|
Aku bertemu di kolong jembatan layang, di antara lalulalang
bis terminal Kampung Melayu. "Sejak kapan kamu ngamen?"
tanyaku sambil mengunyah singkong goreng dari bungkus kertas yang sudah
berminyak di tangan kiriku. Sebelum menjawab pertanyaanku, ia menyedot minuman
teh kemasan botol tapi bukan "teh botol", "ude lama, om".
Entah berapa lama dia mengamen di bis Bocah ingusan yang bernama Bopak itu
berkisah, kalau dia tak lagi sekolah sejak kelas 2 SD. Pensiun dini itu terjadi
karena ibunya tak mampu lagi membiayai sekolah. Ibunya hanyalah PSK yang
sekarang sudah beralih profesi menjadi tukang cuci pakaian tetangga. Bopak (Aku
tidak percaya kalau namanya seperti itu, dia bilang itu panggilan Ibunya
sendiri). Tak pernah kenal dengan bapaknya. Dia dilahirkan sudah dalam kondisi
setengah yatim. Menurut Ibunya, Bapaknya masih hidup, tapi dia sendiri tak tahu
pasti, siapa Bapak si Bopak itu karena konon, yang "menidurinya"
banyak. "Tadi kamu bilang, ngamen buat bayar
sekolah?!" protesku kepada Bopak. Waktu dia ngamen di Bis Patas yang aku
tumpangi, dia sempat ber-preambule
kalau dia mengamen untuk membayar biaya sekolah. "Ah itukan cuma politik
aja, |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy






































