|
Narsisisme atau lebih sering disebut narsis [narcissism] adalah kekaguman/kecintaan pada diri sendiri. Kata ini populer di kalangan ABG. Sering kudengar ABG yang nyeletuk, “Narsis bet!” (narsis banget!) kala ABG itu melihat temannya yang menurutnya merasa kecakepan gitu. Itu narsis di kalangan ABG… Aku melihat narsisisme atau narsis, juga menjadi perilaku suatu kelompok ataupun bangsa. Bahkan perilaku tersebut cenderung menjadi penyakit. Contoh yang paling gampang dalam scope sebuah bangsa adalah Amerika Serikat. Sebagai sebuah negara, Narsis juga menjangkiti kelompok masyarakat, yaitu mereka yang merasa paling besar, paling hebat, paling kuat, paling benar, paling ditakuti, dan terakhir… paling arogan. Kebenaran adalah sesuatu yang cocok dengan mata dan rasa mereka. Kadang tolok ukur mereka sama dengan moralitas budaya, tetapi karena narsis, mereka lebih suka memvonis dan main hakim bersama. Kata bang Namun, “sekarang kagak zaman lagi maen hakim ndiri… Kalo zaman Pitung, orang-orang masih berani maen hakim ndiri, maju atu-atu… kalo sekarang mah, beraninye keroyokan! Rame-rame!” Kalangan pemeluk agama juga ada yang narsis. Biasanya mereka merasa paling suci, paling sholeh, paling agamawan, paling rohaniwan, paling spiritualis, dan paling … senang mendebat orang yang tak seagama dan atau tak seiman. Kaum agamawan seperti ini biasanya suka mencari kelemahan orang lain untuk didebat dan menawarkan konsep agamanya sendiri. Sikap narsis para pemeluk agama inilah yang bisa menyebabkan konflik antar pemeluk agama. Ironisnya lagi, dalam satu agama, narsisisme juga menjadi ancaman yaitu tatkala setiap firqah (haluan, golongan, mahzab, harakah) merasa paling benar, paling nyunnah, paling-paling deh. Ehm… sudah ah, jadi kayak menteri agama aje deh gw.
Dalam pergaulan kita sehari-hari, ada juga teman yang narsis. Atau jangan-jangan kita sendiri yang narsis?! Hati-hati, nanti nyebur! |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy








































