6/7/2006
-
Plastic Boy
![]() Dari tadi anak kecil itu mengikuti aku terus. Tak henti dia menawarkan, "plastik, plastik...!" kadang dia memelas, "tolong pak, beli plastik saya pak... tolong pak, satu aja pak!" kadang dia mengelap ingus dengan lengan kanannya, srooot... Tapi dia lebih banyak senyumnya ketika aku tatap. Itulah si Udi. Kenalanku waktu liburan ke Cibodas kemarin. Udi, begitu dia jawab ketika kutanya namanya. Setiap hari jualan kantong plastik atau temannya se-karier menyebutnya jinjingan. Jadilah aku ngobrol dengan Udi, saat jalan-jalan di parkiran KRC (Kebun Raya Cibodas). Menunggu teman-teman yang sibuk berbelanja. ![]() "Plastic Boy" (di tengah bertopi biru) alias Udi. Siang ini baru dapat Rp. 4.000,- "Satu jinjingan kamu jual berapa?" "Serebu, pak, murah pak!" dia pikir aku mau membeli jinjingannya "Kamu jualan setiap hari si sini?" "Iya pak, kan setiap hari kita harus makan." cerdas juga jawabannya. "Sehari bisa dapat duit berapa?" "Kalo lumayan sih, bisa sampe 30 rebu" sambil menghapus ingusnya Memang lumayan sih, berarti ada 30 plastik yang dibeli orang, pikirku. Kalau pengunjung ramai, maka para penjual juga ramai. Begitu juga dengan plastic boys, seperti Udi dan teman-temannya. Mereka sangat berharap agar tempat wisata ini ramai terus. Tapi lumayan sih, menurut info yang saya dapat di loket, dalam sebulan, pengunjung KRC bisa mencapai sejuta orang. "Hari ini sudah dapat berapa, Di?" tanyaku lagi "Baru 4 rebu, pak. Makanya Bapak beli dong!" "Saya nggak belanja apa-apa. Kamu sekolah, Di?" "Sekolah pak, kelas 5, eh, sekarang mah kelas 6." "Orang tua kamu kerja?" "Udah meninggal, pak!" "Kamu tinggal sama siapa sekarang?" "Bibi, yang tadi bapak minta air panas buat bikin kopi, itu bibi saya!" ![]() Bibinya Udi (Jilbab Hitam) yang memberikan istriku segelas air panas buatku ngopi. "Ooo... saya senang sekali bisa ngopi, karena dapat air panas dari bibimu. Eh, Di, mending kamu ke sana!" Aku menepuk pundak Udi dan menunjuk ke arah penjual sayur mayur yang dijejali oleh pembeli. Kebanyakan ibu-ibu bawa anak. Pasti mereka butuh bantuan Udi, pikirku. "Wah iya tuh, pak!" Udi melesat menuju kerumunan itu. Aku membayangkan seperti Superman melesat mendekati orang-orang yang membutuhkan jinjingan. Tapi superman nggak jualan jinjingan. Dari kerumunan itu kulihat Udi memincingkan mata dan memberikan aku jempol. Alhamdulillah, sepertinya dagangannya laku di kerumunan itu. Itulah Udi, kenalanku di KRC. Walaupun yatim piatu, dia survive, dan selalu ceria dalam kemiskinannya. Cibodas, 5 Juli 2006 Payah, cara menang Prancis gak seru! |
| tulis komentar! :: kirim ke teman! |
Share and enjoy










































Permanent Link