![]() Di Cihideung Forest, partai final piala dunia antara Italia vs Prancis disaksikan bersama-sama oleh penghuni hutan. Kami menyelenggarakan acara Bancakan Nite, Nonton Bareng. Acara digelar di asrama baru dengan fasilitas LCD Projector. Asyik banget! Nontonnya jadi lebih jelas karena layarnya lebar banget. Sebelum kick off, semua peserta bakar ikan dan makan bersama. Campur antara pendukung Italia maupun Prancis. Ini kebiasaan setiap partai final sepak bola. Waktu final Liga Champion juga begitu. ![]() Tim pembakar ikan, selalu sedia setiap saat diperlukan ![]() ikan sudah siap disajikan sebagai pelengkap acara pembukaan nonton bareng ![]() Saatnya makan bersama... dalam sekejap hidangan ludes. Ngalahin Unit Reaksi Cepat... ![]() Komentator dari SCTV... nggak ditonton... semua penonton asyik saling ceng-cengan... ![]() Pertandingan dimulai, semua serius menonton, antara tegang, tawa dan canda ![]() Mr. Rambe girang saat Zidane berhasil mencetak gol penalty di menit 7 ![]() Pendukung Italia tegang setelah prancis unggul 1-0 karena penalti Zizou ![]() Mr. Tatwa, (Italia) gantian ngecengin pendukung Prancis saat Materazzi menyamakan kedudukan jadi 1-1 di menit 19. Suasana nonton bareng makin seru!! Setelah perpanjangan waktu 2x15 menit, terjadi insiden antara Materazzi melawan Zidane. Sangat disayangkan Zizou nggak tahan provokasi Mamat (Materazzi) hingga menyebabkan dia mendapatkan redcard. Para pendukung di Cihideung Forest ikut-ikutan ribut membela bintang dan timnya masing-masing. Tapi tetap saja emosi dapat dikendalikan, karena kopi panas masih menjadi suguhan. Final berakhir dengan TOS-TOSAN. ![]() ![]() Pendukung Italia histeria saat Fabio Grosso menentukan kemenangan Italia dalam tos-tosan ![]() Yang nonton aje gembira, apelagi si Grosso... ![]() Selesai sudah pagelaran Piala Dunia 2006 di Jerman dengan Italia sebagai jawaranya. ![]() |
Comments ( 0 ) :: Post A Comment! :: Permanent Link |
Share and enjoy
![]() |
Comments ( 0 ) :: Post A Comment! :: Permanent Link |
Share and enjoy
![]() Kami berdua memainkan game ini untuk mengobati harapan yang
gagal karena kekalahan tim unggulan kami. Aku sudah jelas dari awal pegang Dalam game ini, kami membuat pemain sendiri. Line up-nya
adalah para pemain bola virtual yang kami karang-karang sendiri. Lihat saja
pada tayangan line up saat
Perjuangan untuk sampai ke partai final sangat berat. ![]()
Klasemen Akhir Group A.
Uganda bersama Dari Babak 16 besar hingga partai puncak,
![]() Inilah foto-foto cuplikan pertandingan yang berakhir dengan perpanjangan waktu.
Kick Off babak pertama,
hasilnya 0-1 buat ![]() Babak kedua, Bang Namun (Striker
Uganda) mencetak gol yang menyamakan kedudukan jadi 1-1. Pada perpanjangan waktu, akhirnya Bang Namun, striker andalan MT dan NQ
berhasil membawa
Bang Namun saat mencetak goal penentu kemenangan ![]() Edwin Van Der Sar
kelihatannya siap memblok tentangan Bang Namun ![]() Ternyata bola melesat di atas
tangan Van Der Sar. Bang Namun (99) tetap cool
Tandem Bang Namun, Cecep Mustaya pemain cabutan dari Banten ikut gembira ![]() Epe (alias MT, kapten
Bang Namun (99), Aliatun
Mardjukoh (kiper),Bang Oma (60), Nurlan Soka (70), Bini Ane (8), merayakan kemenangan setelah selesai pertandingan yang sangat berat.
Para pemain
Epe
(kapten
Sorak sorai, tetapi Left Winger Uganda, CR Coople (2) malu
dishoot kamera. Ia menutupi wajah dengan tangan kanannya. Malu sama tetangge, kata NQ
Uganda mendapatkan 2 Award dalam event besar ini. ![]() Bang Namun menjadi Top Scorer dan Pemain Terbaik
Kiper utama kiper cabutan dari Sukabumi, Isevanovic, karena leher Mardjukoh kecengklak.
Inilah susunan pemain virtual Pelatih : MT dan NQ
Keeper : Aliatun Mardjukoh Center Back : Bang Oma (jangan lupa ketik reg spasi oma!!) Center Back : Aku
Terhina (Aslinya bernama Tugino Dioda : digoda janda beranak 2) Center Back : Bang Nazaramir CM : Soka Nurlan (sodaranya Bang Namun, makanye diajak main) CM : Abel NQ (play maker) RWM : MT Epe (spesialis bikin pincang lawan) LWM : CR Coople (spesialis crossing) CF : Oeban Striker : Bang Namun (nama aslinya : Namun begitulah akhirnya…) Striker : Cecep Mustaya (Pendekar Banten) Cadangan: CB : Mang Odon CM : Dijamin Aman Striker : Iwan Bini Ane Mang Papay |
Comments ( 6 ) :: Post A Comment! :: Permanent Link |
Share and enjoy
![]() Dari tadi anak kecil itu mengikuti aku terus. Tak henti dia menawarkan, "plastik, plastik...!" kadang dia memelas, "tolong pak, beli plastik saya pak... tolong pak, satu aja pak!" kadang dia mengelap ingus dengan lengan kanannya, srooot... Tapi dia lebih banyak senyumnya ketika aku tatap. Itulah si Udi. Kenalanku waktu liburan ke Cibodas kemarin. Udi, begitu dia jawab ketika kutanya namanya. Setiap hari jualan kantong plastik atau temannya se-karier menyebutnya jinjingan. Jadilah aku ngobrol dengan Udi, saat jalan-jalan di parkiran KRC (Kebun Raya Cibodas). Menunggu teman-teman yang sibuk berbelanja. ![]() "Plastic Boy" (di tengah bertopi biru) alias Udi. Siang ini baru dapat Rp. 4.000,- "Satu jinjingan kamu jual berapa?" "Serebu, pak, murah pak!" dia pikir aku mau membeli jinjingannya "Kamu jualan setiap hari si sini?" "Iya pak, kan setiap hari kita harus makan." cerdas juga jawabannya. "Sehari bisa dapat duit berapa?" "Kalo lumayan sih, bisa sampe 30 rebu" sambil menghapus ingusnya Memang lumayan sih, berarti ada 30 plastik yang dibeli orang, pikirku. Kalau pengunjung ramai, maka para penjual juga ramai. Begitu juga dengan plastic boys, seperti Udi dan teman-temannya. Mereka sangat berharap agar tempat wisata ini ramai terus. Tapi lumayan sih, menurut info yang saya dapat di loket, dalam sebulan, pengunjung KRC bisa mencapai sejuta orang. "Hari ini sudah dapat berapa, Di?" tanyaku lagi "Baru 4 rebu, pak. Makanya Bapak beli dong!" "Saya nggak belanja apa-apa. Kamu sekolah, Di?" "Sekolah pak, kelas 5, eh, sekarang mah kelas 6." "Orang tua kamu kerja?" "Udah meninggal, pak!" "Kamu tinggal sama siapa sekarang?" "Bibi, yang tadi bapak minta air panas buat bikin kopi, itu bibi saya!" ![]() Bibinya Udi (Jilbab Hitam) yang memberikan istriku segelas air panas buatku ngopi. "Ooo... saya senang sekali bisa ngopi, karena dapat air panas dari bibimu. Eh, Di, mending kamu ke sana!" Aku menepuk pundak Udi dan menunjuk ke arah penjual sayur mayur yang dijejali oleh pembeli. Kebanyakan ibu-ibu bawa anak. Pasti mereka butuh bantuan Udi, pikirku. "Wah iya tuh, pak!" Udi melesat menuju kerumunan itu. Aku membayangkan seperti Superman melesat mendekati orang-orang yang membutuhkan jinjingan. Tapi superman nggak jualan jinjingan. Dari kerumunan itu kulihat Udi memincingkan mata dan memberikan aku jempol. Alhamdulillah, sepertinya dagangannya laku di kerumunan itu. Itulah Udi, kenalanku di KRC. Walaupun yatim piatu, dia survive, dan selalu ceria dalam kemiskinannya. Cibodas, 5 Juli 2006 Payah, cara menang Prancis gak seru! |
Comments ( 2 ) :: Post A Comment! :: Permanent Link |
Share and enjoy
![]() Tadi pagi saat naik motor ke Anyer, aku mampir di sebuah gubug nasi uduk. Gubug itu ada di pinggir jalan raya. Tepatnya di daerah Ciparay. Di belakang gubug tersebut terhampar pantai anyer yang indah sekali di pagi hari. Sambil makan nasi uduk dan telur dadar, aku ngobrol dengan penjualnya, seorang nenek yang hanya bisa ngomong basa sunda. Untung aku berdua dengan teman yang juga orang asli daerah sini. Jadilah ia penerjemah gratisan. Maklum, gue gak ngatri basa sunda kecuali yang gampil-gampil. Aku memperhatikan nenek itu yang bolak-balik dari kompor, lalu menyajikan pesanan bagi pembeli [kebanyakan yang mampir supir angkot dan tukang ojeg], menyiapkan teh hangat, hingga duduk di bale, membereskan kertas-kertas bungkusan. Kadang ia seperti ngelamun, saat tak ada pembeli yang mengganggu lamunannya. Ia tinggal di gubug ini bersama suaminya, yang membantu mencuci piring dan gelas kotor. Gubug ini adalah penghasilan utama mereka untuk membiayai hidup sehari-hari. Apakah dagangannya selalu habis? "Tidak tentu" katanya, setelah aku mendapatkan terjemahan dari temanku. Kalau tak habis, berarti modalnya tak kembali dong? tanyaku lagi. Ia hanya senyum saja. Selanjutnya aku capek ngobrol dengan perantara. Akhirnya apa yang aku ingin sampaikan aku nyatakan kepada temanku, lalu dia yang ngobrol dengan nenek itu... lancar jaya... obrolannya. Tapi kebanyakan aku gak ngerti. Baru setelah melanjutkan perjalanan, temanku menceritakan apa saja yang dibicarakan berdua dengan nenek itu. ![]() nenek udug menghitung penghasilannya... "cukup buat beli beras" katanya Aku mendapatkan pelajaran ril dari mereka yang hidup apa adanya. Tidak memiliki keinginan untuk kaya raya, sebab memang mereka tak yakin untuk bisa jadi orang kaya. Buat mereka, cukuplah hidup seperti itu, yang penting bisa memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anaknya. Itulah salah satu kehidupan rakyat kita. Semoga saja mereka tidak digusur oleh Pemda... Ciparay, 04 Juli 2006 "nasi uduknya enak bet!" |
Comments ( 3 ) :: Post A Comment! :: Permanent Link |
Share and enjoy













































































