|
Setiap orang hidup dalam nasibnya. Seperti sebuah track marathon. Setiap fase adalah fragmen hidup yang mau tidak mau harus dilalui. Kadang kita mengalami fase indah, menggembirakan, biasa, kecewa dan bahkan sedih. Itu sudah merupakan bagian dari track yang mesti dilalui. Hideyoshi, seorang tokoh dalam novel Taiko karya Eiji Yoshikawa, pernah bilang, hidup itu bagaikan perjalanan menuju puncak gunung. Dalam perjalanan tersebut, kita akan berhadapan dengan berbagai masalah, berbagai hambatan, misalnya dihadang oleh binatang buas di hutan. Kesuksesan, dalam pandangan Hideyoshi, bukanlah pencapaian menuju puncak, melainkan saat kita mengendalikan rasa dan pikiran dalam menghadapi setiap masalah. ![]() Berapa kali saya ditawarkan sebuah konsep hidup sukses oleh teman-teman yang saya kenal di perjalanan. Mereka mempresentasikan sebuah harapan indah. Mereka melantunkan kata-kata pembius. Mereka mereferensikan buku-buku how to yang penuh dengan tips dan trik dalam menggapai sukses. Dan ujung-ujungnya, mereka membanjiri kepala kita dengan UANG. Masih ada ujungnya lagi : Jualan!! Puncak kehidupan, menurut teman-teman saya adalah kemampuan kita mendapatkan tumpukan Rupiah. Mereka ada yang terang-terangan menyatakan diri sebagai usaha MLM (multi level marketing), ada juga yang malu-malu dengan menyebutnya semi-MLM, bahkan ada lagi yang nggak punya malu dengan menyatakan "kami bukan MLM" walau tetap saja mengklasifikasikan downline-nya dalam jejaring level. Usaha apapun yang mereka tawarkan, semuanya memiliki Memang hidup perlu uang. Kebahagiaan hidup akan terasa sirna tatkala kita mengalami musibah. Apapun jenis musibah itu, apakah itu kematian anak, saudara, orang tua, sahabat, atau musibah dalam format lain, seperti sakit, rawat inap, pembebasan koruptor dari hukum, penebangan liar, pengerukan ilegal, dan lain-lain. Semua itu musibah. Semua itu membuat kita sedih. Tak ada orang yang tak sedih ketika mendapatkan musibah. Inti pernyataan saya (setelah lama ngelantur) adalah, apakah uang yang kita tumpuk dalam rekening atau di bawah bantal, bisa mengubah kesedihan itu menjadi kebahagiaan? Bisakah uang menghapus musibah? Mampukah kita menyogok "Sang Prima Causa" agar tak memberikan musibah? Banyak yang berpikir, dengan uang maka kita dapat melakukan apa saja, dapat memiliki segalanya. Tidak hanya orang-orang kaya. Mereka yang miskinpun sama gilanya terhadap uang. Sekarang saya mau bicara tentang orang miskin saja. Teman saya, yang bernama Tugino, punya istri bernama Tuginem. Anda yang pernah membaca cerita saya serial TnT pasti sudah mengenal mereka. Tugino dan Tuginem adalah sepasang suami istri yang dikaruniai tiga orang anak laki-laki. Yang dipikirkan oleh Tugino setiap hari adalah, bagaimana mendapatkan uang untuk makan. Pekerjaan apapun ia lakoni demi mendapatkan makanan untuk anak istrinya. Tugino pernah menjadi kuli musiman, pernah jadi kondektur biskota, dan segala macam pekerjaan di Sebagai istri, Tuginem tak mau ketinggalan. Iapun ikut mencari uang. Singkat cerita, Tuginem menjadi Tenaga Kerja Wanita di Malaysia. Walaupun status ketenagakerjaannya ilegal (pekerja haram) namun Tuginem berhasil mengumpulkan uang untuk kebutuhan keluarganya. Berbulan-bulan ia bekerja, semakin banyak uang yang didapat hingga akhirnya ia selalu memikirkan "Apa yang akan dibeli dengan uangnya". Setiap hari Tuginem berpikir tentang kesenangan yang belum pernah dirasakannya selagi masih nelangsa. Iapun memanjakan diri setiap hari hingga lupa terhadap anak dan suami. Tuginem hidup senang di negeri Jiran, sementara Tugino dan ketiga anaknya, tak lagi berpikir ada Tuginem dalam kehidupan mereka. Tugino nyaris frustasi ditinggal istri. Ia melamar kerja menjadi centeng di sebuah pertokoan. Lumayan... gajinya bisa membuat anak-anaknya senang. Kelebihan gajinya, bisa membuat Tugino bersenang-senang dengan Inah, pembantu rumah tangga tetangga. Lain lagi dengan kisahnya si Gali. Mantan supir yang dipecat oleh bosnya gara-gara mencintai sekretaris pribadi bosnya, kini sudah aktif dalam sebuah MLM. Seminggu sekali ia menghadiri presentasi dan forum motivasi dari cukong MLM. Setiap hari si Gali berpikir tentang mimpi-mimpinya. Ia berkhayal tentang passive income, bonus motor, mobil, rumah mewah, hingga kapal pesiar. Setiap hari si Gali selalu mempresentasikan produk MLM-nya. Berbulan-bulan gali mendaftar teman-temannya, mengundangnya untuk ikut presentasi, demo produk, dan membeli buku-buku peningkat motivasi untuk dipinjamkan kepada teman-temannya. Apakah si Gali berhasil? Hampir setahun Gali ikut MLM, baru satu orang downline yang dia dapat.� Satu orang itupun adalah adiknya sendiri yang sudah lama menganggur. Modal awalnya dimodali sendiri oleh si Gali. Hampir setahun, Gali baru berpikir, waktu pertama kali bergabung, ia membayangkan sebuah pekerjaan yang santai, tidak menyita waktu, dan tidak mengganggu kegiatan lainnya. Waktu pertama bergabung, Gali membayangkan, hidup nyaman, uang selalu mengalir karena sistem MLM, punya fasilitas hidup yang dapat dibanggakan. Tetapi satu buah sabun mandipun tak berhasil dia jual. Mana mungkin teman-teman gali yang hanya kondektur metromini mau membeli sabun seharga 15 ribu perbatang? Keramas saja pakai sabun colek. Kapokkah Gali? Rupanya ia kapok terhadap MLM itu. Lalu ia berganti usaha MLM lainnya. Masih sejenis, tetapi menurut upline-nya, MLM-nya berbeda dengan MLM lain... Selanjutnya Gali menghabisi hidupnya dengan keluar-masuk MLM, semi MLM, non-MLM, MLM-Syari'ah, dll. Tetap saja gali tak bisa hidup sesuai dengan impiannya. Itulah dua contoh kisah, TnT dan si Gali. Mereka adalah salah dua orang yang menganggap UANG adalah segalanya. Mereka berpikir bahwa kesuksesan itu diukur dengan keberhasilan mendapatkan uang. Walaupun mereka tak juga mendapatkan kebahagiaan hidup. Begitu juga dengan para cukong, hidup bergelimang harta, ketika mendapatkan musibah sedikit saja, uangnya tak dapat mengubah nasibnya. Uang tak dapat menentukan kebahagiaan hidupnya. Satu hal yang dapat menentukan kebahagiaan hidup adalah kesadaran akan kehendak Tuhan. Kebahagiaan akan terasa tatkala kita mampu menyadari bahwa segala yang terjadi pada diri kita adalah Kehendak-Nya. Kegembiraan dan kesedihan adalah bagian dari fase yang dijalurkan-Nya untuk kita. Saat kita mampu menginsyafi musibah dengan kesadaran akan kefanaan diri dan kewujudan-Nya, bisa jadi kita akan lebih damai. |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy








































