|
Aku memesan mie rebus kepada penjaga warung
mie. Pukul 11.44 wib., nyaris tengah malam. Kalau malam Tahun Baru, pasti
suasana di pinggiran "Pakai telur?" tanya perempuan belia yang
kukira umurnya di bawah 19 tahun. Seperti malam-malam sebelumnya, ia memang
bertugas menjajakan mie hingga datangnya pagi. Aku paling suka makan mie rebus
pakai telur. Minumnya teh manis panas biar badanku hangat. "Mamah dan Abah kemana, ndah?" tanyaku
mengisi waktu tunggu. Aku baru mengenalnya beberapa malam. Indah namanya. Ia lulusan
SMP dari kampungnya di Kuningan. Kalau saja ia melanjutkan sekolah, harusnya ia
sudah kelas 2 SMA. Sayang sekali nasibnya tak seindah namanya. "Mamah pulang kampung. "Tiap hari kamu tidur jam berapa?" tanyaku
setelah menyeruput minuman kesukaanku. "Jam 7 sampai Dhuhur." Indah biasa menjawab
apa saja yang ditanyakan oleh pembeli. Mungkin sebagai pengisi waktu agar tak mengantuk.
Tapi ini menurutku saja sih. Karena aku tak pernah bertanya tentang hal ini. "Sepertinya kamu senang membantu Abah dan
Mamah di sini?" "Dari pada di kampung, lebih baik di sini." "Memang apa yang menarik di sini?" "Walaupun di sini capek, tapi tiap hari
bisa ketemu Abah atau Mamah. Kalau di kampung, ketemu sama teman-teman. Malu!" "Malu?" "Ya, malu!" "Kenapa malu?" "Mereka masih bisa melanjutkan sekolah. Saya
malu, setiap hari hanya menjaga keponakan." Indah selalu bicara tanpa berani
menatap teman bicaranya. Apalagi ketika ia menceritakan tentang teman-temannya
yang masih bisa melanjutkan sekolah sedangkan dia tidak, kulihat kepalanya
makin merunduk. Indah menceritakan kepadaku kalau
sebenarnya ia masih ingin sekolah. Namun penghasilan orang tuanya tidak cukup
untuk membiayainya. Selama ini penghasilan Abah dan Mamah hanya cukup untuk
makan dan membayar cicilan modal dan setoran laba kepada pak RT di kampungnya. "Cita-cita kamu apa, Ndah?" aku memulai bab
baru. Indah meletakan semangkuk mie rebus di depanku. "Ah, sekarang mah, sudah tidak punya
cita-cita!" jawabnya sambil kembali ke kursi tengah dekat kompor yang menyala
kecil sekali. "Kenapa sudah tak ada? Memang sebelumnya
kamu punya cita-cita apa?" "Waktu kecil sih, maunya jadi dokter. Tapi
itu hanya mimpi saja. Mana mungkin lulusan SMP bisa jadi dokter. Sekarang, sih,
saya jalani hidup saja tanpa mikirin cita-cita itu lagi." "Kalau kata orang-orang pintar, hidup itu
harus punya cita-cita, Ndah! Walaupun cita-cita kamu untuk jadi dokter sudah
pupus, tapi "Cita-cita itu hanya untuk orang kaya,
bukan buat orang miskin." Indah menyelak pembicaraanku. "Siapa bilang begitu? Setiap orang bebas
bercita-cita!" "Itu "Cita-cita jangan dikejar, justru malah
kabur!" aku senang berkelakar. "Seperti maling saja." Ternyata Indah cukup
cerdas juga untuk menyambut kelakarku. "Cita-cita itu bukan hanya untuk orang
kaya, Ndah. Semua orang, termasuk kita yang miskin ini, juga perlu punya
cita-cita, walaupun tidak tercapai." "Cita-cita itu bukannya untuk, tapi milik!" "Apa maksudmu?" aku benar-benar bingung
dengan pernyataan Indah : bukan untuk,
tapi milik. Sepertinya dia memang pintar. "Kalau cita-cita itu pakai kata untuk, berarti cita-cita itu diberikan
dari seseorang kepada seseorang lain. Itu tak mungkin terjadi. Pada
kenyataannya, cita-cita itu tepatnya pakai kata milik." Argumen Indah membuatku terperangah. Aku batal menyuap mie
yang hampir masuk ke mulutku. "Jadi cita-cita itu milik siapa, bukannya
untuk siapa, begitu maksudmu?" aku meminta penjelasannya tanpa benar-benar
meminta. "Betul. Cita-cita itu hanya dimiliki oleh
orang yang punya uang atau relasi. Kalau kita tak punya dua hal itu, jangan
berharap punya cita-cita. Lebih baik jalani saja hidup ini apa adanya, biar
tidak frustasi." Aku makin tertarik dengan perempuan belia ini.
Sepertinya ia benar-benar pintar. Tak seperti penampilannya yang selalu kumal
dan tidak pernah dandan. "Waktu SMP, kamu paling pintar ya, Ndah?" pertanyaan
itu meluncur begitu saja karena terkejut dan salut pada kata-katanya malam ini. "Sejak kelas 1 SD sampai lulus SMP, saya
selalu juara kelas. Tapi itu tak ada artinya buat saya." "Kenapa tak ada artinya?" "Percuma saja pintar kalau tak bisa
melanjutkan sekolah." ekspresinya menyiratkan penyesalan. "Kenapa tidak minta beasiswa?" "Itulah yang bikin saya kesal. Saya
dianggap orang mampu karena Abah selalu berusaha tak telat membayar SPP.
Padahal untuk buku saja, semuanya saya pinjam dari perpustakaan. Lagi pula,
guru-guru mengira Abah adalah pengusaha di "Tapi bagaimanapun, kamu ini pintar, Ndah!"
pujiku. "Mestinya saya tidak rajin membaca agar tak
pintar. Kalau tahu bakalan tak bisa melanjutkan ke SMA, mungkin saya tak mau
baca-baca semua buku di perpustakaan sekolah." Lurus sekali jawabannya. Luruh
hatiku mendengarnya. "Percuma menyesali apa yang telah lewat.
Tanpa sekolah, kamu tetap pintar koq." Aku memujinya lagi agar raut
kesedihannya sirna. "Ya, sekarang sih sudah tak menyesal lagi.
Tapi kalau ingat-ingat saja boleh "Bebas saja, Ndah." Aku menjawab
sebaik-baiknya agar Indah tak sedih lagi. "Situ sendiri sih yang mulai tanya-tanya
tentang cita-cita, jadinya merembet ke masa lalu." "Ya sudah, maafkan aku, Ndah! Aku tak
bermaksud bikin kamu sedih koq. Dari pada aku ngobrol sama gelas, Aku lanjutkan sisa makananku di warung
kecil ini. Walaupun kecil, ternyata warung ini cukup besar juga biaya sewanya,
400 ribu per bulan. Belum lagi uang jago, 100 ribu sebulan yang diberikan untuk
preman yang menjamin keamanan di sini. Dan ternyata, orang-orang yang makan di
sini tak semuanya membayar kontan. Banyak juga yang ngutang. Ini keketahui
ketika ada dua orang yang minta sebungkus rokok kretek lalu minta dicatat di
buku hutang sebelum pergi lagi. "Orang-orang yang ngutang, bayarnya benar?"
tanyaku ingin tahu. " "Yang kabur dicari tidak?" "Biar saja! Kalau mereka mati, Tuhan pasti
menggantungnya antara sorga dan neraka!" Seram juga jawabannya. Aku hampir saja
menjatuhkan suapan terakhir makananku. MT, Tegal Alur, awal Juli 2005 |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy






































