7/1/2006
-
Obrolan di Warung Pecel Lele
![]() Seorang
sahabat bertanya kepadaku, "Apakah beragama itu harus dideklarasikan?
Apakah aku perlu memberitahukan orang-orang, hoi.... aku beragama
ini.... atau agamaku adalah itu...?" Aku sibuk menikmati pecel lele potongan pertama. kutarik pinggiran perutnya, kutelan, hm... nikmatnya, sejak siang tadi hingga tengah malam buta ini aku ketemu makanan. Kucolek potongan daging ikan ke cobek sambel yang menambah selera makanku. fuih... pedas tapi nikmat! "Untungnya apa memberitahukan agama kita kepada orang lain?!" Sahabatku masih belum selesai nyerocos. Aku reguk air teh manis hangat sedikit, agar tenggorokanku tak tersedak. "Lagi pula menurutku, agama itu adalah urusan pribadi. Orang yang meyakini satu agama, mestinya menjadikan agama itu sebagai pembimbing bagi kehidupannya, bagi caranya bersikap, bicara, berperilaku, dan bahkan dalam berprasangka. Kalau agama hanya dijadikan sebagai identitas an sich, apa bedanya dengan KTP atau SIM?! Ya nggak Te?" Aku biasa dipanggil Te, kependekan dari MT, kependekan dari Mataharitimoer. Aku singkirkan daun kemangi ke pinggiran cobek. Aku tak suka memakannya, bau! Tapi kata sahabatku ini wangi, bukan bau. "Ada lagi orang yang hanya menjadikan agama sebagai makanan pikiran saja. Orang-orang seperti ini biasanya doyan banget diskusi, debat, dan pokoknya adu konsep. Menurut kamu gimana, Te?" Ikan leleku sudah habis. Tinggal satu ekor lagi... hehe... aku pesan dua "Kalo menurutku sih, agama itu bukan hanya untuk dijadikan bahan diskusi, tapi harus diterapkan mulai dari pribadi-pribadi. Agama harus dijadikan sebagai pembimbing hati. Seperti kata AA Gym, Jagalah Hati. Benar tuh syairnya AA Gym. Tapi lama-lama saya liat itu hanya sekedar syair, ngga ngeffect ke perilaku orang-orang yang senang menyenandungkannya. Ya kan Te?!" "Alhamdulillah, kita bisa makan malam ini..." komentarku. Tak usah heran dengan interaksi aku dan sahabatku ini. Dia biasa bertanya padaku, bagaimana Te, menurut kamu, Te, ya kan, Te, apa ya, Te, dll. Tapi seperti biasanya, ia sendiri yang melanjutkan pembicaraan. Aku sering tak sempat untuk berkomentar. Jadi aku santai saja melanjutkan makan sambil mendengarkan ocehannya. Dia sendiri tak tersinggung dengan sikapku. Sebab memang dia itu begitu, bertanya tak sepenuhnya bertanya. Hampir semua pertanyaannya bisa dijawab sendiri. "Ada juga orang yang mengaku pejuang agama, tapi pikiran dan sikapnya menunjukkan kalau mereka memperjuangkan partai doang, bukan agama. Ya kan Te?!" "Setiap hari mikirin popularitas dan kredibilitas partai, itu maksudmu?" tanyaku "Begitulah. Tapi mereka selalu bilang dakwah. Mengajak orang-orang konsisten terhadap agama atau sekedar mengajak aktif di partai, agar pas pemilu mendulang suara?!" "Partai itu kan bagian dari agama" tanggapku "Bukan cuma partai yang merupakan bagian dari agama, rasionalitas, tenggang rasa, kejujuran, rumah, masjid, pasar, lapangan, warteg, warnet, semua juga bagian dari agama." "Memang benar, lalu apa yang kamu beratkan?" "Orientasi mereka, dalam segala hal, selalu partai. Yang dibahas selalu partai. Lama-lama mereka justru taat terhadap aturan partai ketimbang aturan agamanya sendiri." "Jangan khawatir sampai begitu jauh dong, friend!" "Bukannya terlalu jauh, tapi sekedar mengingatkan saja." "Kalau niatnya sekedar mengingatkan, ga perlu sampai monyong gitu..." "Ah walaupun sampai monyong juga tak bakalan didengar sama mereka" "Kenapa curiga begitu?" "Mereka hanya mau mendengar omongan orang-orang dari kalangannya saja, dari pimpinannya saja. Selain komunitas mereka, tak akan dianggap!" "Sinis sekali kamu!" "Bukannya sinis, aku sekedar mengingatkan kalau sikap seperti itu merupakan salah satu ciri ashabiyyah. Salah satu jenis ahabiyyah adalah sikap keras kepala dalam masalah-masalah intelektual dan kebiasaan mendukung pernyataan dan ide diri sendiri atau membela guru atau pemimpinnya sendiri, bukan demi mempertahankan kebenaran dan menolak kebatilan. Ini jarang disadari oleh sebuah komunitas manapun." "Sudahlah, sabar saja. Doakan saja biar Allah meluruskan mereka atau meluruskan pandanganmu." "Kenapa pandanganku harus diluruskan?" "Bisa jadi mereka salah menurutmu, tapi menurut mereka, kamu juga salah. Nah, tak ada salahnya kan kalau saling mendoakan saja. Ketimbang saling mencerca..." Jl. Bakti, Tanjung Priok 06 Januari 2005 |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
9/1/2006
-
sejak...
| gw suka pecel lele sejak rame-rame ada flu burung. nah, kalo flu lele, gw belon denger tuh. hwakakakak.... gimane, ada tukang sekoteng ngga? |
Permanent Link |
9/1/2006
-
ngilerrrr
| Te, loe kira-kira dong bikin 'bumbu penyedap' artikel loe. Pas baca lagi pada puasa arafah, ngilerrrr, ntar malem gue mo makan pecel lele |
Permanent Link |
9/1/2006
-
buat sendiri (dulu) aja
|
Hari gini ngomongin agama? :) Jujur aja Te, untuk saat ini gue tidak berani banyak berbicara tentang hal yang berbau-bau agama apalagi memberi komentar, walaupun sekedar ngobrol sama teman gue. Bukan apa-apa, gue sendiri juga merasa masih banyak salahnya dan ngga tahu apa tentang hal yang satu itu. Kalau menurut gue pribadi ya, lebih baik kita reflect ke diri kita sendiri, sudah benar belum. Soalnya, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang gue temui berkoar-koar tentang agama (khususnya tentang ibadah), tapi nyatanya kehidupannya, attitude-nya tidak senada dengan apa yang dia bilang. Untuk saat ini, gue lebih coba otto-critic aja sih Te, kalo elo gimana? regards, Aisah |
Permanent Link |
10/1/2006
-
tanggapan atas comment Aisyah
|
benar kata kamu, agama itu memang buat mereflect diri sendiri. setuju banget. justru tulisan ttg obrolan dengan sahabat ini saya buat sebagai bagian dari mengaca diri. kadang orang menulis untuk orang lain, tapi kadang juga untuk diri sendiri. dan apa yang ditulis ini memang seperti apa adanya sesuai dengan isi obrolan saya dg sahabat di Tanjung Priok. begitupun ttg polling yang saya buat ttg bagaimana muslim yang kita temui di kehidupan kita sehari-hari, berangkat dari niat untuk menjadi refleksi kita sesama muslim. tidak ada tendensi kepada kelompok atau sekte tertentu. kalaupun ada yang merasa tersinggung, ya itulah bagian dari hidup bertetangga. hehehe... terima kasih atas masukan kamu. ditunggu respon lainnya agar aku bisa terus belajar. |
Permanent Link |








































Permanent Link