|
Sejak Agustus 2004 hingga kini aku tinggal di hutan ini. Hutan yang terletak di kampung Cihideung. Untuk bisa masuk ke hutan ini cukup mudah. Jarak dari jalan negara di pesisir pantai Anyer tidak lebih dari 9 kilometer. Hanya 25 menit jika naik motor (ojeg), 15 menit kalau tak pakai rem dengan resiko menabrak anjing liar, bocah ingusan, motor malam yang tak berlampu, atau nyusrug ke jurang. Kalau jalan kaki paling bisa 2-3 jam. Aku pernah berjalan kaki setengah jarak perjalanan. Kutapaki jalan aspal licin sambil bercengkrama dengan sahabat yang lebih dulu menghuni hutan. Berarti sudah 20 bulan aku menjadi bagian dari hutan ini. Walaupun keberadaanku tak memberikan banyak peran dalam masyarakat sini. Betahkah? Itu pertanyaan yang beberapa kali aku terima dari teman-temanku, baik yang sama-sama tinggal di sini maupun yang mengais rejeki di Bagiku, tinggal di hutan ini adalah bagian dari komitmenku bersama istri sebelum pindah ke sini. Aku pernah bilang kepada istriku, jika memang kamu mau mengabdi di hutan itu, aku siap mendukung dengan satu syarat : jangan kembali di tengah jalan. Aku menyaratkan hal itu karena buatku, jika kita sudah bertekad untuk bekerja di suatu tempat, apapun resikonya, nikmatilah. Jangan kembali jika tak diminta pergi.� Tinggal di hutan ini memang bukan tanpa pengorbanan. Aku tak melihat pada diriku saja. Bagiku, orang-orang yang mau tinggal di sini adalah mereka yang rela mengorbankan kehidupannya di gemerlap Hutan ini adalah lokasi pendidikan selain pertanian. Sebagai area pendidikan, maka banyak guru yang keluar-masuk di hutan ini. Keluar-masuk? Ya. Pada kenyataannya tidak sedikit pula orang yang tak betah tinggal di sini.
Dari ketinggian di Cihideung Forest, ke Timur bisa melihat hamparan hutan pegunungan, ke Barat dapat menikmati lukisan alam laut dan bayangan anak krakatau Malam ini aku memikirkan tentang keluar-masuknya orang-orang di sini. Sebab setelah maghrib tadi aku mendengar kabar tentang beberapa orang temanku yang juga akan pergi dari sini. Mereka hendak pergi dengan alasannya sendiri-sendiri. Aku tak bisa mengidentifikasi alasan rencana kepergian mereka. Memang datang dan pergi adalah bagian dari hidup. Tapi untuk sebuah lembaga pendidikan, adalah masalah. Bagiku, keluar-masuknya guru setiap tahun dalam sebuah lembaga pendidikan sangat berpengaruh dalam sistem pengajaran. Terutama dalam proses pembentukan karakter siswa. Setiap tahun siswa harus kembali beradaptasi dengan guru baru yang juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Ini jelas sangat mempengaruhi misi lembaga dalam pencapaian visi. Kehidupan merupakan hak bagi setiap orang untuk mencapai impiannya. Mereka yang masih mencari “sesuatu” yang didambakannya akan terus mencari. Yang mencari idealisme religius akan mencari di tempat lain jika tak mendapatkannya di sini. Yang mencari kepastian status kepegawaian akan meninggalkan lembaga swasta ini. Yang mencari keramaian, akan meninggalkan sepi di sini. Yang mencari kemapanan hidup akan berlari mengejar mimpi. Yang mencari komunitas baru, akan beranjak menuju pencariannya. Itu semua adalah hak azasi. Setiap orang memiliki rencana hidupnya sendiri. Aku juga berpikir tentang bagaimana merencanakan kehidupan yang akan dijalani setiap orang. Ketika teman-temanku merencanakan tinggal dan bekerja di sini, apakah mereka merencanakannya dengan matang. Ini pernah aku nyatakan kepada temanku yang pernah menyatakan keinginannya bekerja di sini. Aku bilang, kalau hendak mencari kelebihan material (baca: kekayaan), hutan ini bukan tempat yang baik. Hutan ini jauh dari akses bisnis. Untuk membeli kebutuhan sandang dan pangan saja, mesti kembali ke kota yang jaraknya lebih dari 20 KM. Temanku bilang, ia ingin mendapatkan kepuasan spiritual jika dapat bekerja di sini. Aku nyatakan, kepuasan spiritual tak mesti didapatkan dari pesantren. Kalau sekedar mencari kepuasan spiritual, di Kaitannya dengan biaya hidup memang sangat dipengaruhi oleh kebutuhan yang dinamis. Seorang tukang gorengan yang kuajak ngobrol ketika menunggu angkot pernah menceritakan kisahnya. Ia dulu tak pernah berpikir akan membeli ini-itu. Tapi setelah anaknya balita, ia berusaha membelikannya sepeda. Ketika anaknya beranjak remaja, iapun mencari tambahan rejeki untuk membeli TV karena tuntutan akan hiburan, membeli pakaian dan aksesoris agar anaknya berpenampilan seperti kawan sepermainan, membeli buku-buku yang diperlukan untuk sekolah maupun bacaan. Jadinya ia membeli ini-itu. Itu kemestian hidup namun ia tetap bertahan sebagai penjual gorengan. Mengapa tak beralih usaha? Kusodorkan pertanyaan itu. Jawaban bapak yang kulitnya sudah sedikit keriput itu simpel, saya hanya bisa begini. Cukupkah memenuhi kebutuhan dengan usaha begini? Tanyaku lagi. Ia bilang, kalau selalu merasa tidak cukup, saya bisa kehilangan akal dan berubah jadi babi ngepet atau memelihara tuyul. Naudzubillahi, pak Ngadiman menutup cengkrama. Aku kembali memikirkan satu kata : Betah! Ini seharusnya menjadi pertanyaan baik bagi mereka yang hendak bekerja di hutan ini maupun bagi lembaga yang menyediakan pekerjaan di sini. Bagi karyawan, pencarian akan kehidupan ideal bisa menjadi godaan. Bagi lembaga, membentuk sistem yang stabil, akomodatif, dan antisipatif, merupakan kemestian. Ini terlintas dalam pikiranku karena aku begitu memikirkan efek ketidakbetahan guru terhadap siswa, baik secara psikis maupun akademis. Terang saja kamu enak tinggal di sini, sebab kamu bukan karyawan! Pernyataan itu pernah dilontarkan temanku. Memang aku outsider di sini. Tapi tidak bagi istriku. Ia adalah karyawan yang sama dengan yang lainnya. Ia berinteraksi dengan para atasan. Tidak selalu senang. Kadang ada kecewa. Tapi dimanapun kita bekerja, itu merupakan bagian darinya. Adakah pekerjaan yang tidak menimbulkan gesekan perasaan? Dimanakah itu? Aku rasa sulit menjawabnya. Setajam apapun gesekan perasaan dalam sebuah pekerjaan mesti menjadi pembelajaran. Bukan hanya karyawan yang merasakan kekecewaan. Atasan juga punya perasaan. Siapapun dia kadang merasa kecewa melihat kinerja karyawan. Tapi itu tak dijadikan sebagai pemicu untuk mengeluarkan kecaman. Mereka tetap memberikan penghasilan yang selalu diharapkan para karyawan setiap awal bulan. Ucapkan selamat jalan bagi mereka yang keluar, jangan salahkan apapun yang menjadi alasan. Selipkan senyum untuk mengikat hati agar tak rapuh karena tertarik jarak yang kian jauh. Siapkan sistem yang stabil untuk masa depan. Ucapkan selamat datang bagi mereka yang hendak mencoba peruntungan. Selipkan nyanyian agar hati bisa saling berangkulan. Jelang Shubuh di Cihideung Forest, 21 April 2006 |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
| tapi aku bukan pilihan...hehe...tulisan yang dalam makna! bravo km emang care ya...:) |
Permanent Link |








































Hidup adalah pilihan.
Permanent Link