|
Dalam
khutbah Jum´at seorang khatib berpesan kepada diri dan jamaah. Ia
mengajak agar setiap orang memberikan makanan baik buat akal, jasmani,
dan ruhani. Makanan akal adalah ilmu pengetahuan. Makananjasmani adalah
semua makanan (tentunya yang halal) yang biasa kita makan. Sedangkan
makanan ruhani adalah ibadah wajib dan sunnah yang mesti dilakukan
seperti shalat tahajjud, shaum sunnah, dzikir, dan riyadhah-riyadhah
lain yang berorientasi pada peningkatan spiritual. Dalam
kehidupan sehari-hari tidak jarang kita dihadapkan pada sebuah kondisi,
dimana seorang yang rajin belajar, rajin beribadah, rajin riyadhah,
namun masih melakukan kekhilafan sebagai manusia. Ia masih senang
melakukan ghibah, masih senang memprovokasi orang lain agar membenci
orang yang dia benci, masih memfitnah, masih suka mendengar informasi
tanpa mencari kebenaran atas informasi tersebut, masih ada juga yang
terlalu picik dalam menginterpretasikan sikap tetangganya menjadi
hal-hal yang negatif. Negatif minded, salah satu frase yang mungkin
bisa mewakili kondisi barusan. Bagaimana bisa orang yang rajin beribadah dan rajin riyadhah masih juga melakukan hal-hal naif seperti saya ungkap di atas. Orang
yang menganggap kewajaran sebagai perilaku biasa, akan membiarkan
perilaku naif seorang muslim itu sebagai penyakit yang makin lama makin
kronis. Bisakah kita menerima dengan akal dan hati kita ketika
mendengar kalimat, wajar saja masyarakat menebang pohon sembarangan,
wajar saja pemerintah memberikan HPH karena negara butuh devisa, wajar
saja pengerukan tanah dan pasir dilakukan karena rakyat butuh makan,
wajar saja hutan gundul karena masyarakat sibuk cari makan. Masihkah
kita menganggap wajar apabila bencana tsunami, tanah longsor, banjir
bandang, kebakaran hutan, merupakan akibat dari fasad dan kebodohan? Jawaban
lain tentang orang yang rajin ibadah dan riyadhah namun tetap berlaku
jahul biasanya karena setiap diri kita masih dalam proses pembinaan,
maka wajar saja kalau masih ada kekhilafan dan atau kesalahan. Memang
kita bukan orang suci. Tapi jika kesalahan kita justifikasi dengan
alasan pembinaan atau tarbiyah, saya sangat keberatan. Dengan
menganggap wajar setiap kesalahan yang dilakukan oleh jamaah tarbiyah,
secara tidak langsung itu merupakan perendahan atas kualitas tarbiyah
yang selama ini dilakukan. Jawaban tersebut secara implisit menganggap
bahwa tarbiyah yang sudah bertahun-tahun dilaksanakan sama sekali tidak
memberikan efek positif bagi pesertanya. Lalu apakah kita harus
menyalahkan tarbiyah secara kelembagaan? Ini
merupakan soal yang harus kita jawab bersama. Saya akan menceritakan
sebuah kisah fiksi. Seorang pasien datang ke dokter. Ia mengeluhkan
penyakitnya. Dokter memeriksa sakit pasiennya hingga memberikan resep
obat. Hanya resep obat dan cara memakan obat tersebut. Apakah dengan
resep itu pasien bisa sembuh? Secara nalar kita tahu jawabannya. Tarbiyah
secara kelembagaan bisa saja dijadikan sebagai tempat pelatihan
pengobatan namun bisa juga menjadi obat. Tergantung dari siapa yang
menyikapinya. Begitu juga dengan ibadah dan riyadhah, bisa merupakan
resep obat maupun obat. Orang yang menjadikan tarbiyah hanya sebatas
resep dan tempat pelatihan penyembuhan, maka akan selamanya melakukan
latihan tanpa menikmati kesembuhan. Orang yang menginsyafi ibadah hanya
sebagai resep dan metode penyembuhan, akan selamanya jungkir balik dan
kelaparan namun sama sekali tak kunjung menikmati kesehatan spiritual. Kita
belajar fiqih dan tauhid. Membahasnya dalam setiap pertemuan.
Menyampaikannya dalam setiap pembelajaran. Namun fiqih dan tauhid itu
yang kita jadikan materi sehari-hari tak mampu menyingkap tabir
makrifat. Kita tak mendapatkan sibghah tauhid. Apakah gerangan yang
menjadi tabir antara hamba dan Allah? Apakah yang membuat jarak kita
semakin tak mendekat dengan Nur Ilahi? Tarbiyah
merupakan kata yang satu akar dengan murabbi. Kedua istilah itu
merupakan penjabaran dari kata agung ar-Rabb. Tarbiyah itu merupakan
bagian dari upaya menyingkapkan tabir antara hamba dengan Tuhannya.
Tarbiyah adalah obat manakala jamaah mengalami penyakit hati. Tarbiyah
adalah laboratorium yang akan memeriksa tingkat keparahan penyakit lalu
memberikan terapi. Lalu siapakah yang mengobati? Hanya Allah. Bilakah
Allah menyembuhkan penyakit hambanya? Ketika tak ada hijab antara hamba
dan Sang Prima Causa. adabbani rabbi, fa ahsana ta´dib... [CR :) punya pengalaman menarik tentang kalimat terakhir barusan?] Cihideung Forest, 13 Januari 2005 |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy






































