4/7/2006
-
Sarapan Nasi Uduk
![]() Tadi pagi saat naik motor ke Anyer, aku mampir di sebuah gubug nasi uduk. Gubug itu ada di pinggir jalan raya. Tepatnya di daerah Ciparay. Di belakang gubug tersebut terhampar pantai anyer yang indah sekali di pagi hari. Sambil makan nasi uduk dan telur dadar, aku ngobrol dengan penjualnya, seorang nenek yang hanya bisa ngomong basa sunda. Untung aku berdua dengan teman yang juga orang asli daerah sini. Jadilah ia penerjemah gratisan. Maklum, gue gak ngatri basa sunda kecuali yang gampil-gampil. Aku memperhatikan nenek itu yang bolak-balik dari kompor, lalu menyajikan pesanan bagi pembeli [kebanyakan yang mampir supir angkot dan tukang ojeg], menyiapkan teh hangat, hingga duduk di bale, membereskan kertas-kertas bungkusan. Kadang ia seperti ngelamun, saat tak ada pembeli yang mengganggu lamunannya. Ia tinggal di gubug ini bersama suaminya, yang membantu mencuci piring dan gelas kotor. Gubug ini adalah penghasilan utama mereka untuk membiayai hidup sehari-hari. Apakah dagangannya selalu habis? "Tidak tentu" katanya, setelah aku mendapatkan terjemahan dari temanku. Kalau tak habis, berarti modalnya tak kembali dong? tanyaku lagi. Ia hanya senyum saja. Selanjutnya aku capek ngobrol dengan perantara. Akhirnya apa yang aku ingin sampaikan aku nyatakan kepada temanku, lalu dia yang ngobrol dengan nenek itu... lancar jaya... obrolannya. Tapi kebanyakan aku gak ngerti. Baru setelah melanjutkan perjalanan, temanku menceritakan apa saja yang dibicarakan berdua dengan nenek itu. ![]() nenek udug menghitung penghasilannya... "cukup buat beli beras" katanya Aku mendapatkan pelajaran ril dari mereka yang hidup apa adanya. Tidak memiliki keinginan untuk kaya raya, sebab memang mereka tak yakin untuk bisa jadi orang kaya. Buat mereka, cukuplah hidup seperti itu, yang penting bisa memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anaknya. Itulah salah satu kehidupan rakyat kita. Semoga saja mereka tidak digusur oleh Pemda... Ciparay, 04 Juli 2006 "nasi uduknya enak bet!" |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
6/7/2006
-
uduk
| wah bang MT, esainya mengingatkan saya pada penjual nasi uduk di Kubang Selatan, Bandung. Hanya saja Mpok saya ini lebih beruntung nasibnya. Eh, tulisannya juga segurih nasi uduk nih |
Permanent Link |
9/7/2006
-
Untitled Comment
|
yup. kadang2 kita perlu belajar dari mereka. tidak punya cita2 terlalu muluk, tdk punya pengharapan terlalu tinggi, selalu mensyukuri apa yg mereka dapatkan sehari-harinya... tdk seperti kita yg sudah diberi lebih tapi sering merasa tdk puas... |
Permanent Link |
30/5/2008
-
dsfd









































Permanent Link