![]() Kematian pasangan hidup, misalnya
suami yang ditinggalkan istri, bisa jadi itu adalah penderitaan baginya. Tetapi
bagi suami yang lain, merupakan kebahagiaan karena ia bisa kawin lagi, walau
air matanya berlinang. Air mata buaya! Sikap orang dalam menyikapi musibah berbeda-beda. Tergantung dari pemahaman, pengalaman, dan kepasrahan. Pemahaman akan musibah sebagai fase hidup, membuat seseorang dapat menerima musibah apa adanya, tidak berlebihan dalam menentukan sikap maupun pernyataan. Musibah yang dialami dipahami sebagai bagian dari ujian atas pilihan hidupnya. Musibah datang, tak lepas dari Kuasa Tuhan. Bagi orang yang menjadikan hidupnya sebagai pengalaman (baca: hikmah) menganggap musibah yang dialami sebagai sebuah momentum yang memang harus dijalaninya. Mereka yang pandai mengambil hikmah dari setiap momen kehidupannya, tak akan merana dengan datangnya musibah. Bahkan musibah yang dialaminya dianggapnya sebagai ujian dalam menjalin cinta terhadap Tuhannya. Lalu bagaimana agar musibah menjadi kebahagiaan? Jawabannya hanyalah kesabaran dan kepasrahan (tawakal). Sabar menjadikan orang yang mendapat musibah mendapatkan kemuliaan di sisi Tuhan. Musibah yang dialami oleh ustadz ternyata tidak membuat hidupnya menderita. Walaupun ia masuk penjara, tetapi kemerdekaan hati selalu membebaskannya dari penderitaan. Berbeda dengan sang koruptor, walaupun ia bebas dan tidak masuk penjara, tetapi penjara yang masuk ke dalam hatinya. Ia selalu dikejar-kejar oleh ketakutan, ia selalu mencari pembenaran (bukan kebenaran) agar tak masuk penjara. Pernah seorang muslim merasakan penderitaan ketika sandalnya hilang di masjid. Apalagi itu adalah sandal baru yang dibelinya dari usahanya sendiri. Ia pulang dari masjid dengan telanjang kaki. Mukanya cemberut. Di perjalanan ia bertemu dengan seorang pincang karena kehilangan kakinya, yang menyapanya dengan senyum. Sang muslim itu akhirnya dapat membebaskan dirinya dari penderitaan. Ia berpikir, orang yang kehilangan kakinya saja masih bisa tersenyum untuk dunia, mengapa ia merasa menderita hanya karena kehilangan sandal? Maka iapun mulai bersabar dengan menyadari bahwa apa yang dimilikinya di dunia itu bersifat sementara. Lalu bagaimana agar kita bisa
selalu sabar dalam menerima musibah? Saya merasa berat untuk membahas hingga
hal ini. Saya sarankan untuk mencari jawaban dari guru sabar saya, yaitu Oeban
dan Isnain. Silahkan berkirim imel padanya atau kunjungi blognya!
|
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |

Kehilangan seorang atasan bagi si Bejo
merupakan penderitaan, tetapi tidak bagi si Udin. Sebab dia memang tidak suka
dengan atasannya itu. Dari sini bisa dipahami bahwa musibah adalah sesuatu yang
memang datang dari luar diri kita, sedangkan kebahagiaan dan penderitaan adalah
sesuatu yang muncul dari dalam diri kita sendiri, subyektif, tergantung
bagaimana kita menata perasaan. Tergantung bagaimana kita menyikapi musibah
tersebut.






































*Mas MT, komentar ini potongan kalimat dalam salah satu postingan saya.. :)
Permanent Link