|
Sore kemarin, Kamis, 20 April 2006 aku melihat seorang santri yang sedang mencari-cari sesuatu di rerumputan. Dia memegang sebilah kayu dari potongan papan lusuh. Kuperhatikan dia begitu serius. Keringat membasahi baju seragam yang mestinya dia ganti sepulang sekolah. Seorang Ustadz menanyakan kesibukannya di situ. Dia bilang sedang mencari sesuatu, dengan roman muka seperti menyembunyikan sesuatu. Aku curiga sepertinya yang dicarinya adalah barang berharga miliknya yang hilang, entah apakah itu. Seorang temannya lewat di depanku dan Ustadz. Dia memberitahukan kalau temannya itu sedang mencari lebah. Hah Lebah? Sang Ustadz bertanya lagi kepada santrinya yang masih mengorek-korek rumput. “Memang lebahnya bersarang di rumput?” tanya Ustadz Santri itu hanya tersenyum sambil memandangi wajah Ustadz yang juga tersenyum. Aku jadi ikut tersenyum melihat mereka berdua. Lantas sang ustadz meninggalkannya sambil berkomentar, “Rupanya dia mau meminta maaf kepada lebah yang telah dipukulnya dan entah jatuh kemana.” Uff, Bening sekali hati santri itu menurutku. Ia telah melakukan kesalahan kepada seekor lebah. Kesalahan karena iseng memukul lebah yang sedang terbang dalam jangkauannya. Lebah itu terhantam potongan kayu lusuh yang sudah dimakan rayap. Kayu yang menjadi alat si santri itu untuk melampiaskan keisengannya. Sekali pukul lebah itu terjerembab ke rerumputan. Dan sesaat kemudian, santri itu merasa bersalah dan mencari korbannya untuk meminta maaf. Ini sebuah kisah sederhana yang kudapatkan di sore hari, saat aku ke rumah ustadz untuk mengecek masalah komputernya. Seorang santri yang mau meminta maaf kepada korbannya. Seandainya para politisi dan penguasa negeri bisa bersikap seperti dia… Di negeri ini, politisi adalah orang yang paling sering mengorbankan rakyat. Terutama mereka yang sudah mendapatkan kedudukan dalam pemerintahan dan parlemen. Betapa sering rakyat dijadikan obyek penderita untuk mencapai kepentingan “iseng” mereka. Kemarin, aku baca editorial koran pagi, anggota DPR mendapat jatah uang sebesar 5 juta rupiah per kepala (bukan per otak, menurutku karena jarang yang pakai otak). Uang itu adalah uang lelah karena keikutsertaan mereka dalam Tim Pansus Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (RUU Aceh) [baca: proyek] yang seharusnya sudah menjadi pekerjaan wajar anggota dewan atas gajinya yang melimpah. Butek sekali hati para anggota dewan yang terhormat itu. Perilaku mereka tak seterhormat sebutannya. Mereka tak pernah merasa bersalah saat mengembat uang rakyat. Apa saja yang mereka lakukan dalam proyek-proyek urusan, selalu dapat bayaran. Untuk rapat saja sudah dapat amplop. Kunjungan dapat tunjangan. Plesiran dapat jaminan. Mungkin ke neraka, mereka juga minta ongkos lelah. |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy







































