9/5/2006
-
Menyabari Orang Tak Sabar
|
Dimanapun kita tinggal, menetap, bekerja, bermain, berlomba, dan lain-lain, akan bertemu dengan orang yang tidak menyenangkan. Misalnya orang yang tidak mencoba memahami apa yang sedang kita alami, sementara ia meminta kita melayaninya. Kadang ada orang yang minta tolong saat anda juga butuh pertolongan, pernah kan?! Kadang anda juga bertemu dengan orang yang sangat tidak sabar dan anda harus sabar terhadapnya. Yang ini kadang susah dilakoninya. Walaupun pada akhirnya kita melayani tapi saat itu juga kita punya rasa kesal. Apalagi kalau kejadian tersebut sering berulang, jujur saja... itu sangat menyebalkan. Mencoba bersabar karena ketaksabaran orang lain, sering kali aku alami. Salah satunya adalah karena berkaitan dengan pekerjaan istriku. Sebagai dokter, dia sudah memasang jadwal buka dari pukul 07:30 sampai 17:00 WIB. Waktu istirahat adalah pukul 12:00 sampai 13:30 WIB. Kenyataannya, tetap saja ada makhluk Tuhan yang sering datang di luar waktu itu. Seringkali kedatangan mereka terkesan terburu-buru untuk minta dilayani, padahal kondisi mereka tidak gawat sama sekali, cuma flu, pusing, atau sekedar minta vitamin atau lagi... nimbang badan doang... dan itu mereka lakukan saat di luar jam kerja. Lebih parahnya lagi, mereka sering datang, saat istriku baru mau menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga beranak tiga. Seperti kejadian kemarin. Pagi, sebelum bekerja, istriku seharusnya membuatkan makanan untuk sarapan anakku yang mau berangkat sekolah, lalu dia mestinya membantu anakku lainnya yang belum berusia 1 tahun untuk mandi dan memenuhi kebutuhan bayi. Sedangkan aku sedang mengurusi anak keduaku yang minta dibuatkan susu botol. Pagi itu, saat semua orang di rumahnya juga pada sibuk, datanglah pasien rajin. Dengan wajah memaksa dia menanyakan istriku. Aku bilang saja, tunggu, nanti juga dibuka. Pasien rajin itupun duduk sambil mencemberutiku. (kalau aku nggak sabar, pasti itu orang sudah benjol). Seringnya, sebagai dokter istriku akhirnya melayani para pasien rajin itu. Dampaknya, anakku jadi malas sarapan, karena dia hanya mau memakan masakan buatan mamanya. Anakku yang kedua sering jealous karena pagi-pagi mamanya sudah "ngurusin" orang lain. Aku sering memberi pengertian kepada anak-anak. Tapi, ya.. begitulah, bagaimanapun anak-anak punya logika sendiri, berbeda dengan orang tua. Siang hari, saat keluargaku ngumpul, ingin sekali aku makan bersama. Aku minta istriku masak sesuai pesananku dan anak-anak. Ia pun setuju. Aku membantunya menyiapkan bahan makanan, dia menyiapkan bumbu dan perangkat masakan. Belum selesai istriku memotong cabe dan bawang, terdengar klakson motor. Kulihat, ternyata pasien lagi. Dia bilang padaku, "Ada bu Dokter?" Aku bilang kalau istriku baru saja mau istirahat dan aku minta ia datang lagi nanti ketika jam kerja. Aku tutup pintu. Tetapi ternyata dia tidak pulang, malah sedikit memaksa dengan alasan penting, minta obat buat anaknya karena anaknya harus minum obat setelah makan siang hari ini. .... yah... mengalah... pasien itu terlayani ... rencana makan keluargakupun batal.... Ada lagi yang nyaris membuat kesabaranku hilang. Tengah hari itu, saat jam istirahat, terdengar suara klakson motor. Istriku sedang menyusui bayiku yang sedang tak sehat, demam. Setelah kubilang kalau istriku sedang istirahat dan mengurus bayi, maka istri sang pasien itu diam saja sambil bermain bersama kedua anaknya. Sang suami kudengar berkata kepada istrinya, "Bilang saja cuma minta obat!" Merekapun menunggu. Suara anak-anaknya yang bercanda mengganggu anakku yang sedang dikelonin. Akhirnya aku minta agar istriku melayani keluarga pasien yang terhormat itu dengan resiko anak kami menangis karena belum lelap tertidur. Aku gendong anakku agar terhibur dan bisa diam. Tetapi ia tak bisa diam. Kugendonglah ia ke depan, agar melihat suasana baru. Pasien itu melihat kalau aku sedang menggendong anakku yang menangis. Mereka diam saja, mungkin sudah biasa mendengar tangisan anak bayi yang sedang sakit. Tak kulihat penyesalan pada raut wajah mereka. ... oohh... betapa sabarnya hatiku.... ![]() Sabar...dong bos!! Aku tulis ini sekedar untuk melampiaskan marahku. Biasanya setelah aku menuangkan emosi ke blog, maka kesabaranku akan tampil dengan sempurna. Aku tak lagi memendam kesal dan tak lagi mendendam marah. Hanya tinggal doa yang bisa menyirami hatiku yang memerah, semoga orang-orang yang sering mengganggu kami diberikan kesabaran oleh Allah. Dan semoga mereka dikaruniai kecerdasan agar bisa memahami dan menghargai WAKTU PRIVASI. |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
10/5/2006
-
istri solehah
|
hua...bersyukur punya istri solehah kayak mbaknya....kan ntar kebagian pahala juga.. tapi kan .. " MT juga manusiaaaaaaaaaa" :d sabar sabar |
Permanent Link |
11/5/2006
-
Untitled Comment
|
INGAT!!! Barangsiapa yang beriman pada Alloh dan hari kemudian hendaklah ia Memuliakan Tamunya. Banyak riwayat dari Para Nabi sampai rakyat jelata yang telah dituangkan dalam pena emas keshabaran. Contoh salah satunya adalah bagaimana sebuah keluarga harus rela, anak dan istrinya tidak makan demi dia menghormati tamunya (tamunya yang dikasih makan). dan INGAT!!! Inna Shobru min shodamatil 'Ula (Keshabaran itu terletak pada kali pertama kejadian/musibah) |
Permanent Link |
12/5/2006
-
fashobrun jamil
| sesungguhnya sabar itu baik, dan Allah beserta orang-orang yang sabar. Emang sih waktu mau marah kayaknya kita emosi seali, tapi disanalah letak titik goda syaithan untuk menjatuhkan hambaNya ke dalam lubang maksiat. Semoga pak MT sekeluarga disabarkan di anyer sana yak :D |
Permanent Link |









































Permanent Link