| ||
| ||
Menegakkan Kembali Epistemologi Yang Islami Oleh : Oky Widyanarko Peradaban Islam
sesungguhnya telah berkembang jauh sebelum bangsa-bangsa barat banyak melakukan
berbagai penemuan dalam bidang teknologi. Sebut saja pakar-pakar muslim seperti
Ibnu Sina yang merupakan filsuf dan ahli dalam kedokteran. Ibnu Sina juga
merupakan Bapak kedokteran Modern, Ibnu Khaldun seorang pakar ekonomi,
historiografi dan sosiologi, Al-Farabi yang mempunyai kontribusi besar pada
bidang matematika dan Farmasi.Pada zaman keemasan Islam tersebut para Sarjana
Muslim sebagai pelopor perkembangan ilmu dan teknologi dalam mengaplikasikan
ilmunya tidak terlepas dari peran agamanya yaitu Islam. Sebagai sumber utama
pengembangan ilmunya tentu saja kembali kepada Al-Quran dan Hadist Nabi.
Kemerosotan peradaban Islam di abad modern saat ini tentunya disebabkan umat
muslim sendiri telah melupakan epistomologi yang seharusnya diaplikasikan
secara islami. Padahal Allah telah berfirman : "Di antara manusia
ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan
dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat,
"(QS : AL HAJJ (HAJI) ayat 3) Bagaimanakah kita sebagai
umat Islam, sebagai intelektual muslim, sebagai sarjana dan calon-calon sarjana
muslim menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban modern saat ini
yang kadangkala jika disimak dan diamati banyak bertentangan dengan moral dan
akhlak kehidupan yang islami. Misalnya saja perkembangan teknologi nuklir yang
akhirnya digunakan untuk membunuh satu sama lain, penemuan farmasi yang
ternyata disalah gunakan untuk merusak generasi muda dengan "narkoba" dan
obat-obatan psikotropika, rekayasa genetika yang mungkin nantinya mengaburkan
silsilah keturunan. Alhasil memang peradaban modern yang tidak didampingi oleh
akhlak yang baik akan menuju kehancuran. Untuk itu para intelektual muslim
harus berani mendefenisikan kembali Epistomologi modern saat ini yang sudah
terjerumus ke dalam kesesatan.Ada baiknya kita berusaha kembali membawa
epistemologi menjadi epistemologi yang Islami. Epistemologi sendiri berarti, "Epistemologi, (dari bahasa
Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan)
adalah cabang filsafat
yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan.
Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam
bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana
karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan."� "Epistomologi atau Teori Pengetahuan
berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian,
dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan
yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia
melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode
induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode
dialektis"� Epistemologi harus
dikembalikan menjadi epistemologi yang Islami dalam arti mengedepankan 2 unsur
yang seimbang yaitu ilmu pengetahuan berdasar ayat-ayat yang bersifat
"Kauliyah"� atau Empirik termasuk didalamya rasio, panca indera dan intuisi
(hati), kedua, ayat-ayat "Kauniyah"� atau berdasarkan sumber-sumber formal Islam
seperti wahyu dalam Al-Quran yang menerangkan manusia tentang sesuatu bersifat
meta-empirik atau supra rasional dan Hadist Nabi. Kenyataan empirik mungkin
dapat dibuktikan dengan metodologi penelitian yang sudah berkembang saat ini,
tapi untuk ayat-ayat " Kauniyah"� maka hati atau intuisilah yang memegang
peranan dimana ketaqwaan dan keimanan seorang akan mempengaruhi hal tersebut,
Allah sendiri telah menyampaikan firmannya :
" Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah
tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan,
tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya,"� (QS : AL HAJJ
(HAJI) ayat 8) Peringatan Allah tersebut
ditujukan kepada orang-orang yang hanya menggunakan ayat-ayat Kauliyah atau
empirik saja tanpa ada pertanggungjawabannya terhadap sesuatu yang ghaib atau meta-empirik dalam hal ini
tentunya keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan mereka, sebagai yang Maha Tahu.
Para intelektual saat ini seakan-akan mulai terkena syndrome atheisme dimana
semua kepandaiannya dan kejeniusannya dalam penemuan-penemuan ilmu dan
teknologi karena hasil jerih payahnya sendiri dalam menggunakan akal dan panca
inderanya. Semoga kita semua dijauhi dari pengaruh dan sifat-sifat tersebut dan
sebagai intelektual muslim berupaya untuk mengembalikan epistemologi menjadi
epistemologi yang Islami diakhiri dengan doa, ""¦dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku
ilmu pengetahuan." (QS :THAAHAA
ayat 114)"� *) Oky Widyanarko, SE Pustakawan Universitas Surabaya
| ||
| Post Comment |
| Entry 1 of 9 |
| Last Page | Next Page |