|
Restrukturisasi
adalah moment yang wajar terjadi
dalam sebuah organisasi. Mungkin organisasi tersebut mengalami kemandegan
kegiatan, atau kurangnya fokus pada setiap komponen organisasi dalam mencapai
tujuan, atau mungkin masalah lainnya. Yang jelas, restrukturisasi ada bukan
tanpa sebab dan bukan tanpa tujuan. Menjadi
sangat penting bagi principal
organisasi untuk memberikan penjelasan kepada para manajer dan karyawannya,
tentang latar belakang dan tujuan dilakukannya restrukturisasi. Sebab, seperti
kebanyakan sikap komponen organisasi umumnya, restrukturisasi sering
menimbulkan keresahan. Keresahan bisa menimbulkan ketegangan dalam hubungan
interpersonal. Keresahan hingga ketegangan ini bukannya menjadikan
restrukturisasi mencapai tujuan, malah akan membuat perjalanan organisasi
menjadi lebih buruk ketimbang sebelumnya. Karena itu, merupakan kewajiban principal atau decision maker untuk mempresentasikan gagasan tentang
restrukturisasi. Dalam
restrukturisasi biasanya terjadi beberapa hal; perubahan nama suatu jabatan,
perubahan bagan organisasi, perubahan jumlah manajer, dan perubahan fokus
manajemen. Dalam restrukturisasi yang terencana, hal-hal yang berubah ini
tentunya mengandung semangat dan misi baru untuk pencapaian tujuan. Namun dalam
restrukturisasi yang prematur, hal-hal yang berubah ini hanya sekedar berubah,
tanpa ada rebuilding of spirit effect.
Dalam restrukturisasi prematur, perubahan lebih banyak menciptakan masalah baru
ketimbang meningkatkan kinerja organisasi secara menyeluruh. Suatu
jabatan dibuat dengan tujuan untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan
organisasi. Untuk memecahkan masalah, jabatan diamanahkan kepada skilled manager dalam manajemen konflik.
Sedangkan untuk pencapaian tujuan, jabatan diserahkan kepada skilled manager dalam driving power. Berarti, kedua
keterampilan ini harus dimiliki oleh orang yang akan memangku jabatan. Principal harus memilih orang-orang yang
tepat untuk semua jabatan yang ada dalam organisasinya. Jika salah memilih para
manajer, bisa saja organisasi akan berjalan serius namun tak fokus. Serius
karena para manajer hanya akan memikirkan bagaimana menjalankan tugas yang
menjadi tanggung jawab bidangnya sendiri. Mereka sama sekali tidak memiliki
empati dan kepedulian terhadap orang lain. Dalam waktu 2x24 jam, hal seperti
ini akan menciptakan ketidakharmonisan partnership. Karena tidak menguasai
manajemen konflik dan bagaimana mengarahkan kekuatan organisasi, ketidakharmonisan
tersebut tentunya akan memecahkan fokus yang seharusnya. Namun
bisa jadi tak tercapainya tujuan restrukturisasi bukan hanya karena masalah
manajer tapi karena desain struktur tidak dibuat untuk memecahkan masalah dan
mencapai tujuan. Jika ini yang menjadi masalahnya, berarti restrukturisasi
menjadi sangat sia-sia. Jika ini masalahnya, berarti struktur yang didesain
tidak berangkat dari sebuah analisa jabatan yang tepat. Bisa jadi struktur yang
didesain mubadzir karena job description tidak bisa dipahami dan dirasakan oleh
pemangku jabatan. Atau bisa jadi, konsep restrukturisasi tersebut tidak dibuat
oleh tim ahli dalam manajemen dan organisasi. Jika seperti ini, jangan muntah
kalau restrukturisasi cepat basi. MT | |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy






































