24/6/2006
-
Tahajjud Hijacker
![]() Sehabis maghrib aku masuk dalam sebuah cengkrama. Kali ini tentang sosok seorang tokoh yang memiliki pengikut setia. Baru saja dia divonis 5 tahun penjara, namun ia mengeluarkan fatwa untuk para pencintanya... "Aku takut melihatnya. Seperti bukan lagi manusia." Pertanyaan pertama yang kuterima "Begitulah jika manusia jauh dari Cahaya Tuhan." Jawabku. "Tapi ia berbicara sebagai utusan Tuhan di muka bumi ini, saat ini..." Hanya senyum yang kujadikan jawaban. "Mengapa manusia bisa seperti itu, ya?" "Kamu harus lihat latar belakang, mengapa dia begitu. Jangan hanya melihat sekarang dia begitu." aku sok bijaksana "Ya, dia itu dulu rajin tahajjud, rajin mengaji, tetapi setelah mengalami kekecewaan terhadap para gurunya, dia sering kontemplasi sendiri hingga merasa mendapatkan kabar dari malaikat dan dari Tuhan." "Kita pelajari saja apa yang telah dia lewati." "Maksudnya?" Aku menguraikan maksud dengan uraian seperti ini : Ketika kita bertahajjud sendiri di tengah malam. Ketika kita merenung saat sepi dan sendiri, kita merasa telah terkoneksi dengan frekuensi Tuhan. Tetapi, yang perlu kita sadari, saat kita masuk dalam alam malam, duduk, berdzikir, bermunajad, berdoa, berharap, menangis, .... belum tentu kita terkoneksi dengan "Address" Tuhan. Bayangkan malam di bawah langit hitam penuh bintang. Manakah jalur Tuhan? Apakah kita benar-benar telah berada dalam frekuensi Tuhan? Belum tentu. Pada aktifitas malam, bisa saja kita tertipu. Seolah-olah kita sedang terkoneksi dengan Tuhan, padahal kita sedang diredirecting ke address yang sama sekali bukan Tuhan. Kita bisa saja kena "Tahajjud Hijacker". Maunya masuk ke frekuensi Tuhan, eh, malah nyasar ke frekuensi setan yang memang bertebaran. Terutama saat malam... Frekuensi Setan memang bisa saja menipu kita dengan tampilan "seolah-olah Tuhan". Inilah tipuan. Ada yang pernah bilang, saat merenung di malam hari, datang suara ke lubuk hati. Bicara tentang kehidupan dengan simbolisasi. Memberikan teka-teki tentang kemuliaan diri. Kita merasa itu adalah utusan Tuhan, malaikat. Bisa benar, tetapi sering juga ternyata itu adalah penampakan setan, iblis, jin, atau sebangsanya, yang selalu berupaya menyeliwerkan dari jalan yang semestinya. Keasyikan bermuara pada malam hening, dengan pertemuan sepi seperti itu, bisa membuat kita asyik karena merasa sedang tune in dalam frekuensi Tuhan. Merasa sudah bisa berdialog dengan Tuhan. Sayang sekali, kita ternyata lebih sering tertipu oleh rajanya penipu. Jin, bisa saja menjelma menjadi sosok bayangan, menjadi suara, menjadi sosok orang tua, menjadi lemper, ketan, batu cincin, keris, bahkan jadi tahi cicak... Tapi tentunya ia akan menjelma seperti apa yang kita anggap adalah utusan Tuhan, bahkan citra Tuhan itu sendiri. "Kalau begitu, bagaimana agar kita tak tertipu?" Aku mendapatkan pertanyaan yang sulit. Kujawab seadanya. Apa yang ada di kepalaku kuucapkan. Untuk mencapai makrifat, kita harus meniti thariqat. Untuk berjalan pada thariqat kita memerlukan kendaraan syari'at. Itulah pencapaian menuju hakikat. "Bagaimana syari'at yang benar dalam menelusuri thariqat?" Aku tak tahu pasti. Yang jelas, yang kupahami, syari'at itu adalah sistem hidup yang dimulai dengan pengenalan tentang diri sendiri dan Tuhan. Inti dari Syariat itu adalah Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, dan Mulkiyah. Mungkin itulah jawabannya. Tetapi untuk lebih jelasnya, belajar atau bertanyalah kepada yang lebih menguasai ilmu syariat. Aku bukan orang yang representatif untuk mengurai hal itu. Cengkrama pasca maghrib selesai sampai di situ. Mungkin teman-teman ada yang bisa melanjutkan cengkrama ini menuju pencerahan? Silakan saja menambahkan, terserah mau dalam komentar ataupun postingan tersendiri. "Lalu bagaimana kamu melihat dia?" Ternyata masih ada pertanyaan terakhir sebelum cengkrama berakhir. "Tak ada cahaya yang kulihat padanya!" Cihideung Forest, 23 Juni 2006 Mohon maaf jikalau postingan ini mengandung SARA yang penting bukan SARA... Azhari, hehehe.... |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
28/6/2006
-
"Sirath Hijacker"
|
Imam Syafii (?) pada suatu malam (selesai tahajud)?pernah mendengar suara yang mengatakan : "Hai Syafii, aku ini adalah Jibril (?) membawa pesan dari Tuhanmu, bahwasanya oleh karena ketekunanmu dalam beribadah maka kamu dibolehkan untuk makan makanan yang halal, tidak perlu shalat dst..dst". Sebagai manusia yang ingat diri, Imam Syafii tidak perlu berfikir lagi. Langsung saja dia hardik suara itu. "Hai Syetan pembohong! Manusia yang paling bertaqwa dimuka bumi saja (Muhammad SAW) tidak pernah makan makanan haram, dan Al-Qur'anpun melarang untuk melakukan keharaman tsb". Bagaimana mungkin aku yang jauh tingkat ketaqwaannya mendapat perlakuan tersebut!Enyahkau dariku!!!!!!! Terlihat, bila manusia sudah mengenal dirinya niscaya dia tahu "suara-suara/bisikan-bisikan" yang senantiasa datang padanya. dia dapat membedakan sirath walaupun banyak sirath dilangit, pasti ia nggak pernah nyemplung ke "sirath Hijacker". Persoalan yang utama adalah bagaimana agar kita bisa mengenal diri kita? |
Permanent Link |
7/7/2008
-
Untitled Comment
|
syariat itu bekal, thariqat itu perjalanan dan hakikat itu adalah tujuan. carilah teman dalam perjalanan. teman yang sudah sampai di tujuan. sehingga tahu jalan yang benar sampai dan jalan yang menyesatkan. teman yang membimbing kita dalam gelap dan terang. yang menunjukkan lubang jalan dan duri yang merintangi jalan. kesimpulannya, carilah seorang guru atau mursyid untuk membimbing kita benar-benar di jalan Allah dan selalu tune in dengan Allah. |
Permanent Link |








































Pernah jg sih dulu ngalamin seolah2 dekeeeet banget ma Allah, apalagi biz baca buku2nya Ibnul Qoyyim Al Jauziyah seakan2 lagi melayang ke wilayah ma'rifat tadi walau baca bukunya ditengah bis kota yg lg penuh, sesak, macet pula.tapi ....ya cuma sebentar doang sih tapi ya lumayanlah bisa ngarasain dikit ketenangan.
Itu namanya pasti bukan ma'rifat ya Mr MT!
Permanent Link