|
Pernah naik bis Dari Anyer ke Cilegon, perjalanan di angkot silver selalu diiringi dengan house music yang bikin penat. Kalau kata NQ, temanku sesama "tukang serpis", musik itu adalah musik flexible. Lagu apapun bisa dimainkan dengan irama tung-tang-tung khas musik haus itu. Aku menguji pernyataan NQ. Maka aku lantunkan beberapa lagu jadul keluaran bimbo, koesplus, Muksin, Oma Irama, Titik Puspa, bahkan hingga ke lagu-lagunya Mashabi.... Hehehe.... benar juga statement NQ itu. Lalu kucoba menyanyikan nasyid yang kutahu, mulai dari Ar-Ruhul Jadid, Snada, Raihan, dan lainnya yang aku hanya tau sedikit... ih... ternyata masuk juga lho ketukannya. Bahkan kata NQ, "Kalo lu bawain shalawat aje, bisa nyambung sama ni musik. Tapi ya... kedengeranye jadi kaya orang bego!" Memang jenis musik ini sangat akomodatif terhadap jenis lantunan/lagu lainnya. Yang berubah hanya temponya saja. Nah, yang perlu disadari, tempo sebuah lagu itulah yang bisa membuat lagu itu masuk atau tidak ke otak dan hati pendengarnya. Sampai di Cilegon, perjalanan kami lanjutkan dengan menyetop Bis AC tujuan Tanjung Priok. Tujuanku sebenarnya sih ke Mangga Dua. Tapi menurut pengalamanku, lebih terasa cepat naik bis jurusan priok lalu lanjut ke MangDu dengan Mikrolet Butut. Baru saja aku dan NQ duduk di seat 3, dua orang pengamen membuka acara. Satu orang bertindak sebagai MC plus vokalis sedangkan temannya menjadi satria bergitar. Mereka menyanyikan lagu Jujur punya Radja, "Buktikanlah bila tak ada kita ..." Kupingku terganggu dengan kesalahan lyric lagu tersebut. Setahuku mestinya lyric itu berbunyi, "Buktikanlah bila kau ada cinta..." ini kebiasaan yang sering kudengar dari pengamen. Mereka asal nyanyi saja padahal tak bisa menginterpretasikan lagunya. Buktinya, dengan lyricnya saja sudah salah. Pengamen itu turun di Ramayana Cilegon. Setelah Perumahan Pondok Cilegon Indah, bis belok kiri untuk masuk ke tol. Baru saja bis itu lurus ke arah tol, kudengar lagi intro dari pengamen baru. Seorang pengamen dengan gitar ramai dengan striker, rambutnya nge-punk dicat putih sedikit, membuat penampilannya nggak matching banget. Kacamata hitam disangkutkan di kepalanya, sedikit lebih hitam dari kulit mukanya yang berminyak. kaos oblong putih dan celana jins ketat membuat penampilannya makin cingkrang. Ia menyanyikan lagu Iwan Fals, Asyik Nggak Asyik, "dunia politik penuh dengan musik... cubit ![]() Baru saja Punk-Fals turun, sekelompok pengamen datang lagi. 4 orang, dua pakai gitar, satu kecrekan botol berisi -mungkin kacang hijau atau beras- dan satu lagi gallon air mineral. Mereka menamakan diri seniman, nyanyikan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri yang berbau nasionalis. Mereka menyuarakan pendidikan yang mahal di negeri ini, korupsi yang menjadi tradisi, dan percekcokan suami-istri. Ini baru pengamen kreatif pikirku. Walaupun mereka berpenampilan sangar, tetapi aku yakin mereka masih punya perasaan untuk memahami nelangsa rakyat bangsa ini. Hanya satu lagu, merekapun berlalu setelah mendapatkan gopean atau seribuan seperti pengamen-pengamen lainnya. Bis masuk ke terminal Pakupatan Serang. Biasanya hanya berputar sebentar lalu melanjutkan perjalanan ke tujuan sesungguhnya, Tanjung Priok. Namun ini bukan hari biasa. Bis itu sungguh luar biasa, sudah 40 menit nongkrong di terminal ini belum juga pergi. Terpikir untuk complaint kepada kondektur, tapi aku pikir akan sia-sia saja, sebab Supirnya tak ada. Kutanya kepada kondektur, Supirnya kemana? Dengan kontur wajah sundanya, kondektur tersebut bilang, "nemuin bininya dulu, sebentar pak!" uff!!! Kaget aku mendengarnya. Ya sudahlah, mungkin benar akronim supir itu "Suka Mampir". Aku naik kembali ke bis tersebut. Ternyata sudah ada pengamen cilik yang membagi-bagikan amplop. Kulihat amplop yang dipegang NQ, isinya sebuah permohonan bantuan untuk kebutuhan sekolah dan makan sehari-hari. Perempuan cilik berdua dengan -mungkin- adik atau temannya yang lebih kecil itu menyanyikan lagunya Ratu, "TTM : Teman Tapi Mesra". Selesai 2 pengamen cilik, masuklah seorang lelaki separuh baya. Peci hitam lapuk masih saja dipakai, seperti ketika beberapa bulan yang lalu aku juga bertemu dengannya di bis yang lain. Dia membuka pertemuan layaknya ustadz yang memberikan ceramah, lalu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sudah tahu kalau suaranya bagus untuk didengar karena pernah sekali bertemu dengannya pada kesempatan berbeda. Lumayanlah, dari pada kesal karena ulah supir, lebih baik mendengarkan tilawah qur'an. Mungkin karena iseng, NQ bertanya padaku, "Apakah yang seperti ini termasuk menjual ayat-ayat Allah?" NQ mengutip firman Tuhan tentang larangan menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah. Menurutku pengamen qur'ani ini tak termasuk menjual ayat-ayat Allah. Kalaupun ada yang menganggapnya begitu, aku merasa konteksnya tak tepat. Menurutku, pengamen ini mencari nafkah dengan kemampuan yang ia bisa. Pengamen lain bisa main gitar dan bernyanyi, maka merekapun bernyanyi, sedangkan bapak ini bisanya tilawah qur'an, maka tak ada salahnya menjadikan skillnya itu untuk menghidupi anak istrinya. Ya qaumi'malu 'ala syakilatihi, bekerjalah kamu sesuai dengan skill. Kalau tak salah pernah kubaca satu ayat Tuhan yang berbunyi nyaris seperti itu. "Berarti pengamen tadi tak termasuk penjual agama dong ya! Seperti apa sih penjual agama itu?" tanggap NQ setelah lelaki separuh baya itu mendapatkan nafkahnya dalam bis ini. Aku bilang padanya pernyataan pertama benar, tapi pertanyaan selanjutnya agar ditanyakan saja kepada penjualnya langsung, karena merekalah yang memberikan garansi. Senang juga bis AC lelet ini akhirnya berangkat melupakan terminal Pakupatan Serang. Di depan kampus Untirta, seorang pemuda berkaos hitam buatan dagadu jogja, naik. Ia bukan mahasiswa Untirta, tapi seorang penyair jalanan. Paling tidak itulah pengakuannya. Ia membawakan beberapa puisi hingga bis kembali berhenti di Stopan Banten. Tak jelas apa puisinya sebab vokal penyair jalanan itu tak dapat didengar dengan baik. Seorang penyair mestinya memiliki power vokal yang kuat, sehingga sebising apapun mesin bis, sederas apapun suara ombak, puisi-puisinya tetap dapat didengar. Aku kira sudah tak ada lagi pengamen yang mampir di bis ini setelah kepergian penyair jalanan tadi. Bis yang kutumpangi tak kemasukan pengamen lagi hingga berhenti sebentar di kolong jembatan sebelum pintu keluar Tangerang. Masuklah sepasang karaoke-girl. Ia menyanyikan lagu-lagu dangdut dengan microphone yang tersambung pada perangkat Karaoke Rakitan. Seperti artis-artis dangdut kebanyakan, 2 orang KG (karaoke girl) ini suaranya tak bagus-bagus banget namun pakaiannya ketat banget. Seperti lemper, ketat, seloroh NQ. Dari seluruh penampilannya, yang rada bagus adalah musik pengiringnya saja. Seandainya KG itu bisa berkaraoke sesuai irama dan tempo lagunya, pasti akan lebih enak didengar. Di pintu tol Kebon Jeruk 2 KG itu turun dan aplusan dengan Ahmad Dhani, pentolan group Dewa. Aku kucek-kucek mata dan melihat sekali lagi, apakah Ahmad Dhani original yang ada di bis ini. Ahmad Dhani berpakaian kaos hitam biasa, celana pendek sedengkul, dan sebuah Karaoke Rakitan yang ditempel dengan foto-foto pribadi dan group Dewa. Ia menyanyikan lagu Bidadari, Antara Kau, Aku, dan Dia. Suaranya boleh juga, rada-rada mirip suara Dhani di kaset/CD. Tapi saat ia menyanyi itulah aku lebih jelas melihat kalau yang ada di depan mataku ini adalah Ahmad Dhani Bajakan, bukan Original. Pengamen lainnya yang aku temui juga di bis ini adalah pengamen mantan narapidana. Kusebut begitu karena memang begitulah pengakuannya. Ia naik setelah bis sampai di Permai, Tanjung Priok setelah bebas dari jalur Tol. Bang Napi itu tidak bernyanyi ia hanya menyampaikan pesan waspadalah-waspadalah, dengan penekanan kepada siapa dirinya. Ia mengatakan kalau dirinya masuk penjara karena membunuh orang, kini ia sudah keluar dan ingin hidup normal tetapi sulit mencari pekerjaan. Ia beralasan lebih baik meminta uang dari tuan-tuan, nyonya-nyonya, om dan tante, di bis ini ketimbang kembali menjadi pembunuh sehingga masuk ke penjara lagi. Beberapa orang kulihat memberinya uang. Aku sama sekali tidak tertarik untuk memberinya uang karena aku memahami kalau pidatonya tadi lebih sebagai ancaman ketimbang permohonan bantuan. Sebenarnya orang-orang seperti ini sudah sering kutemui di jalur ini. Biasanya mereka masuk ke dalam bis menuju merak yang baru keluar dari terminal, tapi tumben kali ini bang Napi masuk ke bis yang menuju terminal. Ancaman makin kurasakan ketika ia menatapku sambil berbicara, "jangan sampai saya membunuh lagi hanya gara-gara gak dapat gopean!". Tak mempan. Ancaman seperti itu tak membuatku mengeluarkan gopean. Bisa jadi yang kukeluarkan adalah... limapuluhribuan... huekekeke...k... mending buat bancakan... NQ setuju, katanya lebih berkah goban buat bancakan dari pada ngasih gope karena takut ancaman. Di depan lampu merah dekat kantor polisi bang Napi turun. Digantikan dengan beberapa lelaki yang sebagian memakai helm. Mereka berebutan masuk melalui pintu depan dan belakang bis. Tapi mereka bukan pengamen. Mereka adalah pengojek motor yang menjemput bola, eh sewa ketimbang menunggu di pangkalan. Cihideung Forest, 21 Maret 2006 [hari puisi sedunia] |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |








































Permanent Link