4/7/2006
-
Menyikapi Restrukturisasi
![]() Restrukturisasi biasa terjadi dalam organisasi. Namun menarik sekali melihat respon orang-orang yang berbeda-beda tentang restrukturisasi itu. Ada yang merasa terancam dengan gagasan restrukturisasi. Biasanya kegelisahan ini terjadi pada orang yang merasa sudah nyaman dengan jabatan yang diembannya. Bisa jadi kekhawatirannya adalah, tidak lagi mendapatkan jabatan tersebut dan mungkin malah tak mendapatkan jatah jabatan apa-apa. Mengapa demikian? Biasanya, konsekuensi dari jabatan adalah adanya tunjangan jabatan. Nah, mungkin ini juga bisa menjadi stressor. Ada juga senang dengan restrukturisasi. Orang seperti ini adalah mereka yang sudah jenuh dengan jabatan. Mereka justru ingin menjadi orang biasa saja dalam organisasi tersebut. Atau bisa jadi mereka memang sudah merasa tak mendapatkan tantangan yang berarti bagi perjalanan hidupnya. Untuk mendapatkan tantangan baru, ada juga yang bersedia dimutasi dari jabatan A ke jabatan B. Restrukturisasi memang diperlukan untuk menciptakan suasana baru yang lebih fresh. Tetapi bisa saja restrukturisasi itu justru malah membuat pencapaian tujuan organisasi menjadi lebih lambat atau bahkan gagal. Inilah yang mesti dipikirkan oleh pengambil kebijakan. Apakah restrukturisasi yang direncanakan memang ditujukan untuk lebih memudahkan dalam pencapaian tujuan organisasi atau hanya sekedar refreshing. Mengambil pelajaran dari sepak bola. Maklum, sekarang lagi musim Piala Dunia, jadi saya mengibaratkan organisasi sebagai sebuah tim sepak bola. Restrukturisasi itu seperti strategi yang diterapkan pelatih kepada timnya. Untuk menghadapi lawan main yang berbeda-beda, tentu saja pelatih harus berani menyesuaikan strateginya agar dapat memenangkan pertandingan. Bisa saja ketika melawan tim A, pelatih menerapkan pola 442, dan ketika menghadapi tim B atau C, mengubah pola menjadi 352 atau bahkan 5231. Bisa juga dari full attack mengubahnya menjadi defensif, full defensif, atau hanya sekedar menerapkan strategi jebakan offside dan counter attack. Tujuannya satu : Tercapainya Kemenangan. Rolling posisi pemain juga merupakan bagian dari strategi sepak bola. Di Real Madrid (salah ketik! maksudnya di Barcelona. red.), Ronaldinho bertugas sebagai play maker dan sekaligus sebagai second striker. Sedangkan di Tim Nasional Brazil, dia hanya sekedar pengumpan bagi para striker. Itu mengasyikkan buat Ronaldinho, karena baginya yang penting tetap dipercaya untuk bergabung dalam sebuah tim ketimbang hanya menjadi penonton, apalagi komentator, hehehe... ![]() Kembali ke topik semula, restrukturisasi itu kadang memang harus terjadi dalam setiap organisasi. Namun apakah restrukturisasi itu dapat mencapai tujuan, entar dulu... tergantung bagaimana analisis jabatan, analisis situasi dan kondisi, analisis tantangan, dan juga sumber daya manusia yang ada. Analisis yang matanglah yang menentukan berhasil atau tidaknya restrukturisasi, bukan hanya sekedar gonta-ganti pola, pemain, atau strategi untuk refreshing doang. |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy








































