Mengakhiri
tahun 2005, Pagi tadi bom meledak di Palu. Lalu aku iseng cari bacaan.
Dapat artikel Ini. Berita yang pernah ada dan saya ambil dari redaksi
Kantor Berita Radio 68H. Ada sekitar 13 juta orang Islam di Indonesia, terlibat dalam gerakan Islam radikal. Ini berarti sebanyak 6,5 % dari total penduduk Indonesia.
Angka yang mestinya besar. Tak penting apakah seluruhnya dari 13 juta
itu sebagaian besar terlibat secara aktif atau cukup memberi ´Amien´. Angka
itu diperoleh dari suatu survei nasional yang dilakukan Pusat Pengajian
Islam dan Masyarakat dari Universitas Islam Negeri Jakarta bekerja sama
dengan Jaringan Islam Liberal dan Freedom Institute. Hasil survei yang
dilakukan pada bulan Nopember tahun lalu itu bakal diumumkan pekan
depan. Bocorannya disampaikan secara terbuka oleh Koordinator Jaringan
Islam Liberal Hamid Basyaib kemarin dalam kolokium ICIP, kependekan
dari International Center for Islam and Pluralism. Lebih jelas, baca di KB Radio 68H.
Seorang teman tadi pagi bertanya padaku, kenapa sih mereka itu doyan
ngebom? Apa yang mereka dapatkan? Aku tak bisa menjawab dengan pasti.
Sebab pertanyaan itu mestinya dijawab oleh tukang bom itu, bukan aku.
Yang jelas, sepertinya Amerika dan Israel senang sekali kalau di bumi
endonesya ini sering terjadi peledakan bom. Itulah yang mereka
inginkan, kondisi unstable, berkembangnya terorisme, yang asal
muasalnya merupakan trigger dari kedua negara itu. Sejak tanggal
24 Desember 2005 sebenarnya aku sudah menunggu, dimana bom akan meledak
lagi. Ketika hari natal tak ada ledakan bom, aku cukup bersyukur. Aku
mengira mungkin kaum radikal spesialis bom itu tak punya kesempatan
meledakkan parcel karena intel dan aparat keamanan negeri ini sudah
hebat. Tapi ternyata kecolongan juga. Pas sekali, mereka menutup tahun
dengan kelakuan liar ala preman-preman arogan didikan Amerika dan
Israel.
Kembali ke angka 13 juta, kalau memang gerakan radikal yang dimaksud
dalam survey itu terdiri dari beberapa pergerakan, berarti radikalis
bomber merupakan bagian kecil saja dari 6.5% rakyat negeri korup ini.
Lalu mengapa intel dan aparat keamanan tak mampu menghadapi mereka?
Atau memang gerakan underground radikalis bomber itu memang lebih hebat
dari centeng-centeng Republik?
Teman saya masih bertanya, kenapa mereka doyan ngebom? Aku tetap tak
bisa menjawab karena jawabanku pasti tak bisa merepresentasikan para
pelaku peledakan itu. Aku hanya bisa menyatakan bahwa anggota gerakan
underground itu dididik dengan kaderisasi yang bagus. Mereka begitu
kuat menanamkan rasa benci kepada negara burung garuda ini. Mereka
menjadikan perbuatannya itu sebagai jihad fi sabilillah. Jadi, apapun
cemoohan kita terhadap mereka, tetap saja mereka merasa paling benar
dan paling representatif untuk memperjuangkan ideologi Islam.
Orang-orang seperti mereka itu bebas melakukan apa saja karena
menganggap masa sekarang adalah masa perang. Jadi apa yang mereka
lakukan sah-sah saja menurut mereka. Mau ngebom kek, mau nyulik kek,
mau ngerampok ATM kek, mau makan di warteg sambil ngembat tempe goreng
kek, itu halal saja bagi mereka. Sebab selain mereka, manusia di muka
bumi ini dianggap kafir dan bebas diapa-apain.
Memang benar, Islam tak mengajarkan radikalisme yang seperti itu. Tapi
pada kenyataannya radikalisme itu tetap ada. Masalah apakah mereka itu
representasi dari Islam, berpulang ke diri masing-masing. Kadang-kadang
kita juga merasa mewakili Islam ketika kita berperilaku. Waktu kita
shalat, ceramah, silaturahmi, bahkan ketika kita ngegosip kali ye...
Dan merekapun begitu, merasa merepresentasikan Islam. Radikalisme agama
lain juga begitu, mereka merasa mewakili Tuhannya. Padahal tak semua
penganut agama itu sepakat dengan perilaku demikian.
Mengakhiri tulisan di akhir tahun ini, aku hanya ingin menyatakan ;
sebuah kebenaran yang direpresentasikan oleh sebuah kelompok yang
merasa paling benar, paling suci, paling mujahid, maka sebenarnya ruh
kebenaran itu sudah menguap ke petala langit. Kalaupun kelompok itu
masih tetap eksis dan merasa membawa label kebenaran, sesungguhnya
mereka itu hanya sekedar mewakili nama kelompoknya saja. Mereka itu
berjuang bukan lagi demi kebenaran, tapi demi kelompok mereka sendiri. bukan jihad fie sabilillah, melainkan jihad fie sabilil kabilah. Itu yang jarang disadari oleh sebagian besar kader pergerakan.  Cihidueng Forest, 31 Des 2005 | 23:55 WIB berapa orang lagi yang jadi teroris di 2006?
|