|
Kontributor : Masih CR Dalam keisengan
untuk mendapatkan kearifan kilat, ada nikmatnya juga merenung-renungkan kembali
moment-moment yang sudah kita lalui. Enggak semuanya menyenangkan memang. Tapi
enggak juga semuanya menyedihkan, yang membuat kita mengharu biru sampai nangis
bombay segala. Selalu ada bagian dari perjalanan kita yang ingin kita kenang,
dan ada juga bagian yang ingin kita lupakan dan kubur untuk selamanya. Bagian di mana
aku pernah tinggal bersama dengan MT, NQ, Oeban, (juga Jenggot) di bilangan
Klender dan Utan Kayu mungkin bisa disebut sebagai salah satu momen yang terus
terkenang-kenang hingga saat ini. MT yang setiap satu jam sekali terima telepon
(kebanyakan cewek lho hehehe), NQ yang super cuek n cool (tapi kalo dah di
depan komputer dia paling rame), Oeban yang rajinnya nggak ketulungan, Jenggot
yang paling gape main gitar, dan Nurlan
Soka yang kadang-kadang datang membawa berita seru seputar “VCD dan game
bajakan” dari lapak pasar Glodok dan Jatinegara. Semua punya kesibukan
masing-masing, dan walaupun kami beda guru beda ilmu, tapi kami tidak saling
ganggu hehehehe..... Jika deadline jurnal yang kami terbitkan
mulai menggencet, NQ mulai bersibuk ria dengan mengetik naskah, MT dengan lay out dan desain kover, Oeban dengan
ilustrasi isi, dan aku dengan editing naskah. Tapi lebih dari
itu semua, hal yang paling mengesankan buat aku sebenarnya ketika kami harus
antre menunggu giliran main game FIFA98 (atau RTWC 1998?). Walaupun Si-Pi-Yu
(CPU)-nya kelas jangkrik, bayangkan untuk loading
aza harus nunggu 3-4 menit, tapi waktu itu dah top banget deh! CD game kami
beli dengan patungan. Aku ingat waktu itu harganya Rp. 32.500,- (bonnya masih
ada gak Te?) di Mangga Dua. Duit buat patungan itu sebenarnya hasil pemberian
Oeban yang baru aja sukses menjual printernya. (Printer punya kakaknya. red./mt) Secara
keseluruhan masa itu adalah masa-masa di mana kami hidup dengan duit yang
pas-pasan (sekarang juga enggak jauh beda hehehehe). Boleh dibilang buat beli
rokok aja terkadang harus nunggu sumbangan dari teman yang berbaik hati. Tapi
it’s okay, pelbagai keterbatasan finansial tersebut ternyata tak mampu
menghalangi kami untuk menjalani semuanya dengan kegembiraan. Saat itu aku
nggak ambil pusing apa yang membuat kami bisa enjoy dengan hidup kami. Baru
sekarang aku coba memikir ulang semua yang telah lewat tersebut, ketika aku
ingin menangguk sedikit kearifan kilat. “PERTEMANAN!”
kata ini tiba-tiba muncul dan bertengger kuat di benakku. Bukan “PERSAHABATAN”.
Menurutku PERTEMANAN terkesan lebih orisinal dan spontan, sedangkan PERSAHABATAN
kedengarannya klise dan agak bombastis. Pilihanku terhadap istilah PERTEMANAN
mungkin lebih dipicu oleh faktor rasa dan selera, yang tentu saja sangat
subjektif. Mungkin MT, NQ, Oeban punya istilah lain yang lebih mewakili suara
hati dan selera mereka. Yah, setiap orang memang berhak menamai dengan istilah
apa saja tonggak-tonggak perjalanan yang sudah dilaluinya. Dalam situasi
seperti ini, benar dan salah menjadi tidak berarti! Berangkat dari
asumsi ini, terus terang aku nggak habis pikir terhadap orang-orang yang suka
memaksakan sesuatu yang dianggapnya “benar” kepada orang lain agar menerimanya
juga sebagai “kebenaran”, kalau perlu dengan kekerasan! Kita boleh-boleh saja
tidak setuju dengan pendapat seseorang, tapi itu bukan berarti pendapat atau
pemahaman kitalah yang paling BENAR. Buatku
yang BENAR hanya TUHAN, yang SUCI hanya TUHAN, sedangkan manusia hanya mampu
sampai taraf “mendekati” yang SUCI dan BENAR tersebut, dan itupun belum tentu
dipandang BENAR dan SUCI oleh TUHAN. Jadi sombong sekali kalau ada orang yang
menganggap diri atau kelompoknya sebagai yang paling BENAR dan SUCI, dan
menganggap yang lainnya SESAT !! CIPUTAT, 22 Juni
2006 buatan CR MT Say : Hanya orang
narcis yang merasa paling benar. Orang kayak gini biasanya senang menganggap
orang lain sesat, dholal, jahul, nista, dan puncaknya memvonis orang yang
dianggapnya lebih rendah itu sebagai ahlun nar (penghuni neraka). Itu yang
dalam tulisan gue berjudul Narsis Bet, gue bilang Pemeluk Agama yang Narsis. Kalau dalam
istilah sufi, penyakit narsis tersebut disebut UJUB. Ujub adalah sikap merasa
lebih suci, lebih taat, dibanding orang lain. Sikap tersebut merupakan hasil
dari rasukan Iblis level tinggi. Jadi, sebenarnya banyak orang beragama yang
sudah kerasukan belis. Hanya saja mereka tak merasakannya, ya... itulah yang
namanya Ujub. Hanya Iblis/Jin level top saja yang bisa melakukannya. Satu Belis
bisa merasuki 1000 agamawan. Bagaimana menangkalnya? Dengan Ruqyah? Lha, yang
meruqyah saja ternyata ada juga yang kerasukan belis top level itu karena juga
telah Ujub, merasa dirinya paling jago dalam mengusir jin dari tubuh pasiennya. Orang-orang
narsis biasanya gak bertahan lama dalam berteman. Pertemanan yang mereka
lakukan itu semu dan tidak enak untuk dikenang. Ple, gw lebih suka pakai istilah PERTEMANAN
ketimbang persahabatan. Sebab pertemanan lebih terkesan jujur, tanpa basa-basi.
Walaupun sebenarnya gak penting banget sih memilih antara pertemanan atau
persahabatan, karena yang penting adalah bagaimana kualitas pertemanan tersebut
terasa oleh mereka yang menjalinnya. Mestinya Oeban,
NQ, Nurlan Soka, bahkan Jenggot kasih komentar juga nehh... Selain mereka juga
boleh. Terutama tentang narscisme religius. Gimana nih bang Naufal, Al-Kifah,
Teddy, dll? Meiy! Komentar ya! Oia topik senada juga butuh komentar di forum kita satu. Baca deh. |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
|
Membicarakan benar/ bersih/ suci tentu saja harus memiliki kriteria. hal yang sepele aja kalo orang sholat maghrib 3 rakaat, pasti dia bener, tapi kalo 2 rakaat pasti salah. Begitu juga kalo ada orang udah mandi pasti bersih, dan yg jarang mandi (kayak gw) pasti gak bersih.Orang yang mo shalat wudhu dulu dia suci, tapi kalo gak wudhu dia ya... gak suci. (Jaka sembung gak ya?). Itu semua baru kulit luarnya. Isinya serahin aja ama yang Maha Benar/ Bersih/ Suci. Nabi juga pernah bilang yang intinya begini: diantara kalian (yang berselisih) ada yang pandai berbicara (yang salah), dan aku memenangkan perkaranya dan sebaliknya. Tapi kalian tidak akan lepas dari keadilan Ilahi". begitu kira-kira. (gw cuma inget inti haditsnya doang). Untuk pertemanan... pershahabatan.. perkawanan... perkoncoan dll dsb, yaitu tadi kulit luar gak begitu penting nyang lebih penting isinya cing. Mo kemana kita melangkah! |
Permanent Link |








































Orang yg sok bener sendiri emang nyebelin sih, apalagi sok suci....mirip2 dg yg aku tulis ttg fanatisme. Tp menurutku itu syah2 aja sih, mgkn memang baru sampe disitu ilmu n imannya (benar ga sih Ban?!). Setiap orang punya pencapaian yg berbeda dlm hidup n keinginan utk mencapai yg lbh baik. Dlm keseharian akan tampak dlm APA YG DILAKUKAN seseorang, bukan hanya dlm teori ato kata-kata. (aku mau nulis apa ya sebenarnya?!)
Yg jelas dlm pertemanan memang lebih enak n lbh mudah dimengerti orang yg punya toleransi, mau kompromi, bebas tapi tak merugikan orang lain.
Bagiku kata teman n sahabat hanya sinonim, tergantung gmn kita memaknainya. Seperti seharusnya kita memanggil kakak kpd yg lebih tua, tp mau panggil nama sja pun ttp ok asal ngucapinnya dg hormat n mesra gitu loh...:D
Gue kaya yg bener aja ya hehehe....
Permanent Link