Artikel ini asli buatan Coople Ramadhan (CR)
Dalam hitungan beberapa hari kedepan, momen yang paling ditunggu-tunggu oleh insan pencinta sepak bolasejagad, World Cup (WC), akan tiba.Perhelatan akbar tersebut kali in idiselenggarakan di Jerman; sebuah negara dengan tradisi sepak bola yang kuat.Semakin dekatnya acara pembukaan world cup tersebut, telah membuat pecintasepak
bola yang menjadi korban gempa di Jogja dan Jateng cukup ketar-ketir.
Pasalnya, di sebagian wilayah yang terkena gempa, listrik belum
menyala. Mereka memang sedang berduka akibat gempa tersebut, tapi mereka akan lebih berduka lagi kalau tak bisa menyaksikan world cup. Demikian yang dikatakan Sindhunata, seorang budayawan, romo, dan kolumnis sepak bola (Kompas, Senin 5 Juni 2006).
[apaan luh Ple! Gue di Anyer juga berduka, gak dapet channel SCTV...] 
Banyak
alasan mengapa peristiwa empat tahun sekali itu ditunggu banyak orang,
utamanya para pecinta sepakbola. Bagi sebagian orang, sepak bola tak
ubahnya hidup itu sendiri. Dalam sepak sepak bola, banyak hal bisa
diprediksikan dan dikontrol. Tapi tak kalah banyaknya yang tak bisa
dikontrol dan berada di luar perkiraan. Kita ingat betapa optimisnya
Portugal, sebagai tuan rumah dan berbekal materi pemain/pelatih kelas
wahid, pada Euro 2004. Tapi apa lacur mereka harus terjungkal di
telapak kaki Yunani pada partai final, padahal Yunani adalah team yang
sama sekali tidak diunggulkan! Siapa yang menyangka Yunani akan tampil
sebagai juara Eropa 2004. Tapi itulah sepak bola; sebuah permainan di
atas lapangan, bukan di atas kertas. Jadi, apa saja bisa terjadi.
Bola tak ubahnya nasib. Tak ada manusia yang betul-betul bisa
mengendalikan nasib, apalagi menguasainya. Meskipun manusia punya
kekuasaan atas nasibnya,
tapi coba Anda hitung dengan jujur, kemudian persentasikan. Berapa
persen dari apa yang Anda sudah raih saat ini sesuai dengan perencanaan
dan prediksi Anda? Dan berapa persen karena bantuan invisible hand?
Siapa yang meragukan kemampuan Argentina pada WC 2002? Dan Brazil hanya
diunggulkan di tempat kelima. Nyatanya, maju ke babak kedua pun
Argentina tak mampu, dan Brazil malah tampil sebagai kampiun.
Saya tak hendak mengatakan bahwa kita tak berdaya menghadapi
nasib. Tidak! Sama sekali tidak! Kita punya daya dan kemampuan untuk
menjalani nasib kita. Tapi jangan terlalu yakin (baca: takabur) bahwa
semuanya bisa dikendalikan dengan daya dan kemampuan tersebut. Sikap
terbaik adalah menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan; siap
kalah, juga siap menang; siap diidolakan, juga siap tak dianggap
apa-apa; siap mendengar, juga siap untuk didengar.
Tragedi yang dialami Lehmann, keeper utama
Arsenal juga timnas Jerman, mungkin bisa menjadi contoh yang sangat
baik. Ketika dia berhasil menggagalkan penalti beberapa pemain Vilareal
dan meloloskan Arsenal ke final Champion League 2006,
dia disanjung setinggi langit dan dinobatkan sebagai pahlawan. Sambutan
ini membuat dia sangat (bahkan terlalu) percaya diri ketika menghadapi
Barcelona di partai final sehingga dia melakukan blunder
justru ketika pertandingan baru saja dimulai. Lehmann mungkin lupa
bahwa lawan yang dihadapi adalah Barcelona, sebuah team yang saat ini
levelnya satu tingkat di atas vilareal. Sedikit kesalahan atau
kelengahan dilakukan, petaka bisa menyergap kapan saja. Dan akhirnya
Arsenal pun bertekuk lutut di hadapan Barcelona. Hidup Barca! Hehehe.
Yang menarik dari tragedi tersebut adalah sikap dan cara yang
diambil Lehmann dalam menghadapinya. Dalam konferensi pers setelah
pertandingan, dia mengatakan: “Apa yang saya alami sekarang, bisa
menimpa pemain sepak bola mana saja. Itulah sepak bola. Segalanya bisa
terjadi di lapangan. Meratapinya sama saja dengan membenamkan diri
lebih dalam. Mengabaikannya sama saja dengan mengarahkan diri kita
untuk melakukan kembali kesalahan serupa. Cara terbaik adalah
menerimanya sebagai kenyataan di lapangan dan berusaha agar tak
mengulanginya di masa datang.”
Jadi, bola bisa dipakai sebagai sudut
pandang dalam memahami kehidupan. Untuk mereka yang masih
bertanya-tanya, apa sih enaknya nonton bola, bola satu kok direbutin!
Itulah sedikit kearifan yang bisa dipetik dari menonton bola. MARHABAN YA WORLD CUP 2006. Ngomong-ngomong SCTV ketangkep nggak siarannya di hutan ya?
[MT say : sampai siang ini gw masih cari cara agar bisa
nangkep SCTV!!!� Kan kita gak boleh ngalah sama nasib. Tapi kalo gak
dapet juga... ya... nasiiib...]
Ciputat, 6 Juni 2006
Masih CR
|