Pernah ada yang bilang kalau bahaya laten komunis harus selalu diwaspadai. Itu dulu, saat endonesya masih dipegang Soeharto. Kini Komunisme tak lagi menjadi momok, terutama bagi generasi muda. Bahkan sepertinya mereka bangga kalau dijuluki “Orang Kiri”.
Aku pernah ngobrol tentang komunisme dengan seorang teman waktu aku sempat tinggal di Cipinang. Dia aktifis salah satu partai yang anggotanya mayoritas kaum muda, mahasiswa. Partai tersebut mengusung ideologi sosialis katanya. Ketika aku tanyakan kepadanya tentang komunisme, ia begitu bangga menjelaskannya. Ia menyatakan kembali gagasan-gagasan Marx seolah-olah dia sendiri adalah reinkarnasi Karl Marx.
Satu hal yang aku ingat dari pernyataannya adalah, walaupun komunisme dianggap mati ketika soviet mengalami glasnost dan perestroika, maka saat itulah komunisme menjadi kekuatan tersembunyi di muka bumi ini. Ternyata orang yang aku mengajakku bicara ini memang memahami komunisme secara teoritis dan ideologis. Tapi tidak seperti teman-teman lain seruang. Mereka juga termasuk dalam kelompok itu. Tapi sejak awal hingga akhir obrolan, kulihat mereka hanya planga-plongo saja. Aku menangkap kesan, mereka hanya sekedar ikut-ikutan.
Tapi, apakah yang ikut-ikutan itu juga menjadi ancaman bagi tata kehidupan? Bisa ya bisa tidak. Jika pihak yang berwenang tidak mampu memberikan pengertian kepada para pemuda yang merasa bangga berhaluan kiri, lama-kelamaan sikap ikut-ikutan juga bisa merepotkan. Dari ikut-ikutan bisa meningkat jadi paham, meningkat lagi menjadi keyakinan, lagi, menjadi way of life, hingga benar-benar menjadi seorang komunis.

Itu realitas. Sama seperti anak-anak muda yang demen banget pakai atribut bergambar siluet Ernesto Che Guevara. Pernah aku bertanya kepada pengamen bis antar kota yang kebetulan memakai kaos bergambar Che. Aku tanyakan padanya, gambar siapa itu? Dia jawab bahwa itu adalah simbol perjuangan rakyat kecil, kawula alit. Aku bilang padanya, itu seperti gambar wajahnya Che. Pengamen itu sama sekali tak mengenal Che. Itu dia tunjukkan ketika bertanya padaku, siapa Che yang saya maksud. Saya terpaksa harus menjelaskan sedikit pengetahuan saya tentang orang Cuba yang menjadi andalan Fidel Castro itu. Perbincangan kututup dengan slentingan, “Kalau saja orang endonesya tahu profil si Pitung, mungkin gambar Pitung lebih populer ketimbang Che.” Pengamen itu tertawa terbahak-bahak.
Apakah komunis sebagai ideologi mampu menjadi solusi? Tidakkah kegagalan komunis di Uni Soviet itu menunjukkan kegagalan sebagai ideologi dan konsep kehidupan? Lalu mengapa masih juga generasi muda senang memakai atribut kiri? Mengapa anak-anak muda lebih merasa bangga beratribut kiri ketimbang muslim? Mengapa mereka merasa menjadi orang kiri itu lebih keren ketimbang menjadi muslim yang ta’at?
Itulah trend. Kebanyakan mereka hanya ikut karena merasa keren kalau berani melakukan perlawanan terhadap kekuasaan. Bahkan ada yang menjadi bangga setelah ditangkap polisi dan ditahan 3 hari dalam kurungan. Pengalamannya itu diceritakan kepada teman-temannya sebagai sebuah perjuangan besar menghadapi rejim Kapitalis. Btw, itulah trend yang bisa berubah menjadi ideologi kaum muda.
Tapi dari beberapa siluet tokoh, aku paling suka siluet tokoh yang satu ini...
Cihideung Forest 17 Juni 2006
|
Permanent Link