![]() Dalam berbagai tayangan di televisi, ada satu pernyataan yang paling kurang kusukai mendengarnya. Biasanya pernyataan itu sering keluar dari mulut selebritis maupun tokoh-tokoh populer di luar bidang entertainment. Pernyataan itu adalah "Terserah yang di Atas!" Ketika
seorang pemain sinetron ditanya tentang kelanjutan hubungan dengan sang
pacar, ia menyatakan, "Semua saya serahkan kepada yang di atas." Sang
politisi dari salah satu partai di negeri ini (gue gak tau lagi ada
berapa partai sekarang ini) ditanya tentang Siapa sih yang di atas? Tuhan? Tokek? Kuli Bangunan? Pesawat Terbang? Atau tokai burung? Apakah mereka malu atau nggak PeDe kalau menyebutkan secara blak-blakan, secara terbuka, secara jelas, siapa sesungguhnya yang di atas itu. Berbeda ketika mereka menyatakan hal-hal yang sangat tidak etis, tidak pantas, jorok, dan sebagainya ketika pentas, mereka begitu vulgar. Seorang pelawak mengejek partner mainnya dalam acara lucu di televisi, "waduh! P***tatmu gedhe banget!" "Wah, bu***ng gue minta begadang neeh!" Sebenarnya
semua orang paham apa maksud idiom "yang di atas" itu. Pasti maksud
sebenarnya adalah Tuhan, bukan tokek! Tapi apa beratnya sih menyatakan
"TUHAN" di depan publik? Tokh dengan menyebutkan nama Tuhan atau Allah,
tidak mengurangi popularitas, justru dengan begitu mereka terlihat
berani menyebut nama Allah. Orang yang berani menyebut nama Tuhan, ada
kemungkinan takut melakukan berbagai kesalahan karena selalu yakin
kalau "yang di atas" itu selalu mengetahui perbuatannya. hehehe... gue
ikut-ikutan Atau
jangan-jangan mereka terpaksa menyebut tuhan itu "yang di atas" karena
memang tak begitu yakin kalau Tuhan itu tak hanya ada di atas. Mereka
mungkin tak pernah merasakan kalau Tuhan ada di mana saja mereka
berada. Kesadaran akan keberadaan Tuhan itu sangat menentukan perilaku seseorang. Orang yang menyadari kalau eksistensi Tuhan itu menembus ruang dan waktu, tak akan berani melakukan sesuatu yang merugikan dirinya, apalagi orang lain. Orang yang seperti itu selalu yakin, kapanpun, dimanapun, Tuhan selalu menyertainya. Bahkan, ketika ia baru berniat mengentit uang rakyat, ketika itu juga ia yakin tentang keberadaan Tuhan, insya Allah, niatnya itu tak bakalan jadi ia lakukan. Lalu bagaimana dengan mereka yang hidupnya dibiayai dengan hasil korupsi, mencuri, mengentit, mengutil, manipulasi? Apakah orang-orang seperti itu sadar dengan keberadaan Tuhan ketika mereka mendapatkan nafkah ilegal tersebut? Bisa jadi mereka tak yakin kalau Tuhan itu Maha Ada. Bisa jadi mereka menyangka Tuhan hanya ada di atas langit, jadi ketika mereka melakukan kedzaliman dan kenistaan di dalam gedung, di bawah atap villa, di kamar hotel, Tuhan tak mampu menembus ruang rahasia mereka. Atau bisa jadi mereka memang tak yakin kalau "yang di atas" itu adalah Tuhan. Bisa jadi "yang di atas" itu adalah tokek. Tokee...k .... ambil, .... tokee...k .... jangan, tokee...k.... korupsi, tokee...k .... Jangan, tokee....k .... Nyogok, tokee...k ... jangan, tokee....k .... selingkuh, tokee...k ... jangan, to...ke..ke..ke..ke..... wah tokeknya hang! Gimana dong? Pulogebang, |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy








































