12/5/2006
-
Menorehkan Sejarah Lurus
![]() Maaf, tak sesenpun saya mengkorupsi Uang Negara, selama saya memerintah (32 tahun). Maaf, bukan kemauan saya kasus saya di deponir Maaf Anda jangan Marah sama saya kalau saya bebas. Maaf. Marahlah pada Negeri ini yang membebaskan saya. Maaf [Comment Header by Naufal] Indonesia adalah negara hukum, dimana "permainan" hukum selalu menjadi tontonan sejarah. Hukum mudah sekali diutak-atik oleh siapa saja yang berkuasa. saat seorang pencuri ayam ditangkap, dia tak perlu diperiksa kesehatannya, walaupun sudah tak berwujud manusia normal karena sudah babak belur dihajar massa. Langsung saja pencuri ayam itu diadili, bahkan dijebloskan ke penjara. Tetapi hal itu tak pernah berlaku bagi orang-orang kaya dan memiliki koneksi yang baik dengan kekuasaan. Orang-orang berkelas selalu saja beralasan sakit jika akan diperiksa oleh kejaksaan atau pengadilan. Dan selalu, para penegak hukum itu mengalah hingga si pesakitan yang moralnya sudah bejad itu bebas. ![]() Keputusan pemerintah terhadap perkara pak Harto sungguh sangat disayangkan. Ini menunjukkan bahwa negeri ini masih terpenjara dengan budaya paternalistik. Pakai mencari-cari alasan sejarah, menutupi bukti-bukti, mengumpulkan jasa-jasa, agar pak Harto bisa bebas menuju kematian natural. Keputusan pemerintah ini merupakan preseden buruk bagi penegakan hukum. Walaupun hukum di negeri ini tak pernah tegak, lemah lunglai, lemah syahwat. Besok-besok, setiap pesakitan negeri ini akan mencontoh kiat-kiat pak Harto agar bebas dari perkara. Pak Harto memang sudah 32 tahun berkuasa dan memimpin kemajuan bangsa ini. Tapi tetap saja, di balik kemajuan bangsa dan menerima jasa pak Harto, kita harus berani dan tegas dalam mendefinisikan dosa-dosanya. Dalam perkara agama, jika kita tak menuntaskan perkara pak Harto, itu sama saja dengan menggantung kesalahannya menjadi dosa-dosa tak termaafkan. Bagaimana dia bisa mati tenang karena dosa-dosanya belum diampuni. Kita bisa saja berdalih, Tuhan Maha Pemaaf, tapi tetap saja, kesalahan terhadap orang banyak, harus dimaafkan oleh orang banyak, bukan oleh Tuhan Yang Maha Pengampun itu. Jadi, keputusan pemerintah bisa dimaknai sebagai jalan untuk memberikan kematian Soeharto secara natural dengan membawa dosa-dosanya ke NERAKA. Apakah keluarga pak Harto tetap berterima kasih kepada SBY atas keputusannya membiarkan dosa-dosa Soeharto tak dimaafkan oleh rakyat? Selamat rakyat masih pro-kontra terhadap dosa-dosa rezim ORBA yang digembongi oleh Soeharto, berarti masih ada sebagaian rakyat yang tak mau memaafkan dia. Saya -sebagai salah satu rakyat yang belum memaafkan soeharto- menyarankan agar Soeharto tetap diproses secara hukum, dijelaskan kesalahannya (selain jasa-jasanya tentu), lalu divonis. Masalah apakah dia bisa menjalankan vonis pengadilan, itu urusan terakhir. yang jelas, perlu ketegasan dan kepastian hukum agar sejarah negeri ini berjalan normal sebagai bekal sejarah generasi mendatang. Dengan begitu, kita telah menorehkan sejarah yang lurus buat anak bangsa ini pada masanya nanti. |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
12/5/2006
-
Solusinya....
|
Mas MT, ketika Daulah Khilafah Islamiyah kelak tegak -insya Allah- , setiap orang-orang yang dulu pernah menghambat laju kebangkitannya akan tetap diadili di hadapan umat, khususnya para (mantan) penguasa yang selama ini menzholimi Islam dan umatnya. Kasus Pak Harto ini baru satu contoh dari sekian banyak penguasa zholim dimuka bumi ini. Apabila kita menilik sepak terjang Soeharto lebih dalam lagi, tentu akan kita jumpai sederetan list panjang atas kejahatan dan pembusukan yang telah beliau lakukan kepada umat ini. Tak sekedar kejahatan ekonomi berikut KKN nya lho, Seoharto dan kroninya juga telah menorehkan asam ke dalam luka umat yang menganga. Banyak bukti atas kejahatan tiran ini disamping kejahatan yang terbesarnya yang ia lakukan yaitu menganulir syari'at Allah dalam mengatur kehidupan mu'malah rakyatnya.. Betul Mas, Allah memang Maha Pengampun.... Tapi , apakah masyarakat sudah memaafkan atas kezholiman sistemik yang telah ia lakukan selama ini? |
Permanent Link |
12/5/2006
-
berani mati
| ah orang tua. KAU bisa saza lolos dari pengadilan manusia. kau tak takut rupanya pada pengadilan Tuhan bah! |
Permanent Link |









































Maaf bukan kemauan saya kasus saya di deponir
Maaf Anda jangan Marah sama saya kalau saya bebas.
Maaf. Marahlah pada Negeri ini yang membebaskan saya. Maaf
Permanent Link