Bagian 1 : PENYANYI Ratna masih
diam termenung di bangku belakang mobil van ayahnya. Bibirnya yang
tipis membuat garis lurus kecil. Seperti resleting yang ditutup,
terkunci rapat. Ia malas bicara lagi dengan ayah dan ibunya yang asyik
bercengkrama di bangku depan. Membicarakan masa depan anak
satu-satunya. Ibu lebih banyak bicara tentang harapan yang akan didapat
dengan menyekolahkan Ratna di sekolah baru tersebut. Ayah, sesekali
menanggapi apa yang dikatakan ibu. Ayah selalu konsentrasi jika sedang
menjalankan kendaraan. Ini
adalah perjalanan ke sekolah baru buat Ratna. Ayah dan ibu sepakat
untuk memindahkan sekolah Ratna karena menganggap lingkungan sekolahnya
di Jakarta
sudah tidak kondusif bagi perkembangan akhlak anaknya. Apalagi Ibu,
yang paling menyayangi anak perempuan satu-satunya ini. Ibu tak ingin
Ratna terlalu sering bergaul dengan teman-temannya yang kelihatan
bandel-bandel itu. Tidak lelaki tidak perempuan, sama saja, kalau sudah
berkumpul di rumah selalu lebih banyak tertawa dari pada belajar
kelompok yang dijadikan alasan. Ayah
mendapatkan informasi dari teman kantornya, pak Usman, ada sekolah yang
sangat tepat untuk mendidik anak-anak sesuai dengan moralitas agama.
Sekolah tersebut adalah sekolah berasrama, sejenis boarding school.
Bisa juga disebut pesantren karena semua siswanya tinggal dalam sebuah
asrama yang terpisah antara asrama laki-laki dan perempuan. Apalagi dua
orang anak pak Usman, kakak-beradik sekolah di sana
juga. Yang sulung kelas 3 SMA dan yang bungsu kelas 3 SMP. Dan menurut
ayah, ketika menceritakan apa yang didapatnya dari pak Usman kepada Ibu
dan Ratna, anak-anak pak Usman itu sangat bagus akhlaknya. Mereka
begitu hormat ketika sekali-kalinya Ayah ikut pak Usman membesuk
anak-anaknya di Boarding School. "Anak-anak yang sekolah di sana rata-rata menguasai pelajarannya. Bukan hanya itu, rata-rata mereka hafal al-Qur´an." Ucap ayah bersemangat. Ratna menolak dipindahkan dari sekolahnya di Jakarta.
Belum satu semester ia menjadi siswa kelas 1 di SMA LUHUR BERBUDI,
sebuah sekolah elite, masa mau dipindahkan begitu saja ke sekolah
pilihan orang tuanya. Bukan sekolah baru yang menggelantungi
pikirannya. Tapi grup band sekolah yang telah ia rintis sejak kelas 2
SMP harus ditinggalkan begitu saja. Belum sempat ia menjelaskan kepada
teman-temannya di grup band. Ini perpisahan yang menyakitkan yang
pernah dialaminya.
"Dari tadi kamu diam saja, Rat? Kenapa? Kamu masih belum bisa menerima
alasan ayah?" Ibu menoleh ke belakang menyapa Ratna yang sedang
mengarahkan pandangannya ke jendela. Tatapan Kosong.
Ratna hanya diam. Diambilnya bantal kecil dan merebahkan badannya di
bangku tengah itu. Mengambil majalah kesukaannya dan membaca.
"Kamu ini bagaimana, sih. Ditanya ko diam terus?!" Ibu kesal sepertinya.
"Sudahlah, Bu. Tak perlu membahas masalah itu lagi. Kita sudah akan
sampai sebentar lagi, nih." Ayah tak mau masalah yang pernah muncul
antara ia dan Ratna berulang kembali dalam perjalanan ini.
Tiga hari sebelum perjalanan, Ayah marah sekali pada Ratna yang berkeras untuk tetap sekolah di Jakarta.
Bersambung... gw ngantuk banget... n... pening kehujanan atau ada yang mau nyambungin? Silakan aja! 
|