25/12/2005
-
BERAPA GAJIMU?
|
Salah satu penyebab terjadinya konflik antar karyawan adalah perbedaan selisih gaji. Ada karyawan yang ngiri terhadap temannya yang bergaji lebih tinggi. Perbedaan ini menimbulkan bermacam masalah. Bagi yang lurus-lurus saja, tak masalah baginya orang mau digaji berapa, yang penting dia bisa bekerja dengan aman. Bagi yang selalu iri, ada saja yang menjahili rekan kerja yang gajinya lebih besar itu dengan berbagai cara. Ada yang menebar gosif, fitnah, dan pendekatan kepada petinggi, agar gajinya juga bisa naik, atau paling tidak sama dengan teman yang diirikannya. Bagi orang yang bego, ada juga yang main belakang. Biasanya orang-orang seperti ini melakukan konsultasi ke dukun, agar taraf gajinya bisa mencukupi bahkan melebihi kebutuhan hidupnya. Hm... yang beginian nih, jangan lo ikutin deh, rugi dunia akherat! Tapi pernahkah terpikir bahwa masalah perbedaan gaji itu juga bisa membuat sebuah negara tak pernah aman, tak pernah nyaman, selalu diancam demontrasi, selalu dikerjain teroris? dll? dlsb? Pernahkah terpikir kalau masalah GAJI bisa membuat negara ini hancur? Kita lihat saja artikel beberapa koran nasional kemarin. Masalah gaji pejabat negara bisa bikin protes anggota DPR. Akhirnya, semua pihak menuntut agar tahun depan gajinya dinaikkan. Padahal, menurut data yang saya dapat dari Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT), gaji para petinggi negara ini sudah begitu tinggi. Apalagi kalau dibandingkan dengan gaji buruh di DKI Jakarta saja. Jangan lagi membandingkan dengan gaji buruh di daerah lainnya. Pasti bisa bikin puyeng kepala! Bagi petinggi negara, mungkin bisa bikin puyeng p**tat mereka. ![]() Dari grafik tersebut, jelas sekali kalau perbandingan gaji antara petinggi dengan buruh sangat camplang. Terbayangkah? kalau perbedaan yang begitu menjurang itu bisa jadi sebagai pemicu keresahan rakyat banyak. Itu baru gaji saja. Belum fasilitas, belum, uang proyek, belum uang rapat, belum uang penetapan perda, belum korupsi (hwalahh... gw jadi berprasangka nih). Bagaimana mungkin negara ini bisa toto tentrem kerto raharjo (apaan sih artinya?) Tak perlu lagi mengungkap berapa gaji pengusaha. Yang jelas bisa lebih besar dari pada penguasa. Sebab tidak jarang, para pengusaha menyelipkan "donasi" buat oknum penguasa (baca : petinggi dan pejabat negeri). Jika dikaitkan dengan isu terorisme, bisa jadi hal ini membuat mereka doyan bikin ulah. Jika dikaitkan dengan gerakan sosialis kiri, kanan, depan, belakang, bisa jadi hal ini membuat mereka doyan demo. Pernahkah anda bertanya kepada pegawai negeri kelas teri tentang jumlah gaji mereka? tentang potongan-potongan yang mereka alami? Pernahkah anda menanyakan penghasilan pedagang kecil yang selalu digerebeg karena dianggap membuat semrawut lingkungan kota? Ini masalah! Ya sudahlah, saya jadi puyeng untuk melanjutkan tulisan ini dengan angka-angka. Semoga saja mulai tahun 2006 negeri ini bisa lebih baik dari tahun "Pemberantasan Korupsi", tahun 2005. |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy

tahun 2005. 





































