|
Terus terang saja, aku belum pernah tahu sate balibul
itu. Mendengarnyapun baru kali ini. Temanku yang berbadan rada gemuk
namun lincah ini mendeskripsikan tentang sate balibul. Sate itu katanya
khas Tegal. Kakak seorang teman kami, adalah pengusaha sate balibul di Tak
salah juga dong kalau aku berpikiran begitu. Sebab di negeri ini tidak
jarang kita membaca berita di koran ataupun dari televisi maupun radio,
tentang perempuan yang tega membunuh bayinya sendiri. Hampir seperti
pembunuhan itu adalah kasus aborsi yang
bakalan banyak ditemukan jika benar-benar dilakukan penelitian serius.
Nah, mungkin karena sudah sering mendengar kasus pembunuhan bayi
itulah, maka pikiranku langsung melesat ke situ. Temanku yang lincahnya mirip bintang film Mandarin, Sammo Hung
itu menegaskan kalau bayi itu adalah bayi kambing yang baru berusia 5
bulan. Tambahnya lagi, sate balibul itu merupakan makanan favorit
artis-artis endonesya. Akhirnya aku sepakat, pukul 20.00 wib waktu Tiga
ekor balibul cukup banyak juga untuk penghuni hutan Cihideung ini,
pikirku sambil membantu menusukkan potongan daging sate ke lidi. Hidup
di hutan ini enak sekali. Ada teman yang jago memotong kambing, ada
yang spesialis mengiris-iris, ada yang mencari lidi dari pelepah kelapa
yang pohonnya bejibun di sini, ada yang khusus mengipas-kipas sate, dan
ada juga yang menunggu sajian dengan ngobrol bertopik maupun
ngalor-ngidul. Inilah kebersamaan yang kurasakan di hutan ini.
Kebersamaan seperti ini biasanya baru terasa kalau ada pertemuan
informal seperti ini. Seperti acara malam ini, yang digagas oleh
temanku yang bolehlah kusebut namanya, Kupmin Rambe. Dia adalah salah seorang guru di sini yang juga merangkap sebagai ketua panitia lomba badminton. Sebenarnya
pesta sate balibul ini rencananya adalah acara penyerahan hadiah bagi
sang pemenang lomba badminton antar penghuni hutan. Pertandingan yang
digelar adalah partai double. Penentuan timnya juga asal kocok saja
macam arisan. Jadi, yang memang jago badminton bakalan kewalahan
melawan tim rivalnya jika dia mendapat rekan yang rada bego main
badminton. Seperti temanku yang bernasib sial karena satu tim denganku.
Padahal pada lomba badminton yang pernah diadakan beberapa bulan lalu,
dia adalah finalis. Tapi berkat kebegoanku, akhirnya dia gugur di babak
penyisihan group. Satu lagi uniknya pertandingan kali ini adalah,
setiap tim boleh mencari pemain cabutan atau cadangan jika ternyata
rekan setimnya tak bisa hadir. Hehehe... di seluruh dunia, hanya di sini
saja pertandingan badminton pakai substitusion player. Yang
lebih kocak lagi adalah partai final. Pertandingan ini berlangsung seru
dan ketat. Hampir satu jam mereka menghabiskan set pertama. Hampir satu
jam juga mereka menyelesaikan set kedua yang berakhir dengan kedudukan
satu-satu. Sesuai ketentuan standard, tentunya pertandingan harus
dilanjutkan dengan rubberset. Namun karena adzan maghrib sudah
menjelang dan angin petang sudah berkeliaran, maka pertandingan tidak
dapat dilanjutkan hingga malam sate balibul ini. Maklum, lapangannya
belum dipasangi lampu neon. Ga mungkin enak kan, kalo tetap dilanjutkan
pakai obor atau lampu ningtin? (hayoo, tau ga lo apaan tuh lampu ningtin? Tanya sama bangnamun!) Akhirnya semua peserta mengusulkan agar para finalis gambreng atau gamswit aja! Hwalah! Pertandingan berhadiah kambing ditentukan dengan adu jari Tapi
ga penting yang menang siapa, sebab hadiahnya juga bakalan dibuat sate.
Sebab satenya juga sudah mulai dibakar. Yang penting dalam event
pertandingan badminton adalah kebersamaannya, bukan hadiahnya. Betul?! Yang penting dalam pertandingan adalah membina kepribadian kita dalam bersikap sportif, menerima kekalahan dengan bangga, memprotes wasit dengan sopan, dan yang paling penting adalah... tak ada konspirasi antara pemain, wasit, dan panitia. Dan dalam semua hal tersebut, aku lihat pertandingan itu sukses. Terlepas dari gamsuit atau gambrenknya... Kembali
ke nasib bayi kambing yang kini sudah berwujud sate itu, ternyata salah
satu ciri khas sate balibul adalah, ketika dibakar, bumbunya adalah susu kental manis.
Aku tak perlu menyebutkan merk susunya, sebab aku khawatir produsennya
tak mampu bayar iklan di blog ini. Ini yang baru buatku, bumbu bakaran
satenya pakai susu. Jadi penasaran bagaimana rasanya?! Kira-kira pukul 21.00 waktu Di rumah aku langsung nyalakan kompie dan online sambil mendengarkan lagu The Inner Light yang dinyayikan the Beatles. Kurenungkan lirik lagu yang dipengaruhi oleh aransemen musik Without going out of my door The farther one travels Without going out of your door The farther one travels Arrive without travelling Hampir
tengah malam. Datang 2 temanku yang sejak awal sibuk nusukin sate
bersamaku, mereka datang dengan sebungkus sate balibul dan sebungkus
sop balibul. Hm... ternyata masih ada yang ingat denganku. Itulah
realitas pertemanan. Kadang kita memang bagian dari sebuah pertemanan,
kadang kita adalah setan yang harus disingkirkan, dan kadang kita
adalah bagian yang hilang .... Terhadap semua posisi ini, kita harus
ready dan selalu tersenyum! SDSK,
|
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
|
hehehe... makasih bos FQ2. entah kapan aku bisa merasakan suasana saat kita baru pertamakali dilahirkan entah kapan aku bisa kembali merasakan pelukan damai seperti dulu nan jauh entah kapan kita bisa makan sate balibul bersama (di jakarta dimane yang jual?) terima kasih, bro! |
Permanent Link |
| mang ga ada makanan laen, kejem amit anak kambing dibantai..ih :( |
Permanent Link |

hwakakakak...
Dalam Segala Kondisi! 






































Doa yang terpendam, kerinduan yang besar, "kemarahan" yang bermakna dan hati yang menanti, adalah bentuk lain dari sebuah ungkapan pertemanan.
Semangkuk Sup hangat dimusim dingin hanya mampu memberi sedikit kehangatan pada tubuh, sepotong pisang goreng hanya mampu mengganjal perut kita sesaat, dan sebungkus SATE BALIBUL, hanya membuat gua Gondok (heheheh.. makanya kirim-kirim) jangan serius-serius ya, nanti cepat SERIUS loh. Namun doa, kerinduan, kemarahan dan hati yang merintih, adalah teman yang terlupakan. Sebab dia hanya merindu tanpa diketahui. Rintihannya hanya menembus relung hatinya yang merindu, dan rindunya pun hanya mampu ditangkap oleh hatinya yang merintih. Dia amat amat bahagia walaupun hanya mendengar "secarik" kabar tentang temannya.
Robbanaghfirlana waliikhwaninaladzina sabaquna bil iman.Ungkapan yang hanya didengar oleh telinga dan hatinya sendiri..... untuk siapa?
Pernah kita sama2 susah terperangkap didingin malam
terjerumus dalam lubang jalanan
digilas kaki sang waktu yang sombong
terjerat mimpi yang indah.. lelah.
Pernah kita sama2 rasakan panasnya mentari hanguskan hati
hingga saat kita nyaris tak percaya
bahwa roda nasib memang berputar
SAHABAT masih ingatkah .. KAU
hari2 terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati
cukup lama aku jalan sendiri
TANPA TEMAN yang sanggup mengerti
hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu hanguskan jiwaku.
SAHABAT masih ingatkah Kau?
Semoga SATE BALIBUL bisa gua rasakan.....
Permanent Link