan dari penguasa dalam
menangani masalah ini. Salah satu gubernur di
negeri ini didakwa korupsi, tapi masih dakwa saja. Anggota DPRD di daerah
didakwa, tapi masih keliaran. "Lha, ngapain gak
diundang tapi datang? Lagian itu polisi gimana cara ngasih taunya kalo gak
ngundang tersangka?" sela mang Odon, tapi dicuekin mang Papay. Mang Papay
melanjutkan... Kita mestinya sering-sering merenung dan mencari kebajikan dan
kebijakan dari dalam lubuk hati kita. Mestinya kita punya urat malu, agar
sebelum melakukan kesalahan sudah malu duluan. Tapi sulit juga sih, kalau kita
memang tak pernah belajar tentang mana yang benar dan mana yang salah. Apalagi
di zaman keren ini, yang namanya terminologi itu bisa ambigu dan multimakna. Ya
sudahlah.... aku pikir 9 Maret
2005 |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy






































